Jakarta, BERITA UIN Online—Dewan Penasihat Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IKALUIN) Andi Mappetahang Fatwa atau lebih dikenal A.M. Fatwa  meninggal dunia pada hari ini, Kamis 14/12/2017 di Metropolitan Medical Center (MMC), Kuningan, Jakarta Selatan. Wafatnya aktivis kelahiran  Bone, Sulawesi Selatan, tahun 1939 lalu ini menghadirkan rasa kehilangan di banyak kalangan nasional, melainkan juga sivitas akademi UIN Jakarta.

Kabar wafat AM Fatwa sendiri disampaikan langsung anaknya, Dian Islamiaty Fatwa, seperti dikutip berbagai media, Kamis (14/12/2017). “Telah meninggal dunia ayahanda AM Fatwa pukul 06.25 WIB di Rumah Sakit MMC. Mohon dibukakan pintu maaf dan mudah-mudahan Ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Dian.

Dian menuturkan, almarhum Fatwa meninggal dunia setelah dirawat beberapa saat akibat sakit yang dideritanya. Setelah disemayamkan Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI –tempat sehari-harinya sebelum meninggal dunia—, almarhum dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, mengingat almarhum merupakan penerima Bintang Mahaputra Adipradana di era Presiden Susilo  Bambang Yudhoyono.

Meninggalnya Fatwa tak ayal menyisakan rasa kehilangan mendalam bagi para tokoh lokal nasional, partai politik, birokrasi, termasuk para akademisi kampus yang pernah menjadi rekan sejawat, kader, dan mahasiswanya. Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada MA, misalnya, mengaku wafatnya Fatwa merupakan kehilangan besar sivitas akademi UIN Jakarta.

“Almarhum adalah figur intelektual Ciputat yang berkiprah langsung sebagai aktivis dengan integritas yang tak bisa ditawar. Sebagian besar hidupnya diisi dengan perlawanan atas berbagai bentuk ketidakadilan, kendati ia sendiri harus menanggung resikonya. Karena itu, almarhum merupakan figur yang sangat layak untuk ditauladani,” katanya.

Anggota IKALUIN yang kini menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Dr. TB Ace Hasan Syadzili juga mengaku kehilangan atas wafatnya Fatwa. “Kami sangat berduka atas wafatnya Dr (HC) AM Fatwa. Beliau adalah politisi pejuang yang sangat konsisten, tegas, dan berkarakter. Kita kehilangan sosok yang dapat dijadikan teladan bagi politisi muda,” ujarnya.

Ace memiliki kenangan sendiri dengan almarhum AM Fatwa. Saat masih mahasiswa UIN Jakarta (dulu IAIN Jakarta) dan memimpin gerakan Mahasiswa 1998 dari UIN Ciputat, AM Fatwa selalu memberikan semangat dan motivasi agar perjuangan menjatuhkan pemerintahan Orde Baru semata-mata untuk perbaikan bangsa menuju pemerintah yang demokratis.

Dr. A. Bakir Ihsan, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta menuturkan, dirinya mulai mengenal dekat AM Fatwa setelah keluarnya almarhum dari tahanan Orde Baru 1993. Dari pembacaan dan diskusi langsung, Bakir menilai Fatwa merupakan sosok pejuang yang gigih tak kenal lelah dengan tetap menjaga silaturahim bahkan dengan orang yang menzhaliminya. “Semoga Allah memudahkan jalan menuju surga-Nya,” pungkasnya.

Di kalangan aktivis, Fatwa memang dikenal sebagai kritikus lintas rezim. Saat terjadi peristiwa Tanjung Priok 1984, AM Fatwa bersama kelompok kerja Petisi 50 mencoba membuat Lembaran Putih peristiwa yang terjadi pada 12 September 1984 di Tanjung Priok. Lembaran ini mencoba mengungkapkan kesewenang-wenangan aparat pemerintahan Orde Baru.

Namun, inisiatif almarhum justru menyeretnya ke pengadilan. Pada persidangan di PN Jakarta Pusat, AM Fatwa ditangkap dan dipenjarakan atas tuduhan subversif. Ia didakwa melanggar Undang-Undang Nomor II/PNPS/1963 karena telah memutarbalikkan, merongrong, dan menyelewengkan ideologi Pancasila atau haluan negara, merusak kewibawaan pemerintah yang sah, atau menyebarkan rasa perpecahan dan permusuhan di kalangan masyarakat.

Jauh sebelum peristiwa Tanjung Priok 1984, Fatwa pernah mendekam di penjara akibat kritik tajam yang disampaikannya. Catatan wartawan Republika Muhammad Subarkah (lihat Berpulangnya AM Fatwa, Sang Kritikus Lintas Rezim, Republika 15 Desember 2017) mencatat, almarhum Fatwa pernah ditahan tahun 1963 menyusul kritik kerasnya terhadap salah satu menteri di era Orde Lama.

Di lingkungan UIN Jakarta sendiri, Fatwa merupakan sosok yang sangat dikenal dekat. Sebab, sendiri menempuh pendidikan di IAIN Jakarta Fakultas Ushuluddin dan Dakwah pada tahun (1960-1965). Selama kuliah, Fatwa pernah dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin/Dakwah dan Anggota Dewan Mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1963 – 1964).

Semasa hidupnya, Fatwa meniti karir dengan terlebih dulu menjadi Imam Tentara, Wakil Kepala Dinas Rohani Islam KKO-AL (Marinir) Komando Wilayah Timur di Surabaya, 1967-1970, Kepala Sub Direktorat Pembinaan Masyarakat Direktorat Politik Pemda DKI Jakarta/Staf Khusus untuk masalah-masalah agama dan politik Gubernur Ali Sadikin, 1970-1979.

Selanjutnya, sejak 1996-1998, Fatwa dipercaya menjadi Staf Khusus Menteri Agama Tarmizi Taher. Tidak berhenti di situ, Fatwa melenggang ke senayan dan ditunjuk menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 1999-2004 sebelum kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI periode 2004-2009.

Setelah itu, Fatwa melenggang menjadi Anggota DPD RI mewakili DKI Jakarta periode 2009-2014. Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Kehormatan DPD RI periode 2012-2017.

Selain aktif dalam dunia pergerakan, Fatwa adalah penulis prolifik. Beberapa karya tulisnya yaitu Dulu Demi Revolusi, Kini Demi Pembangunan (1985), Demi Sebuah Rezim, Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili (1986, cetakan kedua 2000), Saya Menghayati dan Mengamalkan Pancasila Justru Saya Seorang Muslim (1994), Islam dan Negara (1955), Menggugat dari Balik Penjara (1999), Dari Mimbar ke Penjara (1999), Satu Islam Multipartai (2000), Demokrasi Teistis (2001), Otonomi Daerah dan Demokratisasi Bangsa (2003), Kampanye Partai Politik di Kampus (2003), PAN Mengangkat Harkat dan Martabat Bangsa (2003), Dari Cipinang ke Senayan (2003), dan Catatan dari Senayan (2004).

Kendati telah tampil sebagai tokoh nasional, namun Fatwa tidak pernah lepas dari UIN Jakarta. Beberapa kali ia datang dan hadir dalam berbagai forum akademik dan alumni UIN Jakarta. Bahkan ia bersedia menjadi Dewan Penasihat Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IKALUIN).  Tak berhenti di situ, Fatwa juga ikut turun tangan dalam penataanulang manajemen aset Kementerian Agama RI cq UIN Jakarta yang dikuasai pihak ketiga. (farah nh/zuhrotul uyun/zm)