Angsa Bertelur Emas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


ALKISAH,hiduplah seorang petani yang bernasib mujur.Di antara hewan-hewan piaraannya, ada seekor angsa yang bertelur emas.

Maka hewan-hewan lain seperti ayam,kambing dan beberapa angsa yang lain kurang diperhatikan sehingga kurus, bahkan ada yang mati.Yang paling dia perhatikan dan sayangi hanyalah seekor angsa yang bertelur emas. Angsa itu dibuatkan kandang khusus, dikasih makan dan dijaga ekstraketat. Petani tidak ingin tetangga tahu lantaran khawatir angsa itu dicuri.

Setiap pagi, petani tadi sudah menunggu dekat kandang untuk melihat dan memungut telur emas untuk dijual ke kota.Demikianlah,petani tadi hidupnya tergolong makmur, meski tidak bekerja.Dia merasa paling kaya di kampung itu.Gaya hidupnya telah berubah menjadi senang berfoyafoya.

Dia mulai kenal dan tergoda kehidupan kota yang konsumtif,meninggalkan pola hidupnya di kampung yang tenang dan serbasederhana. Kenikmatan hidup petani tadi terganggu ketika suatu pagi angsanya tidak bertelur.

Petani itu gelisah dan marah karena hari itu merasa kehilangan sebutir telur emas, sedangkan uang tabungannya sudah habis dibelanjakan.Dia lupa bahwa angsanya tidak bertelur karena kesalahannya sendiri.Angsa tidak bertelur karena kurang dirawat,kurang disayang, serta kurang diberi makan yang membuatnya sehat.

Setelah ditunggu sampai siang tidak juga bertelur, dia berharap besok paginya angsa akan bertelur emas sebagaimana biasanya.Ternyata, pagi hari berikutnya pun tidak bertelur.Dengan emosi dia sembelih angsa itu.

Dia belah perutnya dengan harapan akan menemukan telur di dalam perut angsa.Dia tetap tidak mendapati telur emas yang dia inginkan, sementara angsanya telah mati. Buyarlah harapan petani tadi dan akhirnya jatuh miskin. Hidup dirundung penyesalan dan duka.

Menyiapkan Generasi Emas

Ada tiga kesalahan fatal yang dilakukan petani tadi. Pertama, dia lupa diri sehingga jatuh pada kehidupan konsumtif. Dia melupakan watak aslinya.Kedua, dia lupa merawat dan menyayangi angsanya agar tumbuh sehat dan tetap produktif mempersembahkan telur emas.

Ketiga, dia lupa atau bodoh, bahwa telur emas itu merupakan produk dari sebuah proses, bukannya sudah tersimpan di dalam perut angsa. Makanya,ketika perut angsa dibedah, petani tidak menemukan telur emas, melainkan sekadar benih saja.

Angsa bertelur emas itu bisa saja dianalogikan dengan bumi pertiwi dengan alamnya yang sangat kaya. Beragam flora, fauna, dan sumber tambang mineral terhampar dan tersimpan dalam perut bumi. Belum lagi kekayaan yang ada di dalam lautan.

Tetapi kita malas, bodoh, serta tidak mampu merawat dan memprosesnya.Kita menyerahkannya kepada pemodal asing. Kita yang memiliki modal, namun orang lain yang kaya raya memperoleh nilai tambah yang berlipat ganda. Ibarat petani yang bodoh dan tamak, angsa itu kita sembelih, sehingga telur emasnya tidak lagi keluar.

Kekayaan alam yang demikian melimpah, dijual mentah dan gelondongan. Sumber minyak,kayu jati, kelapa sawit, dan batu bara, semuanya bukan dikelola dan diolah agar menghasilkan nilai tambah yang berlipat untuk produk ekspor dan kebutuhan domestik,melainkan dijual dan digadaikan mentah-mentah.

Sikap seperti ini yang tidak terjadi di Jepang,Korea, China, dan beberapa negara maju lain. Bangsa ini memiliki ribuan anak-anak cerdas, ratusan universitas, sumber daya alam yang melimpah,namun kita gagal mengelola aset bangsa. Yang akhir-akhir ini menonjol justru agenda membangun citra yang dilakukan oleh para politisi dan selebriti.

Mereka berupaya menarik simpati agar rating-nya tinggi, baik ketika pemilu maupun sewaktu tampil di televisi. Politisi dan artis logikanya sama, yaitu membangun citra dan merebut simpati lewat media massa.Keduanya haus panggung dan simpati massa, serta telah membuat dunia periklanan menjadi sangat penting.Padahal kita semua tahu, bahasa iklan selalu ada unsur manipulatif dan hiperbolik.

Data sementara menunjukkan, sarjana ilmu sosial di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang sarjana bidang teknik dan ilmu dasar. Riset dan survei politik juga lebih populer ketimbang penelitian dalam ilmu pengetahuan alam. Triliunan rupiah dibelanjakan untuk ongkos kampanye dan membangun citra diri demi meraih popularitas.

Kalau saja separuh uang itu disalurkan untuk riset bidang sains dan membangun lembaga pendidikan kelas dunia, kelak kita memiliki ribuan angsa bertelur emas.Akan lahir karya-karya besar anak bangsa yang mampu mengangkat harkat dan martabat Indonesia.

Jadi, salah satu agenda utama bangsa ini adalah mempersiapkan atau mencetak generasi emas. Itu memerlukan waktu minimal dua puluh tahun, mengingat generasi emas bukan produk instan.Menurut cerita, para pejabat tinggi di jajaran pemerintahan maupun lembaga bisnis Singapura maupun Korea adalah produk pendidikan yang secara sadar dirancang untuk menghasilkan generasi emas.

Mereka masih muda-muda, namun terampil dan memiliki integritas tinggi dalam menerima amanat jabatan. Sangat disayangkan, pendidikan kita tidak dirancang untuk menelurkan generasi emas yang andal untuk menerima estafet kepemimpinan bangsa dan negara.

Kalaupun terdapat beberapa kampus yang melahirkan sarjana berkualitas dan kompetitif, mereka tidak terserap dalam lembaga dan birokrasi pemerintah sebagai pilar utama untuk membangun bangsa, sehingga pihak swasta asing yang memanfaatkan.Terjadinya braindrain sesungguhnya tidak selalu negatif.

Banyak anak-anak pintar China yang merupakan ”generasi emas” belajar di luar negeri dan tidak pulang ke negeri asalnya, namun mereka tetap setia pada bangsanya. Bahkan mereka menjadi semacam duta bangsa dalam membangun jaringan keilmuan dan ekonomi. Kemiskinan dan kemandekan dalam menelurkan generasi emas juga sangat terlihat dalam tubuh partai politik.

Saat ini mereka bingung untuk mendapatkan calon legislatifyangandal, baiksecara intelektual maupun moral. Yang kemudian terjadi, parpol ramai-ramai membuka diri seakan membuka lapangan kerja atau semacam ”Indonesian Idol” mencari calon anggota DPR.

Parpol tak ubahnya kantor biro jasa penyalur ”tenaga kerja politik” yang kemudian berhak menarik komisi bagi mereka yang lolos seleksi dan kompetisi. Dalam sebuah negara yang sehat, setidaknya terdapat empat pilar yang tegak kokoh dan saling mendukung.

Kekuatan pasar, kekuatan politik, kekuatan birokrasi,dan kekuatan lembaga pendidikan. Masing-masing bekerja secara otonom,namun secara fungsional saling memperkokoh yang lain, bukannya menjegal dan mengooptasi. Dalam konteks ini peranan lembaga pendidikan merupakan tempat penyemaian dan penyalur ”generasi emas” pilar-pilar yang lain.

Jadi, mestinya dunia usaha, dunia politik, dan birokrasi memberi perhatian serius terhadap lembaga pendidikan, baik dana maupun kurikulum, karena merekalah yang akan menyuplai sumber daya manusia (SDM) untuk memperkuat pilar-pilar itu.

Namun sekali lagi,dalam proses dan kenyataan yang terjadi bangsa ini berjalan tanpa strategi pembangunan dan pendidikan yang terencana secara solid dan visioner. Semoga dengan penerapan anggaran pendidikan menjadi 20% APBN kita bisa merancang pendidikan untuk menelurkan generasi emas yang akan mengembalikan martabat bangsa dan negara.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 22 Agustus 2008

Angsa Bertelur Emas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


ALKISAH,hiduplah seorang petani yang bernasib mujur.Di antara hewan-hewan piaraannya, ada seekor angsa yang bertelur emas.

Maka hewan-hewan lain seperti ayam,kambing dan beberapa angsa yang lain kurang diperhatikan sehingga kurus, bahkan ada yang mati.Yang paling dia perhatikan dan sayangi hanyalah seekor angsa yang bertelur emas. Angsa itu dibuatkan kandang khusus, dikasih makan dan dijaga ekstraketat. Petani tidak ingin tetangga tahu lantaran khawatir angsa itu dicuri.

Setiap pagi, petani tadi sudah menunggu dekat kandang untuk melihat dan memungut telur emas untuk dijual ke kota.Demikianlah,petani tadi hidupnya tergolong makmur, meski tidak bekerja.Dia merasa paling kaya di kampung itu.Gaya hidupnya telah berubah menjadi senang berfoyafoya.

Dia mulai kenal dan tergoda kehidupan kota yang konsumtif,meninggalkan pola hidupnya di kampung yang tenang dan serbasederhana. Kenikmatan hidup petani tadi terganggu ketika suatu pagi angsanya tidak bertelur.

Petani itu gelisah dan marah karena hari itu merasa kehilangan sebutir telur emas, sedangkan uang tabungannya sudah habis dibelanjakan.Dia lupa bahwa angsanya tidak bertelur karena kesalahannya sendiri.Angsa tidak bertelur karena kurang dirawat,kurang disayang, serta kurang diberi makan yang membuatnya sehat.

Setelah ditunggu sampai siang tidak juga bertelur, dia berharap besok paginya angsa akan bertelur emas sebagaimana biasanya.Ternyata, pagi hari berikutnya pun tidak bertelur.Dengan emosi dia sembelih angsa itu.

Dia belah perutnya dengan harapan akan menemukan telur di dalam perut angsa.Dia tetap tidak mendapati telur emas yang dia inginkan, sementara angsanya telah mati. Buyarlah harapan petani tadi dan akhirnya jatuh miskin. Hidup dirundung penyesalan dan duka.

Menyiapkan Generasi Emas

Ada tiga kesalahan fatal yang dilakukan petani tadi. Pertama, dia lupa diri sehingga jatuh pada kehidupan konsumtif. Dia melupakan watak aslinya.Kedua, dia lupa merawat dan menyayangi angsanya agar tumbuh sehat dan tetap produktif mempersembahkan telur emas.

Ketiga, dia lupa atau bodoh, bahwa telur emas itu merupakan produk dari sebuah proses, bukannya sudah tersimpan di dalam perut angsa. Makanya,ketika perut angsa dibedah, petani tidak menemukan telur emas, melainkan sekadar benih saja.

Angsa bertelur emas itu bisa saja dianalogikan dengan bumi pertiwi dengan alamnya yang sangat kaya. Beragam flora, fauna, dan sumber tambang mineral terhampar dan tersimpan dalam perut bumi. Belum lagi kekayaan yang ada di dalam lautan.

Tetapi kita malas, bodoh, serta tidak mampu merawat dan memprosesnya.Kita menyerahkannya kepada pemodal asing. Kita yang memiliki modal, namun orang lain yang kaya raya memperoleh nilai tambah yang berlipat ganda. Ibarat petani yang bodoh dan tamak, angsa itu kita sembelih, sehingga telur emasnya tidak lagi keluar.

Kekayaan alam yang demikian melimpah, dijual mentah dan gelondongan. Sumber minyak,kayu jati, kelapa sawit, dan batu bara, semuanya bukan dikelola dan diolah agar menghasilkan nilai tambah yang berlipat untuk produk ekspor dan kebutuhan domestik,melainkan dijual dan digadaikan mentah-mentah.

Sikap seperti ini yang tidak terjadi di Jepang,Korea, China, dan beberapa negara maju lain. Bangsa ini memiliki ribuan anak-anak cerdas, ratusan universitas, sumber daya alam yang melimpah,namun kita gagal mengelola aset bangsa. Yang akhir-akhir ini menonjol justru agenda membangun citra yang dilakukan oleh para politisi dan selebriti.

Mereka berupaya menarik simpati agar rating-nya tinggi, baik ketika pemilu maupun sewaktu tampil di televisi. Politisi dan artis logikanya sama, yaitu membangun citra dan merebut simpati lewat media massa.Keduanya haus panggung dan simpati massa, serta telah membuat dunia periklanan menjadi sangat penting.Padahal kita semua tahu, bahasa iklan selalu ada unsur manipulatif dan hiperbolik.

Data sementara menunjukkan, sarjana ilmu sosial di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang sarjana bidang teknik dan ilmu dasar. Riset dan survei politik juga lebih populer ketimbang penelitian dalam ilmu pengetahuan alam. Triliunan rupiah dibelanjakan untuk ongkos kampanye dan membangun citra diri demi meraih popularitas.

Kalau saja separuh uang itu disalurkan untuk riset bidang sains dan membangun lembaga pendidikan kelas dunia, kelak kita memiliki ribuan angsa bertelur emas.Akan lahir karya-karya besar anak bangsa yang mampu mengangkat harkat dan martabat Indonesia.

Jadi, salah satu agenda utama bangsa ini adalah mempersiapkan atau mencetak generasi emas. Itu memerlukan waktu minimal dua puluh tahun, mengingat generasi emas bukan produk instan.Menurut cerita, para pejabat tinggi di jajaran pemerintahan maupun lembaga bisnis Singapura maupun Korea adalah produk pendidikan yang secara sadar dirancang untuk menghasilkan generasi emas.

Mereka masih muda-muda, namun terampil dan memiliki integritas tinggi dalam menerima amanat jabatan. Sangat disayangkan, pendidikan kita tidak dirancang untuk menelurkan generasi emas yang andal untuk menerima estafet kepemimpinan bangsa dan negara.

Kalaupun terdapat beberapa kampus yang melahirkan sarjana berkualitas dan kompetitif, mereka tidak terserap dalam lembaga dan birokrasi pemerintah sebagai pilar utama untuk membangun bangsa, sehingga pihak swasta asing yang memanfaatkan.Terjadinya braindrain sesungguhnya tidak selalu negatif.

Banyak anak-anak pintar China yang merupakan ”generasi emas” belajar di luar negeri dan tidak pulang ke negeri asalnya, namun mereka tetap setia pada bangsanya. Bahkan mereka menjadi semacam duta bangsa dalam membangun jaringan keilmuan dan ekonomi. Kemiskinan dan kemandekan dalam menelurkan generasi emas juga sangat terlihat dalam tubuh partai politik.

Saat ini mereka bingung untuk mendapatkan calon legislatifyangandal, baiksecara intelektual maupun moral. Yang kemudian terjadi, parpol ramai-ramai membuka diri seakan membuka lapangan kerja atau semacam ”Indonesian Idol” mencari calon anggota DPR.

Parpol tak ubahnya kantor biro jasa penyalur ”tenaga kerja politik” yang kemudian berhak menarik komisi bagi mereka yang lolos seleksi dan kompetisi. Dalam sebuah negara yang sehat, setidaknya terdapat empat pilar yang tegak kokoh dan saling mendukung.

Kekuatan pasar, kekuatan politik, kekuatan birokrasi,dan kekuatan lembaga pendidikan. Masing-masing bekerja secara otonom,namun secara fungsional saling memperkokoh yang lain, bukannya menjegal dan mengooptasi. Dalam konteks ini peranan lembaga pendidikan merupakan tempat penyemaian dan penyalur ”generasi emas” pilar-pilar yang lain.

Jadi, mestinya dunia usaha, dunia politik, dan birokrasi memberi perhatian serius terhadap lembaga pendidikan, baik dana maupun kurikulum, karena merekalah yang akan menyuplai sumber daya manusia (SDM) untuk memperkuat pilar-pilar itu.

Namun sekali lagi,dalam proses dan kenyataan yang terjadi bangsa ini berjalan tanpa strategi pembangunan dan pendidikan yang terencana secara solid dan visioner. Semoga dengan penerapan anggaran pendidikan menjadi 20% APBN kita bisa merancang pendidikan untuk menelurkan generasi emas yang akan mengembalikan martabat bangsa dan negara.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 22 Agustus 2008