Al-Manar, Modernisme Islam dan Gempa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Oleh: Azyumardi Azra

INGAT-ingatlah al-Manar. Para pengkaji pemikiran Islam modern di Indonesia dan Mesir pastilah tidak luput dari nama Al-Manar . Ini adalah nama sebuah jurnal kadang-kadang juga disebut sebagai ‘majalah yang diterbitkan di Kairo, Mesir, yang pernah dipimpin Syekh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935), murid dan kolega Syekh Muhammad Abduh (1849-1905). Kedua syekh ini, tidak ragu lagi, merupakan tokoh pembaru Islam paling terkemuka pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20. Jurnal  al-Manar terbit secara teratur antara 1898-1935, dan mencari corong bagi seruan kepada umat Islam untuk melakukan pembaruan dalam rangka menggapai kembali kebangkitan Islam.

Al-Manar lampu penerang. Jurnal ini memang mencoba menampilkan diri sebagai ‘menara suar’ yang menerangi dan membimbing umat Islam yang tengah menderita menghadapi dan mengalami kenestapaan akibat ekspansi dan penjajahan kolonialisme Eropa. Begitu pentingnya posisi majalah  al-Manar , sehingga Kementerian Pendidikan Jepang melalui proyek The Islamic Area Studies Project (IASP) melakukan penelitian dan dua konferensi internasional khusus tentang jurnal  al-Manar dan pengaruhnya terhadap wacana dan gerakan Islam modern di berbagai penjuru dunia Muslim; sebuah proyek yang dipimpin Profesor Kusogi Yasushi, guru besar di Universitas Kyoto, seorang Muslim yang pernah mengirim putrinya, Khadijah, belajar di UIN Jakarta.

Al-Manar Kampung Dalam. Ini adalah salah satu bukti pengaruh jurnal  al-ManarThe Transmission of al-Manar’s Reformism in the Malay-Indonesian World: The Cases of al-Imam and al-Muniral-Manar di Tokyo, yang akhirnya dimuat dalam buku suntingan Kosugi Yasushi dkk,  Intellectuals in the Modern Islamic World: Transmission, Transformation, Communication (London & New York: Routledge, 2006). Kairo terhadap Indonesia. Saya sendiri pernah melakukan penelitian yang menghasilkan sebuah tulisan substantif berjudul  yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tentang

Tapi, al-Manar ini lain daripada apa yang saya tulis dalam tulisan tersebut. Al-Manar adalah nama sebuah perguruan Islam yang terdapat di dekat Pasar Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Kampung Dalam, negeri asal ibu saya (86 tahun) salah satu kawasan yang paling menderita terkena gempa 7,9 pada Skala Richter yang pekan lalu (30/9/09) mengguncang sebagian besar wilayah pesisir barat Sumatra, sejak dari Pasaman Barat di utara, terus ke Tiku, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, dan Kerinci.

Al-Manar Kampung Dalam, di mana ibu saya pernah belajar sehingga memungkinkannya menjadi guru agama, tidak luput dari dampak gempa yang dakhsyat itu. Saya menyaksikan kenestapaan bangunan Perguruan Al-Manar yang historis itu; banyak bagian dinding dan atap rubuh, sehingga tidak mungkin lagi dipakai kembali. Bangunan Perguruan al-Manar Kampung Dalam memerlukan rehabilitasi besar–jika tidak harus dibangun baru kembali. Tidak jauh dari Perguruan Al-Manar, semakin ke arah Pasar Kampung Dalam, Masjid Isma’il di mana kakek saya, seorang syekh tarekat dimakamkan– juga rusak berat, dan memerlukan rehabilitasi besar.

Al-Manar Kampung Dalam. Agaknya tidak banyak–kalau tidak dapat dibilang mungkin tidak ada–perguruan Islam lain di nusantara ini yang memakai nama ‘al-Manar’. Dan namanya itu mencerminkan semangat Abduh dan Ridha pembaharuan Islam melalui pendidikan. Seperti dicatat almarhum Profesor Deliar Noer dalam bukunya yang kini sudah menjadi klasik  The Modernist Muslim Movement in Indonesia , 1900-1942 (1973), wilayah Sumatra Barat menjadi lokus utama gerakan modernisme Islam, ketika banyak wilayah lain di nusantara masih berada dalam kejumudan. Dan, semangat modernisme Islam di Sumatra Barat itu tidak hanya terpusat di Padang, Padangpanjang, atau Bukittinggi, tapi bahkan juga di sebuah negeri yang relatif terpencil, Kampung Dalam.

Perguruan Al-Manar Kampung Dalam secara fisik bukan perguruan yang besar, seperti banyak pesantren di Jawa. Tetapi, Perguruan al-Manar Kampung Dalam yang berdiri pada akhir 1920-an adalah salah satu dari lembaga pendidikan Islam modernis tertua di Sumatra Barat; yang masih bertahan sampai sekarang ini di tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam pendidikan Islam Indonesia. Dalam usianya yang panjang itu, Perguruan al-Manar Kampung Dalam telah menghasilkan banyak lulusan yang kemudian menjadi guru agama, juru dakwah, dan seterusnya.

Peranan Perguruan Al-Manar Kampung Dalam dalam menghasilkan guru-guru agama dan juru dakwah hampir bisa dipastikan mulai menyurut sejak akhir 1960-an dan awal 1970-an ketika sekolah-sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama, baik yang 4 tahun/PGAP maupun 6 tahun/PGAA) bermunculan di berbagai tempat di Sumatra Barat, seperti juga di tempat-tempat lain di Indonesia. Bersamaan dengan itu, Fakultas Tarbiyah IAIN kian produktif menghasilkan lulusan-lulusan yang sebagian besarnya menjadi guru agama, dan bahkan juga guru umum dalam bidang tertentu. Tetapi, luar biasa, di tengah ekspansi lembaga-lembaga keguruan ini, Perguruan Al-Manar Kampung Dalam tetap bertahan.

Kini gempa mengancam kelanjutan Perguruan Al-Manar yang historis itu sebuah saksi hidup perkembangan awal modernisme Islam, tidak hanya di wilayah Sumatra Barat, tapi juga di nusantara secara keseluruhan. Karena itu, berbagai pihak yang peduli pada salah satu  historical heritage perjalanan Islam di negeri ini, sepatutnya menunjukkan kepeduliannya membangun kembali Perguruan Al-Manar Kampung Dalam.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 8 Oktober 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Al-Manar, Modernisme Islam dan Gempa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Oleh: Azyumardi Azra

INGAT-ingatlah al-Manar. Para pengkaji pemikiran Islam modern di Indonesia dan Mesir pastilah tidak luput dari nama Al-Manar . Ini adalah nama sebuah jurnal kadang-kadang juga disebut sebagai ‘majalah yang diterbitkan di Kairo, Mesir, yang pernah dipimpin Syekh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935), murid dan kolega Syekh Muhammad Abduh (1849-1905). Kedua syekh ini, tidak ragu lagi, merupakan tokoh pembaru Islam paling terkemuka pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20. Jurnal  al-Manar terbit secara teratur antara 1898-1935, dan mencari corong bagi seruan kepada umat Islam untuk melakukan pembaruan dalam rangka menggapai kembali kebangkitan Islam.

Al-Manar lampu penerang. Jurnal ini memang mencoba menampilkan diri sebagai ‘menara suar’ yang menerangi dan membimbing umat Islam yang tengah menderita menghadapi dan mengalami kenestapaan akibat ekspansi dan penjajahan kolonialisme Eropa. Begitu pentingnya posisi majalah  al-Manar , sehingga Kementerian Pendidikan Jepang melalui proyek The Islamic Area Studies Project (IASP) melakukan penelitian dan dua konferensi internasional khusus tentang jurnal  al-Manar dan pengaruhnya terhadap wacana dan gerakan Islam modern di berbagai penjuru dunia Muslim; sebuah proyek yang dipimpin Profesor Kusogi Yasushi, guru besar di Universitas Kyoto, seorang Muslim yang pernah mengirim putrinya, Khadijah, belajar di UIN Jakarta.

Al-Manar Kampung Dalam. Ini adalah salah satu bukti pengaruh jurnal  al-ManarThe Transmission of al-Manar’s Reformism in the Malay-Indonesian World: The Cases of al-Imam and al-Muniral-Manar di Tokyo, yang akhirnya dimuat dalam buku suntingan Kosugi Yasushi dkk,  Intellectuals in the Modern Islamic World: Transmission, Transformation, Communication (London & New York: Routledge, 2006). Kairo terhadap Indonesia. Saya sendiri pernah melakukan penelitian yang menghasilkan sebuah tulisan substantif berjudul  yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tentang

Tapi, al-Manar ini lain daripada apa yang saya tulis dalam tulisan tersebut. Al-Manar adalah nama sebuah perguruan Islam yang terdapat di dekat Pasar Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Kampung Dalam, negeri asal ibu saya (86 tahun) salah satu kawasan yang paling menderita terkena gempa 7,9 pada Skala Richter yang pekan lalu (30/9/09) mengguncang sebagian besar wilayah pesisir barat Sumatra, sejak dari Pasaman Barat di utara, terus ke Tiku, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, dan Kerinci.

Al-Manar Kampung Dalam, di mana ibu saya pernah belajar sehingga memungkinkannya menjadi guru agama, tidak luput dari dampak gempa yang dakhsyat itu. Saya menyaksikan kenestapaan bangunan Perguruan Al-Manar yang historis itu; banyak bagian dinding dan atap rubuh, sehingga tidak mungkin lagi dipakai kembali. Bangunan Perguruan al-Manar Kampung Dalam memerlukan rehabilitasi besar–jika tidak harus dibangun baru kembali. Tidak jauh dari Perguruan Al-Manar, semakin ke arah Pasar Kampung Dalam, Masjid Isma’il di mana kakek saya, seorang syekh tarekat dimakamkan– juga rusak berat, dan memerlukan rehabilitasi besar.

Al-Manar Kampung Dalam. Agaknya tidak banyak–kalau tidak dapat dibilang mungkin tidak ada–perguruan Islam lain di nusantara ini yang memakai nama ‘al-Manar’. Dan namanya itu mencerminkan semangat Abduh dan Ridha pembaharuan Islam melalui pendidikan. Seperti dicatat almarhum Profesor Deliar Noer dalam bukunya yang kini sudah menjadi klasik  The Modernist Muslim Movement in Indonesia , 1900-1942 (1973), wilayah Sumatra Barat menjadi lokus utama gerakan modernisme Islam, ketika banyak wilayah lain di nusantara masih berada dalam kejumudan. Dan, semangat modernisme Islam di Sumatra Barat itu tidak hanya terpusat di Padang, Padangpanjang, atau Bukittinggi, tapi bahkan juga di sebuah negeri yang relatif terpencil, Kampung Dalam.

Perguruan Al-Manar Kampung Dalam secara fisik bukan perguruan yang besar, seperti banyak pesantren di Jawa. Tetapi, Perguruan al-Manar Kampung Dalam yang berdiri pada akhir 1920-an adalah salah satu dari lembaga pendidikan Islam modernis tertua di Sumatra Barat; yang masih bertahan sampai sekarang ini di tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam pendidikan Islam Indonesia. Dalam usianya yang panjang itu, Perguruan al-Manar Kampung Dalam telah menghasilkan banyak lulusan yang kemudian menjadi guru agama, juru dakwah, dan seterusnya.

Peranan Perguruan Al-Manar Kampung Dalam dalam menghasilkan guru-guru agama dan juru dakwah hampir bisa dipastikan mulai menyurut sejak akhir 1960-an dan awal 1970-an ketika sekolah-sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama, baik yang 4 tahun/PGAP maupun 6 tahun/PGAA) bermunculan di berbagai tempat di Sumatra Barat, seperti juga di tempat-tempat lain di Indonesia. Bersamaan dengan itu, Fakultas Tarbiyah IAIN kian produktif menghasilkan lulusan-lulusan yang sebagian besarnya menjadi guru agama, dan bahkan juga guru umum dalam bidang tertentu. Tetapi, luar biasa, di tengah ekspansi lembaga-lembaga keguruan ini, Perguruan Al-Manar Kampung Dalam tetap bertahan.

Kini gempa mengancam kelanjutan Perguruan Al-Manar yang historis itu sebuah saksi hidup perkembangan awal modernisme Islam, tidak hanya di wilayah Sumatra Barat, tapi juga di nusantara secara keseluruhan. Karena itu, berbagai pihak yang peduli pada salah satu  historical heritage perjalanan Islam di negeri ini, sepatutnya menunjukkan kepeduliannya membangun kembali Perguruan Al-Manar Kampung Dalam.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 8 Oktober 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta