FU UIN JakartaAuditorium Utama, BERITA UIN Online– Agama-agama sepakat menempatkan kepemimpinan sebagai tugas mulia untuk melayani dan memuliakan umat manusia. Untuk itu, setiap tugas kepemimpinan harus dilaksanakan dengan penuh komitmen, kesungguhan, dan totalitas dalam melayani umat manusia.

Demikian benang merah konferensi internasional Fakultas Ushuluddin bertema Bill of Human Rights: On Falsafa of Leadership in Interreligious Perspectives di Auditorium Harun Nasution, Selasa, (20/09). Konferensi yang dibuka Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA ini dihadiri sejumlah pemikir filsafat lintas agama.

Beberapa pemikir yang hadir dan menjadi narasumber adalah Dr M Hosein Safakhah (Ketua Pusat Studi Islam Azad University Iran), Abdul Aziz Ph.D (intelektual Islam), Romo Libertus Sitorus (cendekiawan-rohaniawan Katolik), Budi Suniarto SE MBA (Ketua Bidang Pemuda Majlis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia), I Nengah Dana (Hindu), Bikkhu Dharmasubbo (Buddha),   dan Pdt Dr Martin Lukito Sinaga (Teolog dan Cendikiawan Kristen).

Dalam paparannya, Aziz mengungkapkan, Islam menempatkan kepemimpinan sebagai khodimul ummah atau pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Berdasar itu, seorang pemimpin harus melayani rakyat yang dipimpinnya dengan penuh rasa cinta dan keikhlasan. Terkait dengan filosofi kepemimpinan tersebut, maka sesungguhnya sebuah kekuasaan dalam wujud apapun merupakan amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

“Dengan demikian, moralitas dan etika dalam pelaksanaan sebuah amanah kekuasaan haruslah menjadi fondasi yang kokoh agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan wewenang kekuasaan tersebut,” tegas Aziz.

Senada dengan pandangan, Lukito juga mengungkapkan pandangan ke-Kristenan yang menempatkan kepemimpinan sebagai pelayanan. Karenanya, seorang pemimpin adalah orang yang melayani. “Seperti yang diteladankan oleh Kristus, kepemimpinan Kristen menonjolkan kerendahan hati untuk melayani dan mengarahkan orang yang dipimpin dengan kasih tanpa mengabaikan ketegasan dan kedisiplinan,” paparnya. Dalam pandangan Katolik, Sitorus mengungkapkan, kepemimpinan merupakan tugas untuk menyampaikan pesan-pesan kepada umat manusia. Pesan-pesan demikian diletakkan dalam bentuk pemuliaan kemanusiaan dan semesta. “Ini merupakan suatu keharusan, suatu perintah agung,”  tuturnya. Adapun Lesmana menuturkan, kepemimpinan dalam tradisi keagamaan Khonghucu adalah tugas untuk memuliakan harkat dan martabat manusia yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Pemuliaan bisa dilakukan dengan penumbuhan sikap bijak terhadap sesama umat manusia dan alam semesta lainnya. (sf/njs)

Share This