Akhir Drama Sebuah Pesta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Piala Dunia merupakan pesta yang mengglobal. Hampir seluruh warga dunia nyaris tanpa sekat geografis, politis, etnis, maupun agama, menyatu dalam dimensi yang sama yakni euforia pesta.

Seperti drama-drama lain, sepak bola punya seribu satu cerita, kegembiraan, kesedihan, persaingan, konflik, hingga mencapai klimaksnya di Soccer City, Johannesburg pada 11 Juli. Partai puncak yang mempertemukan dua tim yang sama-sama belum pernah mencatatkan diri sebagai kampiun Piala Dunia yakni Belanda dan Spanyol. Kini pesta itu telah usai. Cucuran keringat, air mata kesedihan, riuhnya Vuvuzela, serta selebrasi kemenangan sudah berlalu. Tinggal sisa-sisa cerita yang akan menjadi topik perbincangan warga beberapa hari ke depan. Sebulan lamanya kita turut larut dalam kebanggaan nasionalisme Belanda, Spanyol, Jerman, Afrika Selatan, Jepang, dan lain-lain. Kini saatnya kita kembali mengurusi Ibu Pertiwi, seraya mengambil banyak pelajaran dari drama pesta Piala Dunia.

Prinsip Komunitarian

Pelajaran pertama di luar teknik bermain bola yang menonjol dari perhelatan Piala Dunia adalah prinsip komunitarian. Prinsip ini berupa kesepakatan untuk menciptakan moral kehidupan sosial dan keteraturan publik berdasarkan pada penguatan nilai “kebersamaan”, tanpa ada puritanisme dan penindasan. Nilai penting prinsip ini mengimbangi nilai keakuan dengan nilai-nilai kekitaan yang bersifat komunitarian. Kekitaan yang memahami keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Sepanjang Piala Dunia 2010 ini kita melihat skill individual saja tak cukup untuk menjadi pemenang. Nama-nama mengilap seperti Christiano Ronaldo, Lionnel Messi, Wayne Rooney, dan Frank Ribery tenggelam dan gagal bersinar di Afrika Selatan digerus oleh kekuatan tim yang semangat komunitariannya lebih solid. Kita juga bisa melihat dampak keakuan pada tumbangnya tim-tim raksasa mantan juara. Prancis juara dunia 1998 dan Italia juara dunia 1934, 1938, 1982, serta 2006 terjungkal lebih awal di pagelaran drama Piala Dunia 2010. Les Blues bermain seri 0-0 dengan Uruguay, kalah dari Mexico 0- 2, terakhir kalah dari tim Bafana-Bafana Afrika Selatan 0-2.

Sementara tim Azzuri ditahan imbang Paraguay 1-1, dijegal seri wakil Oseania New Zealand, dan dipermalukan Slovakia 2-3. Kurangkah materi pemain di tim-tim juara itu? Tentu saja tidak, justru titik terlemah dari mereka adalah prinsip komunitariannya itu. Keretakan tim Prancis dan ketidakpaduan semangat kekitaan Italia di lapangan hijau menjadi drama menyakitkan bagi mereka. Ini tentu saja menjadi pembelajaran bagi bangsa kita. Di saat kita harus berkompetisi dengan berbagai negara di Asia maupun di dunia, kita sesungguhnya butuh simpul pengikat kesadaran bersama dalam hal ini semangat komunitarian. Presiden, para menteri, para politisi partai politik, hingga kekuatan di kantong-kantong gerakan civil society tak akan mampu memajukan negeri ini jika menafikan prinsip kekitaan.

Tentu saja untuk mewujudkan prinsip kekitaan itu dibutuhkan proses integrasi yang memadai. Proses integrasi, menurut Amitai Etziani dalam The Spirit of Community: The Reinvention of American Society (1993), memiliki beberapa model. Model integrasi normatif yaitu integrasi yang berakar pada kesepakatan dan kepatuhan membudaya terhadap nilai-nilai dan norma tertentu. Integrasi ini mempunyai hubungan timbal balik dengan adanya rasa senasib, cita-cita bersama, dan ikatan solidaritas. Integrasi model ini sekarang sudah mulai hilang di bangsa kita akibat prilaku elite yang kerap tunarasa seperti tercermin dari egoisme proposal ambisius “dana aspirasi” atau karut-marutnya penyelesaian skandal Bank Century.

Elite bermain sendiri tanpa kekompakan dengan rakyat pemilik mandat. Model integrasi lainnya adalah integrasi fungsional yang bersandar pada rasa saling membutuhkan dan ketergantungan fungsional antarkelompok. Banyak terjadi kesenjangan yang secara psikologis menyuburkan nilai keakuan. Berbagai lini dari komponen bangsa ini sedang mengalami banyak problem karena sama-sama saling mencurigai dan merasa tak saling membutuhkan. Padahal kepaduan antara rakyat, pemerintah eksekutif, DPR, kejaksaan, kepolisian, TNI, dan lain-lain menjadi prasyarat komunitarianisme. Ketimpangan justru dapat menyebabkan munculnya integrasi koersif yakni proses yang berlandaskan pada kekuatan memaksa dari suatu kelompok dominan terhadap lainnya.

Misalnya saja dapat kita amati saat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan etnis atau identitas agama tertentu, memaksakan kehendak atau keyakinannya sehingga mencederai prinsip komunitarian. Kiranya tak salah jika kita mencontoh Spanyol di Piala Dunia yang dengan semangat, sistem, dan kegairahan memainkan prinsip kekitaan sehingga menjadikan permainan mereka mengalir indah sekaligus mematikan dan menjadi kekuatan luar biasa. Sementara Belanda padu karena punya cita-cita bersama yang ingin menghapus stigma sebagai The Best Team Never To Win World Cup. Selama ini prestasi terjauh mereka hanya sebagai juara Piala Eropa 1988.

Prinsip Multikulturalisme

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari pesta Piala Dunia adalah prinsip multikulturalisme. Prinsip ini merupakan pengakuan terhadap kebinekaan identitas agama, ras, dan etnik. Kita bisa melihat orang berkulit hitam, putih, kuning langsat, maupun sawo matang berkumpul bersama dalam pesta “Jabulani” tanpa diskriminasi. Para pemain beragama Islam seperti Mesut Ozil, Sami Khedira, Serdar Tasci (Jerman), Ibrahim Afellay, Khalid Boulahrouz (Belanda), Vassiriki “Abou” Diaby, Franck Ribéry (Prancis), Sulley Muntari (Ghana), Hakan Yakin (Swiss), Yaya Touré (Pantai Gading), Rabiu Afolabi (Nigeria),dan sejumlah pemain muslim lainnya dengan nyaman bermain untuk tim-tim mereka berdampingan dengan para pemain lain yang mayoritas beragama berbeda tanpa dipersoalkan keberbedaannya itu.

Begitu pun mereka yang punya latar belakang kaum imigran tak pernah menjadi warga kasta kedua di dalam tim. Malahan di antara mereka menjadi bintang lapangan yang sangat menentukan. Sejumlah pemain andalan ”Der Panzer” saat ini adalah warga keturunan. Keluarga Miroslav Klose dan Lukas Podolski berasal dari Polandia, Mesut Ozil keturunan Turki, ayah Sami Khedira berasal Tunisia, ayah Jerome Boateng dari Ghana, dan ayah Mario Gomez dari Spanyol. Sebanyak 11 dari 23 pemain Jerman bahkan berasal dari keluarga imigran. Piala Dunia ke-19 di Afrika Selatan ini sukses menjadi etalase multikulturalisme untuk warga dunia. FIFA mengumumkan total jumlah penonton yang datang ke stadion selama Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan hingga semifinal, Rabu (7/7), telah mencapai 3 juta orang.

Ini merupakan jumlah penonton terbanyak ketiga setelah Piala Dunia di AS 16 tahun silam yang menyedot total 3,59 juta orang diikuti oleh Jerman empat tahun silam dengan jumlah 3,36 juta penonton. Selain itu, jutaan warga dunia juga tentu mengakses pesta ini dari berbagai media massa. Kalimat “Say No to Racism” yang senantiasa hadir di awal pertandingan memberi pesan kuat akan perlunya semangat multikulturalisme dipraktikkan oleh seluruh bangsa di dunia.

Saatnya Kembali

Sebulan penuh perhatian kita tertuju ke Afrika Selatan. Khalayak penonton kita dimanjakan oleh siaran live, rerun, serta supporting program RCTI dan Global TV yang menjadi media partner dari Electronic City Entertainment (ECE). Rakyat Indonesia yang tak bisa menikmati siaran secara audio-visual pun dapat mengaksesnya melalui radio. Pro3 RRI misalnya dengan daya jangkau siarannya yang luas serta dapat diterima hingga ke berbagai pelosok negeri ini menjadi varian saluran akses publik atas running program dan ulasan seputar Piala Dunia. Hasil survei Nielsen menunjukkan, sekitar 47% penonton televisi Indonesia menyaksikan laga Piala Dunia.

Selama babak penyisihan grup tercatat sekitar 49,2% penonton televisi di Indonesia menyaksikan pesta “Jabulani” ini. Pada Kamis (24/6), Indonesia bahkan sempat tercatat sebagai negara dengan tingkat pemirsa televisi tertinggi pada tayangan piala dunia dari 32 negara lainnya. Kini pesta telah usai, saatnya kembali fokus memikirkan Indonesia kita. Realitanya, kita ibarat kesebelasan yang tak lagi diperhitungkan karena tak kunjung menunjukkan permainannya yang gemilang. Kita butuh komposisi para pemain yang mumpuni untuk bekerja keras dan membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Dengan motivasi yang tinggi, prinsip komunitarian, serta respek dengan kebinekaan bukan mustahil suatu saat kita akan memperoleh kegemilangan. Seperti lirik lagu yang dinyanyikan secara energik oleh Shakira “…If you get down,Get up oh oh, When you get down, Get up eh eh...”seraya kita menyadarkan diri this time for Indonesia!(*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Minggu, 11 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Pencinta Sepak Bola

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhir Drama Sebuah Pesta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Piala Dunia merupakan pesta yang mengglobal. Hampir seluruh warga dunia nyaris tanpa sekat geografis, politis, etnis, maupun agama, menyatu dalam dimensi yang sama yakni euforia pesta.

Seperti drama-drama lain, sepak bola punya seribu satu cerita, kegembiraan, kesedihan, persaingan, konflik, hingga mencapai klimaksnya di Soccer City, Johannesburg pada 11 Juli. Partai puncak yang mempertemukan dua tim yang sama-sama belum pernah mencatatkan diri sebagai kampiun Piala Dunia yakni Belanda dan Spanyol. Kini pesta itu telah usai. Cucuran keringat, air mata kesedihan, riuhnya Vuvuzela, serta selebrasi kemenangan sudah berlalu. Tinggal sisa-sisa cerita yang akan menjadi topik perbincangan warga beberapa hari ke depan. Sebulan lamanya kita turut larut dalam kebanggaan nasionalisme Belanda, Spanyol, Jerman, Afrika Selatan, Jepang, dan lain-lain. Kini saatnya kita kembali mengurusi Ibu Pertiwi, seraya mengambil banyak pelajaran dari drama pesta Piala Dunia.

Prinsip Komunitarian

Pelajaran pertama di luar teknik bermain bola yang menonjol dari perhelatan Piala Dunia adalah prinsip komunitarian. Prinsip ini berupa kesepakatan untuk menciptakan moral kehidupan sosial dan keteraturan publik berdasarkan pada penguatan nilai “kebersamaan”, tanpa ada puritanisme dan penindasan. Nilai penting prinsip ini mengimbangi nilai keakuan dengan nilai-nilai kekitaan yang bersifat komunitarian. Kekitaan yang memahami keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Sepanjang Piala Dunia 2010 ini kita melihat skill individual saja tak cukup untuk menjadi pemenang. Nama-nama mengilap seperti Christiano Ronaldo, Lionnel Messi, Wayne Rooney, dan Frank Ribery tenggelam dan gagal bersinar di Afrika Selatan digerus oleh kekuatan tim yang semangat komunitariannya lebih solid. Kita juga bisa melihat dampak keakuan pada tumbangnya tim-tim raksasa mantan juara. Prancis juara dunia 1998 dan Italia juara dunia 1934, 1938, 1982, serta 2006 terjungkal lebih awal di pagelaran drama Piala Dunia 2010. Les Blues bermain seri 0-0 dengan Uruguay, kalah dari Mexico 0- 2, terakhir kalah dari tim Bafana-Bafana Afrika Selatan 0-2.

Sementara tim Azzuri ditahan imbang Paraguay 1-1, dijegal seri wakil Oseania New Zealand, dan dipermalukan Slovakia 2-3. Kurangkah materi pemain di tim-tim juara itu? Tentu saja tidak, justru titik terlemah dari mereka adalah prinsip komunitariannya itu. Keretakan tim Prancis dan ketidakpaduan semangat kekitaan Italia di lapangan hijau menjadi drama menyakitkan bagi mereka. Ini tentu saja menjadi pembelajaran bagi bangsa kita. Di saat kita harus berkompetisi dengan berbagai negara di Asia maupun di dunia, kita sesungguhnya butuh simpul pengikat kesadaran bersama dalam hal ini semangat komunitarian. Presiden, para menteri, para politisi partai politik, hingga kekuatan di kantong-kantong gerakan civil society tak akan mampu memajukan negeri ini jika menafikan prinsip kekitaan.

Tentu saja untuk mewujudkan prinsip kekitaan itu dibutuhkan proses integrasi yang memadai. Proses integrasi, menurut Amitai Etziani dalam The Spirit of Community: The Reinvention of American Society (1993), memiliki beberapa model. Model integrasi normatif yaitu integrasi yang berakar pada kesepakatan dan kepatuhan membudaya terhadap nilai-nilai dan norma tertentu. Integrasi ini mempunyai hubungan timbal balik dengan adanya rasa senasib, cita-cita bersama, dan ikatan solidaritas. Integrasi model ini sekarang sudah mulai hilang di bangsa kita akibat prilaku elite yang kerap tunarasa seperti tercermin dari egoisme proposal ambisius “dana aspirasi” atau karut-marutnya penyelesaian skandal Bank Century.

Elite bermain sendiri tanpa kekompakan dengan rakyat pemilik mandat. Model integrasi lainnya adalah integrasi fungsional yang bersandar pada rasa saling membutuhkan dan ketergantungan fungsional antarkelompok. Banyak terjadi kesenjangan yang secara psikologis menyuburkan nilai keakuan. Berbagai lini dari komponen bangsa ini sedang mengalami banyak problem karena sama-sama saling mencurigai dan merasa tak saling membutuhkan. Padahal kepaduan antara rakyat, pemerintah eksekutif, DPR, kejaksaan, kepolisian, TNI, dan lain-lain menjadi prasyarat komunitarianisme. Ketimpangan justru dapat menyebabkan munculnya integrasi koersif yakni proses yang berlandaskan pada kekuatan memaksa dari suatu kelompok dominan terhadap lainnya.

Misalnya saja dapat kita amati saat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan etnis atau identitas agama tertentu, memaksakan kehendak atau keyakinannya sehingga mencederai prinsip komunitarian. Kiranya tak salah jika kita mencontoh Spanyol di Piala Dunia yang dengan semangat, sistem, dan kegairahan memainkan prinsip kekitaan sehingga menjadikan permainan mereka mengalir indah sekaligus mematikan dan menjadi kekuatan luar biasa. Sementara Belanda padu karena punya cita-cita bersama yang ingin menghapus stigma sebagai The Best Team Never To Win World Cup. Selama ini prestasi terjauh mereka hanya sebagai juara Piala Eropa 1988.

Prinsip Multikulturalisme

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari pesta Piala Dunia adalah prinsip multikulturalisme. Prinsip ini merupakan pengakuan terhadap kebinekaan identitas agama, ras, dan etnik. Kita bisa melihat orang berkulit hitam, putih, kuning langsat, maupun sawo matang berkumpul bersama dalam pesta “Jabulani” tanpa diskriminasi. Para pemain beragama Islam seperti Mesut Ozil, Sami Khedira, Serdar Tasci (Jerman), Ibrahim Afellay, Khalid Boulahrouz (Belanda), Vassiriki “Abou” Diaby, Franck Ribéry (Prancis), Sulley Muntari (Ghana), Hakan Yakin (Swiss), Yaya Touré (Pantai Gading), Rabiu Afolabi (Nigeria),dan sejumlah pemain muslim lainnya dengan nyaman bermain untuk tim-tim mereka berdampingan dengan para pemain lain yang mayoritas beragama berbeda tanpa dipersoalkan keberbedaannya itu.

Begitu pun mereka yang punya latar belakang kaum imigran tak pernah menjadi warga kasta kedua di dalam tim. Malahan di antara mereka menjadi bintang lapangan yang sangat menentukan. Sejumlah pemain andalan ”Der Panzer” saat ini adalah warga keturunan. Keluarga Miroslav Klose dan Lukas Podolski berasal dari Polandia, Mesut Ozil keturunan Turki, ayah Sami Khedira berasal Tunisia, ayah Jerome Boateng dari Ghana, dan ayah Mario Gomez dari Spanyol. Sebanyak 11 dari 23 pemain Jerman bahkan berasal dari keluarga imigran. Piala Dunia ke-19 di Afrika Selatan ini sukses menjadi etalase multikulturalisme untuk warga dunia. FIFA mengumumkan total jumlah penonton yang datang ke stadion selama Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan hingga semifinal, Rabu (7/7), telah mencapai 3 juta orang.

Ini merupakan jumlah penonton terbanyak ketiga setelah Piala Dunia di AS 16 tahun silam yang menyedot total 3,59 juta orang diikuti oleh Jerman empat tahun silam dengan jumlah 3,36 juta penonton. Selain itu, jutaan warga dunia juga tentu mengakses pesta ini dari berbagai media massa. Kalimat “Say No to Racism” yang senantiasa hadir di awal pertandingan memberi pesan kuat akan perlunya semangat multikulturalisme dipraktikkan oleh seluruh bangsa di dunia.

Saatnya Kembali

Sebulan penuh perhatian kita tertuju ke Afrika Selatan. Khalayak penonton kita dimanjakan oleh siaran live, rerun, serta supporting program RCTI dan Global TV yang menjadi media partner dari Electronic City Entertainment (ECE). Rakyat Indonesia yang tak bisa menikmati siaran secara audio-visual pun dapat mengaksesnya melalui radio. Pro3 RRI misalnya dengan daya jangkau siarannya yang luas serta dapat diterima hingga ke berbagai pelosok negeri ini menjadi varian saluran akses publik atas running program dan ulasan seputar Piala Dunia. Hasil survei Nielsen menunjukkan, sekitar 47% penonton televisi Indonesia menyaksikan laga Piala Dunia.

Selama babak penyisihan grup tercatat sekitar 49,2% penonton televisi di Indonesia menyaksikan pesta “Jabulani” ini. Pada Kamis (24/6), Indonesia bahkan sempat tercatat sebagai negara dengan tingkat pemirsa televisi tertinggi pada tayangan piala dunia dari 32 negara lainnya. Kini pesta telah usai, saatnya kembali fokus memikirkan Indonesia kita. Realitanya, kita ibarat kesebelasan yang tak lagi diperhitungkan karena tak kunjung menunjukkan permainannya yang gemilang. Kita butuh komposisi para pemain yang mumpuni untuk bekerja keras dan membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Dengan motivasi yang tinggi, prinsip komunitarian, serta respek dengan kebinekaan bukan mustahil suatu saat kita akan memperoleh kegemilangan. Seperti lirik lagu yang dinyanyikan secara energik oleh Shakira “…If you get down,Get up oh oh, When you get down, Get up eh eh...”seraya kita menyadarkan diri this time for Indonesia!(*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Minggu, 11 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Pencinta Sepak Bola