KETIKA Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab dalam kondisi jahiliah. Sistem teologi (akidah) dan sistem moralnya (akhlak) rusak. Kebiadaban, kekerasan, konglomerasi, dan perbudakan merajalela. Budaya korupsi (maling), mengonsumsi miras, narkoba (madat), berjudi, dan prostitusi sudah mendarah daging. Dengan kata lain, kebobrokan sistem sosial politik ketika Alquran diturunkan (Nuzul Alquran) nyaris sempurna.

Mengapa masyarakat Arab kemudian berubah dari berakidah syirik menjadi beriman dan bertauhid kepada Allah SWT? Mengapa mereka bisa berubah dari masyarakat biadab menjadi berperadaban dan berkeadaban? Apa yang menjadi faktor pemicu dan pemacu transformasi mereka? Jawabannya satu: Nuzul Alquran (turunnya Alquran) dari Sang Maha Pencipta kehidupan kepada Rasul Teladan. Pesan-pesan perubahan dalam Alquran disampaikan dan diteladani Rasulullah SAW dengan akhlak dan budi pekertinya yang agung.

Menyentuh Hati

Masyarakat Arab yang dikenal keras kepala, kasar, dan sulit berubah ternyata bisa luluh dan bergetar hatinya ketika menyimak keindahan dan kebenaran ayat-ayat Alquran. Semula mayoritas mereka menolak kenabian Muhammad SAW berikut pesan-pesan Alquran yang disampaikannya. Namun, perlahan tapi pasti, dengan ketulusan dan kelembutan hati Nabi SAW, pesan moral Alquran itu menyentuh hati.

Alkisah, sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab itu dikenal sangat kejam dan keras penentangannya terhadap Islam, Nabi SAW, dan para sahabatnya. Pada suatu hari, dengan pedang terhunus, Umar bermaksud menemui Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang sedang berkumpul di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, dekat bukit Shafa.

Dalam perjalanan menuju rumah tersebut, Umar bertemu dengan Nuaim bin Abdillah. “Hendak ke mana engkau, Umar?” tanya Nuaim. “Saya mau menemui Muhammad. Dia telah memecah belah urusan Quraisy, menghina agamanya dan mencaci maki tuhannya. Karena itu, aku akan membunuh dia,” jawab Umar.

Nuaim kemudian berkata: “Demi Allah, engkau telah terpedaya oleh hawa nafsumu, wahai Umar. Mengapa engkau tidak mengurusi keluargamu sendiri?” “Keluargaku yang mana?” Umar bertanya balik. “Sepupumu, Said bin Zaid dan adik perempuanmu, Fatimah binti al-Khattab telah masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Sebaiknya engkau urusi keduanya.”

Umar kemudian urung menemui Muhammad, lalu menemui adiknya. Di dekatnya ada Khubab ibn al-Art yang membawa lembaran mushaf bertuliskan awal Surah Thaha. Umar sempat mendengar beberapa ayat di awal surat Thaha yang dibacakan Khubab. Ketika masuk rumah adiknya, Umar berkata: “Aku mendengar kalian telah menjadi pengikut agama Muhammad.” “Ya, benar kami telah masuk Islam. Kami telah beriman  kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar jawaban itu, Umar langsung naik pitam dan memukul sepupunya hingga berdarah. Umar hendak mengambil paksa lembaran mushaf, tetapi adiknya enggan menyerahkan kepadanya, karena Umar masih najis dan belum bersuci. Setelah mandi, Umar baru dibolehkan memegang dan membaca lembaran mushaf itu. Ketika membacanya, Umar berkata: “Alangkah indahnya kalimat ini. Tunjukkan di mana sekarang Muhammad berada? Aku akan menemuinya dan menyatakan dua kalimat syahadat di hadapannya.”

 “Thaha. Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS Thaha [20]: 1-5).

Inilah beberapa ayat super puitis yang menyentuh dan melembutkan hati Umar. Alquran itu diturunkan bukan untuk menyusahkan umat manusia, melainkan menjadi peringatan, petunjuk jalan perubahan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (QS al-Baqarah [2]: 201)

Mindset Perubahan

Kisah masuk Islamnya Umar tersebut menunjukkan bahwa betapa hati yang keras dan kasar bisa dijinakkan dengan pesan damai dan menyentuh hati dari Alquran. Pesan perubahan yang dihadirkan Alquran sungguh sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan tuntutan kehidupan. Alquran membumi dengan visi dan misi perubahan sosial. Bagaimana Alquran turun dengan agenda perubahan sosial pada masyarakat yang sudah sedemikian rusak?

Fungsi-fungsi Alquran sebagai petunjuk (huda), pembeda antara kebenaran dan kebatilan (furqan), solusi, dan terapi penyakit kemanusiaan (syifa), cahaya, inspirasi kehidupan (nur), dan rahmat bagi seluruh umat manusia (rahmah) diaplikasikan melalui proses pendidikan sosial berbasis tauhid dan keteladanan. Alquran dibaca untuk membentuk mindset perubahan, bukan sekadar dibaca verbal tanpa penghayatan dan pemaknaan.

Penghayatan dan pemaknaan pesan-pesan Alquran tidak bisa dilakukan secara instan. Mindset perubahan perlu dibentuk secara terstruktur dan bersifat gradual melalui gerakan membaca Alquran. Mulai belajar melafalkan ayat-ayatnya, menghafal, mengkaji isi kandungannya, hingga mengamalkan pesan moral dalam kehidupan.

Gerakan literasi Alquran berupa: mempelajari, menghafal, mengamalkan, dan mengajarkan Alquran merupakan pesan kenabian yang idealnya menjadi komitmen bersama. Agar nilai praksis Alquran membumi dan menginspirasi kemajuan peradaban umat dan bangsa.
Selain itu, Alquran akan menjadi sumber daya nilai dan inspirasi perabadan jika dikontekstualisasikan dengan perubahan zaman dan diintegrasikan dengan ayat-ayat semesta raya (kauniyyah). Jika Fazlurrahman menawarkan teori gerak ganda (double movement) dalam memaknai Alquran, yaitu dengan merujuk konteks sosio-historis turunnya, dan membaca spirit zaman kekinian. Maka, idealnya pesan-pesan moral dan spiritual Alquran menjadi penggerak dan pemandu perubahan sosial, perbaikan sistem kehidupan yang berkeadaban. Karena esensi moralitas (akhlak) Nabi SAW ialah Alquran.

Akan tetapi, budaya literasi Alquran di kalangan umat Islam pada umumnya baru sebatas membaca verbal dan sebatas diniati untuk mendapat pahala akhirat. Literasi Alquran belum diorientasikan untuk agenda perubahan sosial ekonomi, politik, hukum, budaya, dan sebagainya. Bahkan boleh jadi, Alquran cenderung diabaikan, masih sebatas menjadi hiasan almari dan dijadikan sebagai maskawin.

Pengabaian literasi Alquran secara tekstual dan kontekstual tampaknya sudah terjadi di masa kenabian. “Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini diabaikan.” (QS Al-Furqan [25]:30).
Karena itu, umat Islam semestinya memberi perhatian serius terhadap pesan-pesan mulia Alquran agar tidak terjadi pengabaian dan penelantaran. Gerakan literasi Alquran harus menjadi komitmen semua untuk mengubah mindset bahwa Alquran turun untuk perubahan menuju masyarakat maju, damai, harmoni, dan penuh toleransi yang berperadaban dan berkeadaban. (mf)

Muhbib A Wahab (Kaprodi Magister PBA FITK UIN Jakarta)