Argumen Teleologi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam filsafat ketuhanan dikenal banyak argumen rasional untuk memperkuat keyakinan, mengapa orang percaya kepada Tuhan. Berbagai argumen ini jika berdiri sendiri akan segera terlihat sisi kekurangan atau kelemahannya, sehingga mereka yang tidak percaya kepada Tuhan (ateis) akan selalu berusaha mematahkan atau meremehkan keyakinan keagamaan melalui sisi lemahnya itu.

Namun jika sekian banyak argumen ketuhanan itu digabung menjadi satu, akan terlihat bahwa argumen tentang adanya Tuhan yang Hidup jauh lebih kuat ketimbang argumen yang dibangun kalangan ateisme atau antiteisme. Dari sekian banyak argumen itu salah satunya adalah argumen teleologi. Dalam bahasa Yunani, telos artinya tujuan akhir, bahwa semua yang hidup itu secara intrinsik selalu mengarah pada tujuan yang pasti (final cause).

Jadi, argumen teleologi tentang Tuhan merupakan bangunan pemikiran berdasarkan keteraturan dan kebertujuan kehidupan di alam semesta ini yang semuanya mengarah pada kondisi tertentu yang sudah final. Pemikiran ini mulai dikembangkan Plato dan Aristoteles, jauh sebelum Masehi. Konon ceritanya Aristoteles mengamati tanaman yang tumbuh di kebun.

Suatu hari dia mengumpulkan berbagai biji pohon, lalu dia sebar. Aristoteles terus mengamati pertumbuhan biji itu sampai jadi pohon. Suatu saat dia terhenyak berpikir, mengapa biji yang hampir serupa itu ketika tumbuh jadi pohon berbeda-beda batangnya, daunnya, bunganya, dan buahnya? Lalu siapa yang mengatur dan mengarahkan sehingga biji itu tumbuh mengarah pada bentuk yang sudah pasti? Semuanya terlihat memiliki arah dan tujuan masingmasing sesuai dengan potensi yang sudah terkandung di dalam biji.

Dari sini Aristoteles menerawang lebih luas lagi mengamati fenomena semesta.  Apakah semesta ini terjadi secara acak dan kebetulan ataukah ada kekuatan yang mengaturnya? Is there any Great Designer of the universe? Argumen teleologi ini sekarang semakin kuat ketika diarahkan untuk mengkaji keajaiban tubuh manusia. Para ahli biomolekuler menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat sejumlah 60 triliun–100 triliun sel. Di dalam otak saja terdapat sekitar 4 triliun sel.

Di dalam sel terdapat inti sel (nukleus), di dalam nukleus terdapat gen atau DNA (deoxyribo-nucleic acid). Yang sungguh membuat kagum para peneliti, triliunan sel itu memiliki pembagian tugas. Misalnya saja, ada sel yang membuat rambut. Tapi rambut pun dibagi lagi karena tubuh manusia memiliki beragam rambut. Lagi-lagi, subhanallah, sel-sel itu sudah tahu tugasnya, jenis rambut seperti apa dan berapa panjangnya yang mesti dia buat.

Bayangkan, betapa rumitnya organ manusia dan triliunan sel itu siap dengan tugas masing-masing. Jadi, setiap sel itu menyimpan informasi, mereka akan melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian dan mandat yang telah tertuliskan di dalam sel itu. Pertanyaan yang muncul, siapa yang mengatur triliunan sel itu dan siapa yang menyusun dan menuliskan informasi sebagai panduan tugasnya? Di sinilah teori evolusi Darwinian menjadi diragukan validitasnya.

Tanpa adanya The Great and Smart Designer tidak mungkin semuanya itu berlangsung dengan sendirinya. Sel-sel itu layaknya flashdisk atau thumbdrive komputer. Bayangkan saja, flashdisk dengan kekuatan seribu giga kalau saja penuh dengan informasi, jika dicetak akan melahirkan ribuan buku. Sementara flashdisk yang berisi dan yang kosong jika ditimbang beratnya sama.

Dengan demikian, informasi itu bersifat immateri, merupakan quantum energy, yang berada di luar jangkauan wilayah paham Darwinisme-materialisme. Meminjam istilah Bibel, semua realitas ini pada mulanya adalah firman. Idea dan informasi. Dalam diksi Alquran, semua wujud ini adalah firman “Kun! Jadilah!” Maka setelah melalui proses panjang menjadi “Fayakun, terwujudlah”.

Argumen teleologi ini sesungguhnya juga mirip dengan argumen kosmologi. Kosmos (kosmetik) artinya indah dan teratur, kebalikan dari chaos, disorder. Tanpa adanya pencipta, pengatur, dan pengendali, semesta ini tidak terwujud sedemikian indah dan teraturnya. Dalam skala kecil memang terjadi chaos. Tapi jika dikaji secara mendalam, semuanya itu terjadi dan berproses menurut kaidah dan hukum semesta yang berlaku.

Lalu, siapa yang mengendalikan perilaku semesta ini kalau bukan Yang Maha Kreatif, Maha Indah, dan Maha Pengatur? Demikianlah sekelumit tentang argumen teleologi. Tentu saja keyakinan dan iman kepada Tuhan tidak ditentukan oleh kedalaman sebuah argumen. Namun argumen berupa penalaran yang logis dan solid akan membantu kadar keimanan seseorang