Ali Sakti: Jadikan ACFTA sebagai Tantangan Ekonomi Syariah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Gedung FSH, UIN Online
-  Pengamat Ekonomi Syariah Ali Sakti M.Ec mengatakan, perdagangan bebas Indonesia dengan China yang tertuang dalam ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) hendaknya  tidak dipandang sebagai kesalahan, tapi sebagai tantangan untuk  memperkuat sistem ekonomi syariah di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ali dalam Seminar Ekonomi Islam bertema “Mengkaji Peran Ekonomi Islam dalam Merekonstruksi Perekonomian Islam terkait ACFTA”  yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Zakat, Ifak, Shadaqah, dan Wakaf (Ziswaf) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid dan Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FOSSEI) di Ruang Teater lantai 2, FSH, Sabtu (12/6).

Ali menegaskan, masyarakat Indonesia harus menghapus pandangan yang selama ini berkembang bahwa ACFTA menyebabkan    produk Indonesia kalah bersaing dengan produk China sekaligus menjadi “bencana”  bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jangan menyalahkan ACFTA, tetapi jadikan ACFTA sebagai tantangan untuk semakin menegakkan prinsip ekonomi syariah di Indonesia,” kata Ali yang saat ini menjabat sebagai Junior Researcher Bank Indonesia.

Ia menambahkan, prinsip ekonomi syariah yang berdasarkan rujukan Al-Qur’an dan Sunnah menuntut masyarakat ke arah pelaksanaan ekonomi yang membawa kemaslahatan, karena ekonomi syariah mengharamkan prinsip riba dan bunga dalam penerapannya. Hal itu bisa dijadikan kekuatan dalam menghadapi ACFTA.

“Apalagi saat ini kita melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin bagus berkatberkembangnya praktek ekonomi syariah di Indonesia, tahun 2009 misalnya, Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia meningkat  4,5 persen dari yang ditargetkan yaitu 3,5 persen ,” terangnya.

Pada tahun ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,5 persen dan berharap sistem ekonomi syariah semakin  berkembang pesat dalam menghadapi tantangan ACFTA.
“Ekonomi Islam bukan ekonomi biasa, ACFTA siapa takut! Mari kuatkan prinsip syariah dalam berbagai aspek kehidupan,” paparnya.

Di akhir acara, panitia menggelar lomba puisi dan penggalangan dana solidaritas untuk Palestina.

Ali Sakti: Jadikan ACFTA sebagai Tantangan Ekonomi Syariah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Gedung FSH, UIN Online
-  Pengamat Ekonomi Syariah Ali Sakti M.Ec mengatakan, perdagangan bebas Indonesia dengan China yang tertuang dalam ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) hendaknya  tidak dipandang sebagai kesalahan, tapi sebagai tantangan untuk  memperkuat sistem ekonomi syariah di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ali dalam Seminar Ekonomi Islam bertema “Mengkaji Peran Ekonomi Islam dalam Merekonstruksi Perekonomian Islam terkait ACFTA”  yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Zakat, Ifak, Shadaqah, dan Wakaf (Ziswaf) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid dan Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FOSSEI) di Ruang Teater lantai 2, FSH, Sabtu (12/6).

Ali menegaskan, masyarakat Indonesia harus menghapus pandangan yang selama ini berkembang bahwa ACFTA menyebabkan    produk Indonesia kalah bersaing dengan produk China sekaligus menjadi “bencana”  bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jangan menyalahkan ACFTA, tetapi jadikan ACFTA sebagai tantangan untuk semakin menegakkan prinsip ekonomi syariah di Indonesia,” kata Ali yang saat ini menjabat sebagai Junior Researcher Bank Indonesia.

Ia menambahkan, prinsip ekonomi syariah yang berdasarkan rujukan Al-Qur’an dan Sunnah menuntut masyarakat ke arah pelaksanaan ekonomi yang membawa kemaslahatan, karena ekonomi syariah mengharamkan prinsip riba dan bunga dalam penerapannya. Hal itu bisa dijadikan kekuatan dalam menghadapi ACFTA.

“Apalagi saat ini kita melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin bagus berkatberkembangnya praktek ekonomi syariah di Indonesia, tahun 2009 misalnya, Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia meningkat  4,5 persen dari yang ditargetkan yaitu 3,5 persen ,” terangnya.

Pada tahun ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,5 persen dan berharap sistem ekonomi syariah semakin  berkembang pesat dalam menghadapi tantangan ACFTA.
“Ekonomi Islam bukan ekonomi biasa, ACFTA siapa takut! Mari kuatkan prinsip syariah dalam berbagai aspek kehidupan,” paparnya.

Di akhir acara, panitia menggelar lomba puisi dan penggalangan dana solidaritas untuk Palestina.