Amrus Natalsya dan Bumi Tarung, Ungkap Konstalasi Senirupa dan Politik Era 1960-an

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriany

 

FUF,  UINJKT Online – Sejarah konstalasi senirupa dan politik era 1960-an berhasil diungkap melalui sebuah buku berjudul Amrus Natalsya dan Bumi Tarung karya Misbach Tamrin. Buku tersebut dibedah di UIN Jakarta oleh BEM Jurusan Sejarah Peradan Islam (SPI) dan Ikatan Mutakharrijien Madrasah Aliyah Negeri (IMMAN)  Cirebon di Teater Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), Rabu (19/11).

 

Terbitnya buku ini melengkapi catatan sejarah perjalanan seni rupa Indonesia dan memberikan gambaran setting sosial dan politik serta pengaruhnya terhadap perkembangan seni rupa di Yogyakarta pada dekade 1960-an.

 

Dalam buku itu dikisahkan, Amrus dengan Sanggar Bumi Tarungnya yang berjuang untuk mengubah penindasan pada saat itu. Bagi Amrus Perjuangan tidak harus dengan mengangkat senjata atau secara fisik, tapi dapat dengan menyuarakan keadilan dan kebenaran lewat realisme yang disebut sebagai realisme revolusioner. Tak heran jika mereka dituduh terlibat dalam G30S/PKI. Misbah dalam buku ini juga memaparkan sejarah keterlibatan politik Indonesia dengan  perkembangan seni rupa dan lukis di Indonesia.


”Lewat buku ini sejarah Indonesia tentang pertarungan Manikebu dan Lekra, perdebatan dikotomi antara paham ‘seni untuk rakyat’ Lekra dan ‘seni untuk seni’ Manikebu terungkap. Tapi buku ini lemah dan harus diedit lagi, sebab Amrus sekarang adalah orang yang liberal,” ujar Perupa dan Novelis Danarto yang menjadi pembicara. [Nif/Ed]

Amrus Natalsya dan Bumi Tarung, Ungkap Konstalasi Senirupa dan Politik Era 1960-an

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriany

 

FUF,  UINJKT Online – Sejarah konstalasi senirupa dan politik era 1960-an berhasil diungkap melalui sebuah buku berjudul Amrus Natalsya dan Bumi Tarung karya Misbach Tamrin. Buku tersebut dibedah di UIN Jakarta oleh BEM Jurusan Sejarah Peradan Islam (SPI) dan Ikatan Mutakharrijien Madrasah Aliyah Negeri (IMMAN)  Cirebon di Teater Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), Rabu (19/11).

 

Terbitnya buku ini melengkapi catatan sejarah perjalanan seni rupa Indonesia dan memberikan gambaran setting sosial dan politik serta pengaruhnya terhadap perkembangan seni rupa di Yogyakarta pada dekade 1960-an.

 

Dalam buku itu dikisahkan, Amrus dengan Sanggar Bumi Tarungnya yang berjuang untuk mengubah penindasan pada saat itu. Bagi Amrus Perjuangan tidak harus dengan mengangkat senjata atau secara fisik, tapi dapat dengan menyuarakan keadilan dan kebenaran lewat realisme yang disebut sebagai realisme revolusioner. Tak heran jika mereka dituduh terlibat dalam G30S/PKI. Misbah dalam buku ini juga memaparkan sejarah keterlibatan politik Indonesia dengan  perkembangan seni rupa dan lukis di Indonesia.


”Lewat buku ini sejarah Indonesia tentang pertarungan Manikebu dan Lekra, perdebatan dikotomi antara paham ‘seni untuk rakyat’ Lekra dan ‘seni untuk seni’ Manikebu terungkap. Tapi buku ini lemah dan harus diedit lagi, sebab Amrus sekarang adalah orang yang liberal,” ujar Perupa dan Novelis Danarto yang menjadi pembicara. [Nif/Ed]