Komaruddin Hidayat

DAKWAH artinya mengajak atau mengundang. Yaitu mengajak ke jalan Tuhan. Ada dua kata kunci yang mesti diperhatikan, yaitu kata mengajak dan jalan Tuhan. 

Layaknya undangan ke pesta perkawinan, maka pihak yang mengajak atau mengundang mesti bersikap simpatik, ramah, menghargai pihak yang diundang, dengan bahasa jelas dan enak didengar. Bukan teriak-teriak dengan paksaan.

Kita semua memiliki pengalaman dan perasaan, jika ajakan dan undangan itu bersikap simpatik, kita pun akan membalasnya dengan simpatik pula. Tetapi, jika seseorang menyeru, memanggil, mengundang, dan mengajak dengan bahasa dan cara kasar, bahkan dengan nada marah dan mengancam, pasti kita akan tersinggung serta cenderung menolaknya.

Demikian halnya dengan berbagai dakwah keagamaan yang kita saksikan dalam masyarakat dan media sosial. Masih ada dakwah yang disampaikan dengan nada marah-marah, menghakimi, bahkan marah jika yang diajak tidak mau. Bahkan, ada yang mengancam agar mau diajak.

Tentu dakwah dengan cara mengancam dan menakutkan ini bertolak belakang dengan kata dan konsep dakwah itu sendiri. Sekali lagi, dakwah artinya memanggil, menyeru, dan mengundang. Bukan memarahi dan mengancam.

Dakwah bisa juga dianalogikan dengan orang berjualan menawarkan barang dagangannya. Sebaik apa pun barang yang dimiliki, jika cara menawarkan barangnya tidak cerdas dan menarik, pasti orang enggan membelinya.

Metode ini secara eksplisit disebutkan dalam Alquran (Nahl 16: 125), Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik, dan kalaupun mereka mengajak berdebat, lakukanlah dengan cara yang baik.

Kata kunci kedua adalah jalan Tuhan. Dalam bahasa Arab terdapat banyak kata yang bermakna jalan. Artinya, banyak jalan menuju Tuhan. Dalam penggalan terjemahan ayat Alquran di atas, ajaklah mereka ke jalan Tuhan. Jadi, penekanannya di sini adalah agar seseorang masuk dan berjalan di jalan Tuhan.

Adapun tingkat kekuatan dalam berjalan atau berlari, tiap orang memiliki kapasitas berbeda-beda. Kalaupun mereka menggunakan alat bantu berupa sepeda, motor, atau mobil, kapasitas, kekuatan, dan kecepatannya berbeda-beda pula.

Bunyi lahiriah teks tentang berdakwah itu yang pertama seseorang mau bergabung di jalan Tuhan, tapi mesti disadari bahwa capaian dan prestasi seseorang dalam perjuangan mendekati Tuhan itu jangan dipaksakan dan diseragamkan. Lebih dari itu, di sana banyak jalan menuju Tuhan. Jadi, siapa pun yang berdakwah janganlah dengan bahasa marah-marah serta mudah menghakimi dan mengafirkan orang lain jika berbeda.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering berjumpa dan berdialog dengan teman-teman seputar pemahaman dan praktik keberagamaan. Ada pengusaha yang salatnya minus, tidak disiplin salat lima kali sehari. Namun, begitu sedekah, zakat dan amal sosialnya banyak.

Ada juga sebaliknya, ibadahnya rajin tetapi perilaku sosialnya kurang bagus. Ada orang yang miskin ilmu dan miskin harta, tapi rajin dan pemurah untuk menolong tetangga jika memperoleh kesulitan. Dia membantu dengan tenaganya.

Hal-hal demikian ini tentu kita bisa mengkritiknya, namun kita tidak bisa memaksa mengikuti apa yang kita maui dan kita juga tidak tahu bobot ketakwaannya di hadapan Tuhan. Apalagi aspek keimanannya yang sangat pribadi, kita tidak tahu.

Mengingat negara dan ruang publik milik rakyat dengan beragam agama, bahasa, dan budaya, maka siapa pun berdakwah hendaknya jangan melakukan ceramah dan provokasi yang merusak ruang publik serta memperlemah negara. Keberadaan negara dan ruang publik itu mesti dijaga bersama-sama, sebagaimana masyarakat menjaga keamanan pasar, tempat masyarakat melakukan transaksi jual-beli, apa pun latar belakang etnik dan agamanya.

Selain itu, juga sekolah-sekolah negeri, mesti dijaga karakter inklusifnya karena dibiayai uang rakyat. Kecuali lembaga pendidikan yang sejak awal sudah bersifat eksklusif keagamaan seperti madrasah negeri.

Mendakwahkan agama ibarat menawarkan emas. Sekalipun kualitas bagus, asli, mestinya ditawarkan dengan cara elegan agar tidak merendahkan kualitas barang yang ditawarkan. Kebenaran sebuah agama mampu membela dirinya sendiri. Jangan malah direndahkan oleh para agen penjualnya. (Farah Nh/ zm)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Artikel dimuat dalam kolom opini Koran Sindo pada hari Jum’at, 24 November 2017 – 08:02 WIB

Share This