Amsal Kukuhkan 1.378 Guru Agama Bersertifikasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online – Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof Dr Amsal Bahtiar mewakili Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengukuhkan 1.378 guru agama bersertifikasi dalam jabatan kuota tahun 2009 Propinsi DKI Jakarta di Auditorium Utama, Sabtu (23/1).  Pengukuhan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 704 Tahun 2009 tentang pendidik professional program sertifikasi guru agama/ bidang studi agama dalam jabatan kuota tahun 2009 Propinsi DKI Jakarta.

Untuk pendidik professional bidang studi agama Islam dan guru kelas pada RA, madrasah, dan pondok pesantren sebanyak 826 orang, RA 105 orang, madrasah ibtidaiyah 376 orang, madrasah tsanawiyah 274 orang, dan madrasah aliyah 71 orang. Sedangkan pendidik professional bidang studi pendidikan agama Islam pada sekolah sebanyak 552 orang, TK 1 orang, SD 240 orang, SMP 98 orang, SMA 56 orang, SMK 42 orang, dan pengawas 115 orang.

Dalam sambutannya Amsal mengatakan hal terpenting yang mesti diperhatikan guru setelah memperoleh sertifikasi bukan memikirkan bagaimana mendapatkan tunjangan/honornya naik, melainkan bagaimana meningkatkan kualitas diri dan spirit untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik di masa mendatang. “Tunjangan/kesejahteraan itu penting, tapi peningkatan kualitas diri dan spirit jauh lebih penting saat menjadi pendidik professional,” katanya.

Amsal menegaskan jika guru tak meningkatan kualitas dirinya maka visi pendidikan nasional 2025 yakni menghasilkan smart citizens dan competitive citizens tak akan tercapai. Selain itu, spirit tentu lebih langgeng daripada tunjangan/honor. Dia berharap para guru yang bersertifikasi dapat menjaga dan meningkatkan kualitas diri dan komitmennya sebagai pendidik professional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Dede Rosyada meminta para guru bersertifikasi mesti berbeda dengan guru yang tak bersertifikat. Guru professional dapat menunjukkan perform yang lebih baik dalam berbagai hal di antaranya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, datang ke sekolah/kelas tepat waktu, dan nilai KKM-nya meningkat.

“Kecapakan yang anda miliki harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sekolah masing-masing,”  pintanya. Menurut Dede modal mengajar seorang guru tak cukup hanya dari pengalaman tapi perlu membaca teori. Karena itu, Dede menganjurkan para guru agar setiap bulan menyisihkan gajinya untuk membeli buku-buku yang terkait keilmuan/kompetensinya.

Terkait visi pendidikan 2025, Dede mengatakan kurikulum yang digunakan tak ada lagi yang tak berdayaguna dan pokok bahasanya mesti sesuai konteks sosial masyarakat. “Tugas guru adalah mengantarkan anak didik untuk mencapai visi itu. Karena itu, guru saat mengajar bukan berdasarkan intuisi tapi by desain,” tegasnya. [Akhwani Subkhi]

Amsal Kukuhkan 1.378 Guru Agama Bersertifikasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online – Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof Dr Amsal Bahtiar mewakili Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengukuhkan 1.378 guru agama bersertifikasi dalam jabatan kuota tahun 2009 Propinsi DKI Jakarta di Auditorium Utama, Sabtu (23/1).  Pengukuhan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 704 Tahun 2009 tentang pendidik professional program sertifikasi guru agama/ bidang studi agama dalam jabatan kuota tahun 2009 Propinsi DKI Jakarta.

Untuk pendidik professional bidang studi agama Islam dan guru kelas pada RA, madrasah, dan pondok pesantren sebanyak 826 orang, RA 105 orang, madrasah ibtidaiyah 376 orang, madrasah tsanawiyah 274 orang, dan madrasah aliyah 71 orang. Sedangkan pendidik professional bidang studi pendidikan agama Islam pada sekolah sebanyak 552 orang, TK 1 orang, SD 240 orang, SMP 98 orang, SMA 56 orang, SMK 42 orang, dan pengawas 115 orang.

Dalam sambutannya Amsal mengatakan hal terpenting yang mesti diperhatikan guru setelah memperoleh sertifikasi bukan memikirkan bagaimana mendapatkan tunjangan/honornya naik, melainkan bagaimana meningkatkan kualitas diri dan spirit untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik di masa mendatang. “Tunjangan/kesejahteraan itu penting, tapi peningkatan kualitas diri dan spirit jauh lebih penting saat menjadi pendidik professional,” katanya.

Amsal menegaskan jika guru tak meningkatan kualitas dirinya maka visi pendidikan nasional 2025 yakni menghasilkan smart citizens dan competitive citizens tak akan tercapai. Selain itu, spirit tentu lebih langgeng daripada tunjangan/honor. Dia berharap para guru yang bersertifikasi dapat menjaga dan meningkatkan kualitas diri dan komitmennya sebagai pendidik professional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Dede Rosyada meminta para guru bersertifikasi mesti berbeda dengan guru yang tak bersertifikat. Guru professional dapat menunjukkan perform yang lebih baik dalam berbagai hal di antaranya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, datang ke sekolah/kelas tepat waktu, dan nilai KKM-nya meningkat.

“Kecapakan yang anda miliki harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sekolah masing-masing,”  pintanya. Menurut Dede modal mengajar seorang guru tak cukup hanya dari pengalaman tapi perlu membaca teori. Karena itu, Dede menganjurkan para guru agar setiap bulan menyisihkan gajinya untuk membeli buku-buku yang terkait keilmuan/kompetensinya.

Terkait visi pendidikan 2025, Dede mengatakan kurikulum yang digunakan tak ada lagi yang tak berdayaguna dan pokok bahasanya mesti sesuai konteks sosial masyarakat. “Tugas guru adalah mengantarkan anak didik untuk mencapai visi itu. Karena itu, guru saat mengajar bukan berdasarkan intuisi tapi by desain,” tegasnya. [Akhwani Subkhi]