“Al-Azhar-FDI Akan Revisi MoU”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Setelah berjalan selama tujuh tahun, Memorandum of Understanding (MoU) antara Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta dengan Univeristas Al-Azhar, Kairo, Mesir rencananya akan direvisi. MoU yang ditandatangani pada 17 September 1999 lalu, dinilai kurang berjalan efektif. Berikut wawancara Hamzah dari UINJKT Online dengan Dekan FDI Dr H Masri El-Mahsyar Bidin MA di ruang kerjanya Senin (2/6).

Mengapa Al-Azhar akan merevisi MoU-nya dengan FDI?

Seperti diketahui, MoU tersebut merupakan payung besar bagi kerja sama antara FDI dengan Al-Azhar. Persoalannya, dalam MoU tersebut tidak ada eksekutif program. Sehingga kerjasama ini tidak terjadwal dengan baik. Selama ini yang berjalan, jadwalnya semau dia dan semau kita. Misalnya, kita membutuhkan dosen dari Al-Azhar. Dia akan memberikan jika kita mempunyai biaya untuk mengontrak dosennya. MoU ini biasanya terlaksana paling satu kali dalam satu tahun. Permasalahan itulah yang membuat Al-Azhar akan merevisi ulang MoU-nya dengan FDI.

Apa saja poin kerja sama yang dulu telah disepakati?

Kami menyepakati untuk melakukan tukar menukar dosen dan mahasiswa, penerbitan, kunjungan pejabat, kurikulum, seminar, dan beasiswa. Yang hingga kini masih berjalan hanya dua yaitu kunjungan pejabat dan tukar menukar dosen, walaupun baru setengah. Sedangkan kunjungan pejabat tiap tahun pasti ada, hanya untuk tahun 2008 ini belum ada sinyal.

Kapan MoU tersebut akan direvisi?

Secepatnya. Saya dengar informasinya, pihak Al-Azhar akan merevisi MoU itu supaya lebih efektif dan lebih dapat menjamin mutu. Sekarang suratnya sudah kami terima. Baguslah, mengingat perjanjian yang lama tidak efektif sehingga perlu dihentikan. Saya menyambut baik langkah ini.

Berdasarkan MoU tersebut, seperti apa kurikulum yang diterapkan di FDI?

Kami mengadopsi kurikulum dari Al-Azhar. Tapi, kami juga memasukkan kurikulum nasional, seperti Bahasa Indonesia, Civic Education, dan Ilmu Alamiah Dasar. Kita mengadopsi kurikulum Al-Azhar karena kita ingin menjadi pusat keunggulan kajian keislaman. Seperti kita kertahui, Al-Azhar merupakan salah satu pusat keunggulan keilmuan Islam dunia. Itulah yang menjadi standar akademik FDI. [Nif/Ed]

“Al-Azhar-FDI Akan Revisi MoU”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Setelah berjalan selama tujuh tahun, Memorandum of Understanding (MoU) antara Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta dengan Univeristas Al-Azhar, Kairo, Mesir rencananya akan direvisi. MoU yang ditandatangani pada 17 September 1999 lalu, dinilai kurang berjalan efektif. Berikut wawancara Hamzah dari UINJKT Online dengan Dekan FDI Dr H Masri El-Mahsyar Bidin MA di ruang kerjanya Senin (2/6).

Mengapa Al-Azhar akan merevisi MoU-nya dengan FDI?

Seperti diketahui, MoU tersebut merupakan payung besar bagi kerja sama antara FDI dengan Al-Azhar. Persoalannya, dalam MoU tersebut tidak ada eksekutif program. Sehingga kerjasama ini tidak terjadwal dengan baik. Selama ini yang berjalan, jadwalnya semau dia dan semau kita. Misalnya, kita membutuhkan dosen dari Al-Azhar. Dia akan memberikan jika kita mempunyai biaya untuk mengontrak dosennya. MoU ini biasanya terlaksana paling satu kali dalam satu tahun. Permasalahan itulah yang membuat Al-Azhar akan merevisi ulang MoU-nya dengan FDI.

Apa saja poin kerja sama yang dulu telah disepakati?

Kami menyepakati untuk melakukan tukar menukar dosen dan mahasiswa, penerbitan, kunjungan pejabat, kurikulum, seminar, dan beasiswa. Yang hingga kini masih berjalan hanya dua yaitu kunjungan pejabat dan tukar menukar dosen, walaupun baru setengah. Sedangkan kunjungan pejabat tiap tahun pasti ada, hanya untuk tahun 2008 ini belum ada sinyal.

Kapan MoU tersebut akan direvisi?

Secepatnya. Saya dengar informasinya, pihak Al-Azhar akan merevisi MoU itu supaya lebih efektif dan lebih dapat menjamin mutu. Sekarang suratnya sudah kami terima. Baguslah, mengingat perjanjian yang lama tidak efektif sehingga perlu dihentikan. Saya menyambut baik langkah ini.

Berdasarkan MoU tersebut, seperti apa kurikulum yang diterapkan di FDI?

Kami mengadopsi kurikulum dari Al-Azhar. Tapi, kami juga memasukkan kurikulum nasional, seperti Bahasa Indonesia, Civic Education, dan Ilmu Alamiah Dasar. Kita mengadopsi kurikulum Al-Azhar karena kita ingin menjadi pusat keunggulan kajian keislaman. Seperti kita kertahui, Al-Azhar merupakan salah satu pusat keunggulan keilmuan Islam dunia. Itulah yang menjadi standar akademik FDI. [Nif/Ed]