Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat

Guru Besar UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat

Guru Besar UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat

Kita semua tahu ketika mendengar orang menyebut kata akar-rumput. Namun ketika dua kata ini diungkapkan bukan oleh petani, melainkan intelektual dan politisi, maknanya menjadi lain.

Mari kita membayangkan sejenak tentang akar dan rumput. Fungsi akar sangat vital bagi sebuah pohon. Pohon besar dengan batangnya yang tinggi, dahan bercabang-cabang dan ditutup daun lebat dan rindang serta buahnya bergelayutan, semua itu tidak lepas dari jasa dan peran akarnya. Jika akarnya tidak menghujam kokoh ke dalam tanah, pohon besar tadi akan mudah roboh ketika diterpa angin kencang.

Fungsi akar juga untuk menyerap vitamin atau pupuk yang kemudian disalurkan ke seluruh bagian dari pohon, sehingga jika akarnya mengalami defisit vitamin, pohon akan kurus mengering layaknya tubuh manusia. Kita sering kagum melihat pohon yang tumbuh segar dan rindang, namun jarang menyadari akar sangat besar jasanya, meskipun tidakterlihat oleh mata.

Jarang kita memuji akar karena memang tidak terlihat. Mata lebih mudah kagum dan terkecoh oleh objek yang terlihat. Begitu pun ketika kita masuk restoran menikmati hidangan lezat, yang menarik perhatian adalah pramusajinya serta dekorasi ruangnya. Padahal peran juru masak di belakang layar sangat menentukan kualitas makanannya. Lebih dari itu adalah jasa para petaninya.

Bagaimana halnya dengan rumput? Banyak sekali peran dan manfaat rumput untuk kehidupan kita. Tanpa rumput, yang muncul adalah tanah atau padang pasir gersang. Bagi mereka yang pernah melewati dataran gundul atau padang pasir, sangat menyadari betapa vitalnya rumput untuk menutupi permukaan bumi agar air yang dikandungnya tidak cepat menguap.

Agar permukaan bumi tidak gersang. Rumah-rumah mewah dengan halaman yang luas pasti memerlukan rumput untuk mempercantik halamannya dan menjaga kandungan air yang terserap di bawah permukaan tanah. Tanpa dukungan dan perlindungan rumput, tanggul-tanggul di pinggir jalan akan mudah tergerus air jika turun hujan.

Jangan tanya betapa besarnya peran rumput dalam permainan sepak bola dan golf. Lihat saja tayangan televisi ketika menyiarkan pertandingan sepak bola atau golf yang berkelas dunia. Di situ hamparan rumput nan hijau dan tertata rapi menimbulkan pemandangan yang indah bagi berlangsungnya sebuah festival berupa permainan dan pertandingan olahraga.

Jadi, jangan sekali-kali memandang rendah fungsi dan eksistensi rumput. Lalu, bagaimana ketika akar dan rumput digabung menjadi “akar rumput”? Lebih jauh lagi, bagaimana ketika akar rumput itu mengering? Yang dimaksud akar rumput oleh analis politik adalah eksistensi dan fungsi rakyat bawah atau rakyat kecil yang masif.

Mereka ini memiliki kekuatan sebagai penyangga jajaran elite yang berada di atas. Tanpa dukungan rakyat kecil, kehidupan berbangsa dan bernegara ini akan mudah ambruk ketika diterpa guncangan politik. Lebih bahaya lagi ketika akar rumput itu mengering, akan mudah sekali terbakar atau dibakar.

Hanya dengan lemparan sebatang rokok yang menyala, rumput itu akan mudah tersulut karena akarnya pun sudah mengering. Mereka mengering karena banyak penyebabnya. Bisa jadi karena kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, meningkatnya jumlah pengangguran, buruknya kesehatan, yang semua ini akan mendekatkan pada keputusasaan dan menggerus kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Jika akar rumput ini sudah mengering dan meluas maka sangat mudah terbakar dan menghanguskan bangunanbangunan capaian atau prestasi yang sudah diraih selama ini. Sekali lagi, yang dimaksud akar rumput itu tak lain adalah rakyat kecil. Lantaran kecil dan jumlahnya banyak, maka mereka dianalogikan dengan rumput.

Kalaupun dedaunan rumput itu terlihat mengering, namun jika akarnya masih kuat tertanam di bawah permukaan tanah, maka ketika mendapatkan siraman hujan, rumput itu akan seketika tumbuh subur menghijau. Namun jika yang kering itu sudah merasuk sampai akarnya, mudah sekali terbakar dan dapat menghanguskan hutan dan bangunan di sekitarnya ketika jilatan apinya dihempas angin.

Demikianlah adanya, jika rakyat sudah sampai pada titik lelah, jenuh, dan terhimpit oleh tekanan ekonomi yang dirasakan semakin sulit, maka mereka mudah sekali diprovokasi untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya yang bisa menciptakan kerusuhan dan keresahan sosial.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Tulisan dimuat dalam Kolom Opini SINDO, Jumat 28 Agustus 2015

Share This