MENULIS puisi bagi Anis Fuadah Z (30), dosen di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta, sudah menjadi rutinitas kesehariannya. Tanpa menulis puisi, kata dia, pikiran seakan jadi jumud dan jiwa terpenjarakan.

Karena itu pula, wanita kelahiran Blitar, Jawa Timur, ini, harus menulis meski hanya satu atau dua bait puisi. “Saya punya target menulis puisi sehari paling tidak dapat 10 judul,” tuturnya.

Konon, selama menulis puisi tersebut, Anis (demikian sapaan akrabnya, Red) tak memiliki tema tertentu. Artinya ia menulis apa saja yang ada dalam pikiran dan jiwanya. Namun, hampir semua puisi yang dirangkainya, merupakan refleksi diri dari realitas kehidupan yang dihadapinya. Ia berbicara tentang alam, tentang Tuhan, tentang manusia, dan bahkan tentang cinta.

Pengagum penyair sufi dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi, itu mengungkapkan, dirinya menulis puisi tidak memiliki waktu khusus.  Ia menulis kadang di jalan, di kampus, di rumah, bahkan di tempat-tempat yang sunyi sekalipun. Pinsipnya, di mana saja ada ruang kosong, di situ pula ia akan curahkan seluruh kegundahannya untuk menulis.

Bagi Anis, puisi adalah teman sejatinya. Tak ada teman yang mampu diajak bicara selain puisi itu sendiri. Puisi juga telah menjadi pengembaraan jiwanya, baik di kala suka maupun duka. Tanpa puisi dunia ini seakan kering dan tidak bermakna. Lebih dari itu, puisi bagi Anis ibarat sang kekasih, yang bukan sekadar soal cinta atau rasa, tetapi juga asa. Puisi tak semata bicara tentang keindahan semesta raya tetapi juga kekacauan manusia yang menghuninya.

Bertahun-tahun Anis berkontemplasi diri. Memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan kehidupan. Dari situ, ia kemudian mengekspresikan seluruh gejolak batinnya hanya lewat puisi. Ia sepertinya malas untuk berkata-kata. Dan puisi adalah satu-satunya sarana komunikasi paling efektif untuk mengekspresikan kegundahan batinnya tersebut.

“Sulit bai saya berbagi dengan orang lain, kecuali menuliskannya lewat puisi. Itu cara termudah berbicara,” cetusnya.

Sejak itu, Anis berusaha mengumpulkan dari seluruh karya yang dibuatnya itu. Setelah cukup banyak, ia lalu terbitkan dalam sebuah buku antologi puisi.

Kini, setidaknya sudah ada tiga buku antologi puisi karya Anis yang diterbitkan oleh penerbit Bening Pustaka, Yogyakarta. Ketiga judul buku antologi puisi itu adalah Gila 26 (2016), Puisi yang Aneh (2017), dan Februari 28 (2018).

“Saya kini sedang kembali menyusun puisi dan dipersiapkan untuk buku antologi puisi keempat,” ujar pemburu buku-buku novel itu.

Menurut Anis, karirnya sebagai dosen dan pegawai negeri sipil (PNS) tak membuatnya harus terjebak dalam rutinitas yang membelenggu imajinasi “liar”nya. Karena dalam angannya, ia ingin tetap konsisten menulis puisi meski kesibukan kerap datang mendera.

“Jika datang waktu senggang, di situlah saya memainkan jemari dan mulai menggoreskan kata-kata,” ungkapnya dengan nada puitis.

Anis Fuadah Z lahir di Blitar, 6 Juni 1988. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan PGMI di Sekolah Tinggi Agama Islam Diponegoro, Tulung Agung, Jawa Timur, tahun 2015. Selepas itu ia melanjutkan pendidikan S2 ke UIN Malang mengambil studi di jurusan yang sama hingga tamat tahun 2013.

Sejak tahun 2015 hingga sekarang, penyuka buah durian dan dukuh itu menjadi dosen tetap di PGMI FITK UIN Jakarta. Tahun 2017, ia menikah dengan Dr Badrus Sholeh, dosen Fakultas Sosial dan Ilmu Politik dan Direktur Eksekutif Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global UIN Jakarta. (ns)