Amina Wadud: Feminisme untuk Perbaiki Hubungan Laki-laki dan Perempuan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FUF, UINJKT Online Profesor Studi Islam Virginia Commonwealth University, Prof Dr Amina Wadud, mengatakan, gerakan feminisme dilakukan bukan untuk menyamakan wanita dan laki-laki tetapi untuk membuat hubungan keduanya menjadi lebih baik. 

“Dalam Islam sudah sangat jelas bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah ketakwaan mereka di depan Tuhan,” ujar wanita yang pernah menggemparkan dunia Islam karena menjadi imam shalat Jumat di Gereja Katedral, New York, pada 2005 lalu. 

Wadud mengatakan pendapatnya ini pada kuliah umum “Reading for Gender: al-Gazali and the Nature of the Person in Islamic Ethics” di Ruang Teater Fakultas Usuluddin dan Filsafat (FUF), Kamis (4/6). 

Wadud mengatakan, ia sangat prihatin dengan pendapat yang menyatakan bahwa wanita tidak sepenuhnya manusia. “Wanita memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai hal,” ujarnya. 

Menanggapi pengalamannya menjadi imam shalat jumat yang diikuti ma’mum laki-laki dan perempuan, Wadud mengatakan hal itu wajar dan tidak menyalahi ajaran Islam. “Selama ini wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki karena aspek fiqih dan budaya saja. Hal itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadis. Saya meyakini hal ini benar karena saya memandangnya dari perspektif tauhid bukan dari fiqih,” katanya menegaskan. []

Amina Wadud: Feminisme untuk Perbaiki Hubungan Laki-laki dan Perempuan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FUF, UINJKT Online Profesor Studi Islam Virginia Commonwealth University, Prof Dr Amina Wadud, mengatakan, gerakan feminisme dilakukan bukan untuk menyamakan wanita dan laki-laki tetapi untuk membuat hubungan keduanya menjadi lebih baik. 

“Dalam Islam sudah sangat jelas bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah ketakwaan mereka di depan Tuhan,” ujar wanita yang pernah menggemparkan dunia Islam karena menjadi imam shalat Jumat di Gereja Katedral, New York, pada 2005 lalu. 

Wadud mengatakan pendapatnya ini pada kuliah umum “Reading for Gender: al-Gazali and the Nature of the Person in Islamic Ethics” di Ruang Teater Fakultas Usuluddin dan Filsafat (FUF), Kamis (4/6). 

Wadud mengatakan, ia sangat prihatin dengan pendapat yang menyatakan bahwa wanita tidak sepenuhnya manusia. “Wanita memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai hal,” ujarnya. 

Menanggapi pengalamannya menjadi imam shalat jumat yang diikuti ma’mum laki-laki dan perempuan, Wadud mengatakan hal itu wajar dan tidak menyalahi ajaran Islam. “Selama ini wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki karena aspek fiqih dan budaya saja. Hal itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadis. Saya meyakini hal ini benar karena saya memandangnya dari perspektif tauhid bukan dari fiqih,” katanya menegaskan. []