Agama Roh Budaya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Agama, dalam ungkapan Jawa, bagaikan ageman atau pakaian. Orang berpakaian itu untuk menutup aurat, untuk menjaga kesehatan, dan agar pantas dan nyaman ketika bergaul dengan sesama.

Rumah saya di kampung berdekatan dengan dua masjid yang selalu ramai oleh jamaah dan anak-anak bermain. Suasana kauman ini berpengaruh bagi lingkungan sosial dan penduduk yang tinggal di seputar masjid. Orang merasa enteng datang ke masjid untuk ngobrol-ngobrol, terutama di sore hari menjelang magrib. Atau siang hari untuk mandi sehabis dari kerja di sawah lalu sekalian salat zuhur.

Roh dan ajaran agama menyatu dalam kehidupan masyarakat. Ekspresi keberagamaan yang paling mudah dilihat bagi anak-anak adalah aktivitas ritual seperti salat, mengaji, dan puasa.Tapi setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa agama dan budaya bagaikan roh dan tubuh. Lewat budaya dan tradisi lokal, ajaran agama diekspresikan sehingga muncul apa yang disebut local genius atau local wisdom.

Di desa, jika orang tidak mencuri atau berbuat yang hina,itu didasari oleh penghayatan norma agama yang telah melembaga ke dalam tradisi sosial. Rasa malu masih sangat kental dan ajaran tentang rasa malu itu sering saya dengarkan waktu khotbah Jumat, bahwa malu sebagian dari iman. Peristiwa kehilangan akibat pencurian praktis tidak pernah saya jumpai di desa.

Masyarakat masih memegang teguh pesan agama bahwa mencuri itu sangat dikecam oleh Gusti Allah. Kalau saja tidak memiliki keyakinan dan tradisi beragama, mungkin sekali hidup di desa yang secara ekonomi tertindas oleh kota hanya melahirkan keluh kesah,kekecewaan, dan kemarahan.

Karena kuatnya keyakinan agama, berbagai himpitan hidup masih tertahankan (bearable) dan diberi makna, bukannya putus asa lalu bunuh diri seperti terjadi di berbagai kota dunia yang secara ekonomi melimpah dan tingkat pendidikannya pun tinggi. Merekonstruksi ulang kehidupan beragama di kalangan masyarakat awam lalu terbayangkan bagaimana gambaran masyarakat purba ketika awal mula para nabi utusan Tuhan itu mulai menyampaikan wahyu.

Dulu para umat yang diseru itu hidupnya di padang pasir yang ganas atau wilayah yang rimbun dengan menyandarkan diri pada peternakan. Berbahagialah, penduduk Nusantara ini hidupnya sangat nyaman, ada lautan, daratan, dan pegunungan dengan cahaya matahari yang melimpah.Pada abad-abad lalu ketika agama lahir, masyarakat belum mengenal televisi, mobil, supermarket, lembaga sekolah, dan berbagai fasilitas teknis yang menawarkan kenyamanan hidup seperti sekarang.

Oleh para rasul Tuhan mereka diajari tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia. Dikenalkan pada tauhid, tiada ilah kecuali Allah. There is no god but God. Ajaran tauhid ini disampaikan secara berkesinambungan dari rasul yang satu ke rasul berikutnya sampai Rasulullah Muhammad sebagai penutup para nabi. Menurut Alquran, Allah tak akan menghukum suatu kaum sebelum mereka kedatangan rasul Tuhan yang mengajarkan tauhid dan kebajikan hidup.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jumlah nabi yang menerima ajaran tauhid itu lebih dari 100.000. Jadi mungkin-mungkin saja bahwa di lingkungan masyarakat Yunani, Mesir, India, dan China purba dulu sudah ada nabi yang mengajarkan ketuhanan dan kebajikan hidup. Dan siapa tahu di wilayah Nusantara ini dulu kala juga sudah ada nabi.

Karena alam semesta dan manusia sama-sama ciptaan Allah, adalah logis saja kalau di dalam hamparan semesta dan dalam diri manusia terdapat goresan lukisan Ilahi sehingga perilaku alam dan manusia mengandung keindahan, kebaikan, dan kebenaran apa pun etnik, suku,dan agamanya. Kehadiran rasul Allah yang membawa wahyu itu untuk mengingatkan yang lupa dan meneguhkan kebaikan yang sudah melekat serta mendidik dan menyempurnakan lagi ajaran Tuhan, terutama tentang tauhid.

Di lingkungan masyarakat Jawa, penghayatan pada nilainilai transenden begitu nyata. Pengaruh Hindu-Buddha tidak lenyap, lalu diperkuat oleh Islam. Berakar pada keyakinan kuat bahwa dunia fisik atau materi ini bukan rumah abadi manusia. Saya masih ingat, di masjid sebelum salat jamaah dimulai selalu diadakan puji-pujian dengan syairnya yang religius. Atau ketika orang tua menggendong anak sambil menidurkannya.

Samar-samar saya masih teringat syairnya: Eling-eling sira manungsa, nggonmu bungah eneng donya Malaikat juru pati, nglirak-nglirik maring sira. Nggone nglirik malaikat, arep nyabut nyawanira Nggone nyabut angenteni, dawuhe kang Maha Suci. (Ingatlah hai manusia, engkau bersenang-senang hidup di dunia Malaikat maut senantiasa mengintaimu. Dia mengintai untuk mencabut nyawamu. Kapan waktunya, hanya menunggu perintah Tuhan yang Maha Suci).

Tidak hanya di kampungku, di negeri Arab tempat Islam pertama lahir dan berkembang pasti terjadi hubungan dialektis dan akulturatif antara nilai-nilai Islam dan budaya Arab. Apa yangdisebutmakanan,pakaian, dannyanyian Arab sifatnya pasti kultural.

Problem orang-orang desa muslim seperti masyarakat saya lalu menganggap apa yang serba-Arab itu baik dan mesti sejalan dengan Islam. Padahal tidak selalu demikian halnya. Tapi saya selalu menghargai unsur budaya yang baik-baik dari mana pun datangnya. Sayang jika pikiran dan hati hanya dijadikan keranjang untuk mengumpulkan koleksi hal-hal yang buruk.