Alhamdulillah Ramadan Lagi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

SELALU muncul kegembiraan—hati serasa berbunga-bunga— setiap menjelang kehadiran bulan suci Ramadan. Tiba-tiba muncul bayangan dan kenangan suasana Ramadan yang lalu.

Meski sudah setahun lewat, rasanya Ramadan tahun lalu baru kemarin. Jarak waktu menjadi hilang ketika bentangan waktu antara dua Ramadan disambung dengan kegembiraan dan kenangan yang begitu indah,agung,dan anggun. Kini datang lagi Ramadan.

Rekaman dan kenangan indah muncul kembali,dan semua itu ingin diulang dan dirayakan dalam suasana hati yang damai. Memasuki Ramadan bagaikan melangkah menuju oase penyejuk dahaga dan tempat istirahat setelah terkurung dalam hiruk-pikuk dan keluh kesal melihat kehidupan sosial politik yang kurang menjanjikan bagi hari esok.

Memasuki Ramadan bagaikan menyelam dalam kolam perdamaian dan penyucian diri. Kita merasa antusias dan bangga menemukan kembali kefitrian dan jati diri yang senantiasa damba pada kebaikan,kebenaran, dan suasana intim dengan Tuhan Sang Pencipta.

Di luar Ramadan kita merasa tak berdaya menghadapi godaan dan gempuran bertubi-tubi kekuatan negatif yang merongrong bangunan kefitrian diri.Padahal,semestinya justru di luar Ramadan itu puasa sejati diuji,terutama puasa sosial. Menjalani puasa Ramadan terasa ringan karena banyak faktor yang mendukung.

Pertama, secara sosialpsikologis selama Ramadan lingkungannya turut membantu. Siapa yang tidak puasa dianggap menyimpang dalam kultur Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Dengan demikian, dorongan untuk tidak puasa terasa kecil.

Kedua, secara teologis puasa Ramadan diyakini sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam sehingga ada dorongan batin yang kuat sebagai bukti ketaatan pada perintah Allah.

Ketiga, Ramadan mendatangkan aura spiritual dan kedamaian dan itu hanya bisa diraih kalau seseorang partisipasi di dalamnya dengan menjalani puasa secara benar.

Keempat,semakin banyak penjelasan ilmiah seputar keutamaan berpuasa,baik secara medis maupun psikologis, sehingga seseorang menjalani puasa tidak semata demi melaksanakan perintah agama, melainkan ada alasan dan dorongan rasional.

Kelima, selama Ramadan ada peristiwa-peristiwa atau aktivitas yang sangat mengesankan, semisal betapa nikmatnya berbuka puasa bersama keluarga atau temanteman yang hal itu selalu ingin ditemukan kembali. Dalam situasi sosial-politik yang semakin panas,kebersamaan dan keintiman bersama keluarga dan sejawat dalam suasana religius akan terasa sangat indah dan mahal.

Keenam, yakin bahwa Allah membuka lebar-lebar pintu rahmat,pahala,dan ampunan dalam bulan Ramadan sehingga akan sangat merugi siapa yang tidak menjawab tawaran kebaikan Allah dengan jalan melaksanakan puasa dan memperbanyak amal saleh lain selama bulan suci ini.

Ketujuh, bulan Ramadan juga sering diposisikan dan dihayati sebagai bulan pesantren ilmiah-ruhaniah. Berbagai mimbar dialog agama bermunculan, baik di kantor, siaran radio,televisi,maupun media lain.Banyak kalangan eksekutif secara sadar dan terencana mendalami ilmu agama selama bulan ini sehingga mereka menamakannya sebagai semester pendek. Perhatikan saja beragam judul buku tentang keagamaan mudah ditemukan di toko buku bergengsi di seantero Tanah Air selama Ramadan. Anak-anak pun mengadakan pesantren kilat.

Kedelapan, suasana keakraban dan edukatif juga sangat kental dalam kehidupan keluarga. Orangtua memiliki kesempatan untuk melakukan pendidikan moralspiritual lebih efektif di bulan ini.Tetapi itu semua memerlukan pemahaman dan metode yang tepat bagi orangtua dalam menjelaskan dan memaknai hikmah puasa bagi anak-anaknya. Janganlah puasa berlalu tanpa disertasi upaya edukasi bagi anak-anak kita.

Kesembilan, kehadiran Ramadan, khususnya bagi generasi tua,selalu menimbulkan kesadaran akan terbatasnya usia dan minimnya tabungan amal kebajikan. Sangat berbeda dengan peristiwa tahun baru yang hanya semalam, tonggak-tonggak perjalanan hidup seorang muslim ditandai oleh lorong waktu selama sebulan lalu ditutup dengan Idul Fitri.Tonggak ini terasa begitu dalam menghunjam sampai sanubari sehingga bulan Ramadan juga mendorong seseorang untuk introspeksi, lebih melihat ke dalam diri (inner journey), bukannya terpaku pada dunia luar yang bersifat materifisikal.

Demikianlah, masih banyak aspek-aspek emosionalspiritual Ramadan yang kehadirannya selalu menyergap dan membangunkan kesadaran batin serta menginterupsi hegemoni rutinitas fisik, lalu kita diajak memasuki ruang batin yang tak bertepi yang menawarkan keutamaan seribu bulan. Bagi mereka yang masa kanakkanaknya dihabiskan di kampung, Ramadan selalu mengingatkan kembali suasana desa sewaktu anak-anak dulu.

Sebuah kehidupan sosial keagamaan yang damai dan jika malam hari anak-anak turut memeriahkan suasana masjid dan musala. Di desa, masjid menjadi pusat berkumpulnya anakanak untuk bermain sambil menunggu datangnya magrib. Masjid bukan saja tempat salat dan mengaji,melainkan juga tempat bersosialisasi dengan teman sebaya.

Di masjid, anak-anak itu bertukar cerita seputar dunia mereka. Dan semua rekaman dan kenangan itu muncul dalam kesadaran batin ketika Ramadan tiba. Alhamdulillah, Ramadan sudah di ambang pintu, menyapa dan memeluk kita semua.Kita bertemu kembali dengan tamu agung yang membawa berkah ilahi. Selamat datang Ramadan. Semoga kami bisa menyiapkan hati, pikiran, dan fisik untuk menerima piala keutamaan seribu bulan yang engkau usung dari langit suci.*

Artikel ini pernah dimuat di HU Seputar Indonesia, 29 Agustus 2008

 

 

Alhamdulillah Ramadan Lagi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

SELALU muncul kegembiraan—hati serasa berbunga-bunga— setiap menjelang kehadiran bulan suci Ramadan. Tiba-tiba muncul bayangan dan kenangan suasana Ramadan yang lalu.

Meski sudah setahun lewat, rasanya Ramadan tahun lalu baru kemarin. Jarak waktu menjadi hilang ketika bentangan waktu antara dua Ramadan disambung dengan kegembiraan dan kenangan yang begitu indah,agung,dan anggun. Kini datang lagi Ramadan.

Rekaman dan kenangan indah muncul kembali,dan semua itu ingin diulang dan dirayakan dalam suasana hati yang damai. Memasuki Ramadan bagaikan melangkah menuju oase penyejuk dahaga dan tempat istirahat setelah terkurung dalam hiruk-pikuk dan keluh kesal melihat kehidupan sosial politik yang kurang menjanjikan bagi hari esok.

Memasuki Ramadan bagaikan menyelam dalam kolam perdamaian dan penyucian diri. Kita merasa antusias dan bangga menemukan kembali kefitrian dan jati diri yang senantiasa damba pada kebaikan,kebenaran, dan suasana intim dengan Tuhan Sang Pencipta.

Di luar Ramadan kita merasa tak berdaya menghadapi godaan dan gempuran bertubi-tubi kekuatan negatif yang merongrong bangunan kefitrian diri.Padahal,semestinya justru di luar Ramadan itu puasa sejati diuji,terutama puasa sosial. Menjalani puasa Ramadan terasa ringan karena banyak faktor yang mendukung.

Pertama, secara sosialpsikologis selama Ramadan lingkungannya turut membantu. Siapa yang tidak puasa dianggap menyimpang dalam kultur Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Dengan demikian, dorongan untuk tidak puasa terasa kecil.

Kedua, secara teologis puasa Ramadan diyakini sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam sehingga ada dorongan batin yang kuat sebagai bukti ketaatan pada perintah Allah.

Ketiga, Ramadan mendatangkan aura spiritual dan kedamaian dan itu hanya bisa diraih kalau seseorang partisipasi di dalamnya dengan menjalani puasa secara benar.

Keempat,semakin banyak penjelasan ilmiah seputar keutamaan berpuasa,baik secara medis maupun psikologis, sehingga seseorang menjalani puasa tidak semata demi melaksanakan perintah agama, melainkan ada alasan dan dorongan rasional.

Kelima, selama Ramadan ada peristiwa-peristiwa atau aktivitas yang sangat mengesankan, semisal betapa nikmatnya berbuka puasa bersama keluarga atau temanteman yang hal itu selalu ingin ditemukan kembali. Dalam situasi sosial-politik yang semakin panas,kebersamaan dan keintiman bersama keluarga dan sejawat dalam suasana religius akan terasa sangat indah dan mahal.

Keenam, yakin bahwa Allah membuka lebar-lebar pintu rahmat,pahala,dan ampunan dalam bulan Ramadan sehingga akan sangat merugi siapa yang tidak menjawab tawaran kebaikan Allah dengan jalan melaksanakan puasa dan memperbanyak amal saleh lain selama bulan suci ini.

Ketujuh, bulan Ramadan juga sering diposisikan dan dihayati sebagai bulan pesantren ilmiah-ruhaniah. Berbagai mimbar dialog agama bermunculan, baik di kantor, siaran radio,televisi,maupun media lain.Banyak kalangan eksekutif secara sadar dan terencana mendalami ilmu agama selama bulan ini sehingga mereka menamakannya sebagai semester pendek. Perhatikan saja beragam judul buku tentang keagamaan mudah ditemukan di toko buku bergengsi di seantero Tanah Air selama Ramadan. Anak-anak pun mengadakan pesantren kilat.

Kedelapan, suasana keakraban dan edukatif juga sangat kental dalam kehidupan keluarga. Orangtua memiliki kesempatan untuk melakukan pendidikan moralspiritual lebih efektif di bulan ini.Tetapi itu semua memerlukan pemahaman dan metode yang tepat bagi orangtua dalam menjelaskan dan memaknai hikmah puasa bagi anak-anaknya. Janganlah puasa berlalu tanpa disertasi upaya edukasi bagi anak-anak kita.

Kesembilan, kehadiran Ramadan, khususnya bagi generasi tua,selalu menimbulkan kesadaran akan terbatasnya usia dan minimnya tabungan amal kebajikan. Sangat berbeda dengan peristiwa tahun baru yang hanya semalam, tonggak-tonggak perjalanan hidup seorang muslim ditandai oleh lorong waktu selama sebulan lalu ditutup dengan Idul Fitri.Tonggak ini terasa begitu dalam menghunjam sampai sanubari sehingga bulan Ramadan juga mendorong seseorang untuk introspeksi, lebih melihat ke dalam diri (inner journey), bukannya terpaku pada dunia luar yang bersifat materifisikal.

Demikianlah, masih banyak aspek-aspek emosionalspiritual Ramadan yang kehadirannya selalu menyergap dan membangunkan kesadaran batin serta menginterupsi hegemoni rutinitas fisik, lalu kita diajak memasuki ruang batin yang tak bertepi yang menawarkan keutamaan seribu bulan. Bagi mereka yang masa kanakkanaknya dihabiskan di kampung, Ramadan selalu mengingatkan kembali suasana desa sewaktu anak-anak dulu.

Sebuah kehidupan sosial keagamaan yang damai dan jika malam hari anak-anak turut memeriahkan suasana masjid dan musala. Di desa, masjid menjadi pusat berkumpulnya anakanak untuk bermain sambil menunggu datangnya magrib. Masjid bukan saja tempat salat dan mengaji,melainkan juga tempat bersosialisasi dengan teman sebaya.

Di masjid, anak-anak itu bertukar cerita seputar dunia mereka. Dan semua rekaman dan kenangan itu muncul dalam kesadaran batin ketika Ramadan tiba. Alhamdulillah, Ramadan sudah di ambang pintu, menyapa dan memeluk kita semua.Kita bertemu kembali dengan tamu agung yang membawa berkah ilahi. Selamat datang Ramadan. Semoga kami bisa menyiapkan hati, pikiran, dan fisik untuk menerima piala keutamaan seribu bulan yang engkau usung dari langit suci.*

Artikel ini pernah dimuat di HU Seputar Indonesia, 29 Agustus 2008