Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Hampir 61 tahun usia yang dicatatkan UIN Jakarta. Jika membaca sejarah panjangnya, riwayat UIN Jakarta adalah juga riwayat Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) sebagai cikal bakalnya. Sedang, jika mengurai riwayat ADIA tak absah rasanya jika tak mengurai sosok yang berada di balik pendiriannya, Prof. Dr. Mahmoed Joenoes.

Eratnya riwayat ADIA dan sosok Joenoes, bermula saat pemerintah kala itu meningkatkan status Fakultit Agama dari Universitit Islam Indonesia atau Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia (UII) jadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Peningkatan status ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 34 Tahun 1950 tentang Perguruan Tinggi Agama Islam.

Dalam PP, pemerintah mengungkapkan alasan di balik peningkatan status tersebut, yaitu tingginya kebutuhan tenaga ahli dalam ilmu keagamaan Islam. Sedang para pelajar Indonesia kala itu hanya bisa belajar di perguruan tinggi Islam luar negeri yang tak memiliki hubungan akademik dan kelembagaan dengan madrasah-madrasah di Indonesia.

 “Oleh karena itu perlu diadakan Perguruan Tinggi Agama Islam yang sesuai dengan hajat masyarakat dan keadaan Indonesia,” sebut PP yang diundangkan oleh Menteri Kehakiman A.G. Pringgodigdo, Senin 14 Agustus 1950.

Selanjutnya, PP yang turut ditandatangani Menteri Agama KH Fakih Usman itu menyebutkan, PTAIN tersebut ditetapkan berkedudukan di Yogyakarta. “Perguruan Tinggi Agama Islam (ini, red.) bermaksud untuk memberi pengajaran tinggi dan menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam,” sebut PP lagi.

Segera setelah PP tersebut diterbitkan, pemerintah melalui Departemen Agama kala itu bekerja keras mencari figur yang dinilai tepat untuk menjadi pengelola sekaligus pengajarnya. Menurut Gouzali Saydam dalam bukunya, Lima Puluh Lima Tokoh Indonesia Asal Minangkabau Di Pentas Nasional (Bandung: Alfabeta, 2009), pihak Departemen Agama akhirnya menunjuk Joenoes sebagai pengelola sekaligus pengajarnya.

Cukup beralasan jika Departemen Agama menunjuk Joenoes sebagai pengajar sekaligus pengelola mengingat kapasitas yang telah ditunjukannya sendiri. Selepas masa belajarnya di Al-Azhar, Mesir, misalnya, Joenoes telah menceburkan diri dalam aktifitas mengajar. Tak hanya itu, ia bahkan mendirikan sebuah madrasah di kota kelahirannya, Tanah Datar, Minangkabau. Puncaknya di tahun 1932, Joenoes mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) Padang. Sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam modern Nusantara yang lahir sebelum kemerdekaan.

Namun, tutur Gouzali, Joenoes justru menolak penunjukkan tersebut. Alih-alih menerima, Joenoes justru mengusulkan agar pemerintah mendirikan PTAIN serupa di Jakarta. “Joenoes justru mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk mendirikan PTAIN yang sama di Jakarta,” sebut Gouzali.

Tak diketahui pasti apa sebetulnya alasan penolakan Joenoes sekaligus usulannya agar pemerintah pusat mendirikan PTAIN sejenis di Jakarta. Namun Joenoes sepertinya sudah memperkirakan bahwa kebutuhan lembaga pendidikan tinggi Islam tak bisa dilakukan dengan hanya mendirikan satu perguruan tinggi. Di satu kota pula.

Kendati butuh waktu lama, belakangan pemerintah sepertinya sepakat dengan usulan Joenoes. Tepat di tanggal 1 Juni 1957, Kementerian Agama menerbitkan Ketetapan Menteri Agama (KMA) RI Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pendirian Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA).Penerbitan KMA menandai lahirnya ADIA sebagai sebuah perguruan tinggi Islam di Jakarta.

Selain resmi mendirikan ADIA, Departemen Agama juga menunjuk Joenoes sebagai pimpinannya (dekan). Kali ini, Joenoes tak bisa menolak penunjukkan tersebut setelah ia sendiri yang jauh-jauh hari mengusulkan perlunya mendirikan perguruan tinggi agama Islam di Jakarta. Untuk wakilnya, Departemen Agama juga menunjuk Prof. Dr. Bustami Abdul Ghani, ulama yang sama-sama berasal dari Bukittinggi, pernah nyantri di Universitas Al-Azhar, dan memiliki perhatian besar dalam pengembangan pendidikan Islam.

ADIA sendiri, sebut Yudi Latif dalam bukunya Genealogi Intelegensia: Pengetahuan dan Kekuasaan Intelegensia Muslim Indonesia Abad XX (Jakarta: Kencana, 2013), didirikan sebagai akademi pelatihan bagi para pegawai kantor agama pemerintah dan bagi para guru pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri.

Sebagai akademi kedinasan, maka mahasiswa ADIA adalah para mahasiswa tugas belajar. Selain para guru agama, mereka merupakan pegawai di lingkungan Departemen Agama, baik pusat maupun daerah. Tentu saja setelah terlebih dulu diseleksi ketat.

Saat pertama kali didirikan, ADIA hanya memiliki 43 orang mahasiswa. Mereka kuliah di tiga jurusan, yakni Jurusan Syariat (Pendidikan Agama), Jurusan Lughat al Arabiyah (Jurusan Bahasa Arab), dan Jurusan Khusus untuk Imam Tentara.

Di tahun pertama, ADIA menyelenggarakan perkuliahan di kampus Universitas Islam Jakarta (UIJ) di Jalan Madura sebelum kemudian pindah ke Jalan Limau (kni, Kampus UHAMKA) di tahun kedua. Masuk tahun ketiga, ADIA memindahkan seluruh aktifitas belajar mengajarnya ke Kultur Sentrum di Ciputat, lokasi yang kini ditempati UIN Jakarta.

Demikianlah sekilas kedekatan riwayat Mahmoed Joenoes dan ADIA. Kelak, ADIA sendiri bertransformasi menjadi Institut Agama Islam Negeri, sebelum kembali bersalin rupa menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. (farah nh/yuni nk/zm)