Amin Nurdin: Ramadhan Bulan Introspeksi Diri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Jami’ah, UIN Online – Bulan Ramadhan adalah bulan introspeksi diri. Dalam bulan yang penuh berkah ini Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kualitas spiritualitasnya. Pada bulan ini pula kaum Muslim dapat berdamai dengan Allah setelah ’berperang’ pada bulan-bulan sebelumnya. Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Usuluddin dan Filsafat (FUF) Dr Amin Nurdin di Mesjid al-Jamiah, Rabu (2/9).

”Ibadah puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat privat yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan manusia yang menjalankan puasa tersebut. Oleh sebab itu, ibadah puasa sangatlah istimewa dibandingkan ibadah-ibadah lainnya,” kata Amin dalam ceramah Ramadah bertema ”Puasa dan Peningkatan Spiritual”.

Mantan Pembantu Dekan Bidang Akademik FUF ini juga mengutip hadis qudsi yang menyatakan, setiap amal ibadah lain pahalanya akan kembali pada manusia yang melakukannya. Namun ibadah puasa dilakukan khusus hanya untuk Allah. ”Puasa hanya untuk Saya dan Saya akan memberikan garansi pahala pada yang berpuasa,” katanya mengutip hadis qudsi tersebut.

”Intropeksi diri ditujukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Namun karena Allah Maha Suci, maka untuk bisa dekat kepada-Nya, kita harus mensucikan diri kita terlebih dahulu,” ujarnya.

Untuk mencapai kesucian tersebut, Amin menambahkan, terdapat tiga maqam yang harus dilewati. Maqam-maqam tersebut adalah taubat yakni mensucikan diri, dengan mamohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan dan berniat tidak mengulanginya lagi.

Maqam kedua adalah magfirah yakni mengekspresikan itu dengan pikiran dan tingkah laku. Dan yang terakhir adalah ridho yakni menghadirkan Tuhan dalam diri kita, merefleksikan sifat Tuhan dalam tingkah laku, gerak gerik dan keseharian kita.

”Selain itu, tujuan puasa juga untuk menjadikan manusia lebih bertaqwa yakni mampu membedakan mana yang baik, buruk, yang hak dan yang batil,” katanya.[]

Amin Nurdin: Ramadhan Bulan Introspeksi Diri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Jami’ah, UIN Online – Bulan Ramadhan adalah bulan introspeksi diri. Dalam bulan yang penuh berkah ini Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kualitas spiritualitasnya. Pada bulan ini pula kaum Muslim dapat berdamai dengan Allah setelah ’berperang’ pada bulan-bulan sebelumnya. Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Usuluddin dan Filsafat (FUF) Dr Amin Nurdin di Mesjid al-Jamiah, Rabu (2/9).

”Ibadah puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat privat yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan manusia yang menjalankan puasa tersebut. Oleh sebab itu, ibadah puasa sangatlah istimewa dibandingkan ibadah-ibadah lainnya,” kata Amin dalam ceramah Ramadah bertema ”Puasa dan Peningkatan Spiritual”.

Mantan Pembantu Dekan Bidang Akademik FUF ini juga mengutip hadis qudsi yang menyatakan, setiap amal ibadah lain pahalanya akan kembali pada manusia yang melakukannya. Namun ibadah puasa dilakukan khusus hanya untuk Allah. ”Puasa hanya untuk Saya dan Saya akan memberikan garansi pahala pada yang berpuasa,” katanya mengutip hadis qudsi tersebut.

”Intropeksi diri ditujukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Namun karena Allah Maha Suci, maka untuk bisa dekat kepada-Nya, kita harus mensucikan diri kita terlebih dahulu,” ujarnya.

Untuk mencapai kesucian tersebut, Amin menambahkan, terdapat tiga maqam yang harus dilewati. Maqam-maqam tersebut adalah taubat yakni mensucikan diri, dengan mamohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan dan berniat tidak mengulanginya lagi.

Maqam kedua adalah magfirah yakni mengekspresikan itu dengan pikiran dan tingkah laku. Dan yang terakhir adalah ridho yakni menghadirkan Tuhan dalam diri kita, merefleksikan sifat Tuhan dalam tingkah laku, gerak gerik dan keseharian kita.

”Selain itu, tujuan puasa juga untuk menjadikan manusia lebih bertaqwa yakni mampu membedakan mana yang baik, buruk, yang hak dan yang batil,” katanya.[]