Ade Armando: Patahkan Mitos-mitos Keliru tentang Menulis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Gedung FUF, UIN Online — Banyak orang memiliki ide dan keinginan untuk menulis. Tapi banyak pula mitos yang membuat ide dan keinginan tersebut hanya menjadi angan tanpa karya yang dihasilkan.

Setidaknya ada lima mitos yang disampaikan pengamat media, Dr Ade Armando dalam Workshop Jurnalistik yang dilaksanakan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), di Ruang Meeting FUF, Rabu (21/10).

Menginginkan kesempurnaan, faktor pertama usaha membuat tulisan dan mempublikasikannya seringkali gagal. “Perasaan bahwa tulisan masih banyak kekurangan, belum layak dipublikasikan menjadikan tulisan hanya ada di computer atau buku catatan,” jelas Ade.

Ade menjelaskan, tidak ada sebuah tulisan yang sempurna. Bahkan, jika yang menulis itu seorang ahli pasti selalu ada kekurangan. Namun, jangan jadikan itu alasan yang menyurutkan tekad.

Terkadang seorang penulis pemula menjadikan mitos hanya pakar yang boleh menulis sebagai ketakutan. “Banyak penulis pemula tidak memiliki kepercayaan diri. Padahal bisa jadi tulisan mahasiswa semester tiga lebih bagus daripada dosennya. Jadi, tidak hanya pakar yang bisa menulis,” tuturnya.

Mitos lain bahwa menulis membutuhkan banyak waktu, harus punya tema fenomenal dan penulis pintar tata bahasa, hal keliru yang justru banyak menjadikan menulis sebagai pekerjaan sulit.

“Jika yang ditulis jurnal atau artikel ilmiah memang sulit karena butuh riset dan penelitian. Tapi kalau yang ditulis novel, tulisan yang berdasarkan pengalaman pribadi, justru akan menjadi hal menyenangkan,” tambahnya.

Penulis seperti Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer membutuhkan proses yang cukup panjang untuk sampai pada tulisan mereka yang bagus dan dipuji banyak orang. Untuk pemula butuh banyak latihan, ide-ide dikembangkan dari diri sendiri, pergaulan, kuliah, ataupun situs, dengan begitu banyak tulisan yang bisa dibuat.

Selain Ade Armando, turut memberikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik Redaktur Senior Kompas, Maria Hartiningsih. Dia lebih banyak berbicara tentang teknik menulis berita langsung yang berkaitan dengan unsure berita 5W + 1H.

Pelatihan jurnalistik ini merupakan program fakultas untuk memotivasi mahasiswa ushuluddin agar lebih menyukai membaca dan menulis. Diikuti sekitar 30 mahasiswa yang perwakilan setiap program studi. Pelatihan berlangsung selama dua hari, 21 dan 22 Oktober. []

Ade Armando: Patahkan Mitos-mitos Keliru tentang Menulis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Gedung FUF, UIN Online — Banyak orang memiliki ide dan keinginan untuk menulis. Tapi banyak pula mitos yang membuat ide dan keinginan tersebut hanya menjadi angan tanpa karya yang dihasilkan.

Setidaknya ada lima mitos yang disampaikan pengamat media, Dr Ade Armando dalam Workshop Jurnalistik yang dilaksanakan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), di Ruang Meeting FUF, Rabu (21/10).

Menginginkan kesempurnaan, faktor pertama usaha membuat tulisan dan mempublikasikannya seringkali gagal. “Perasaan bahwa tulisan masih banyak kekurangan, belum layak dipublikasikan menjadikan tulisan hanya ada di computer atau buku catatan,” jelas Ade.

Ade menjelaskan, tidak ada sebuah tulisan yang sempurna. Bahkan, jika yang menulis itu seorang ahli pasti selalu ada kekurangan. Namun, jangan jadikan itu alasan yang menyurutkan tekad.

Terkadang seorang penulis pemula menjadikan mitos hanya pakar yang boleh menulis sebagai ketakutan. “Banyak penulis pemula tidak memiliki kepercayaan diri. Padahal bisa jadi tulisan mahasiswa semester tiga lebih bagus daripada dosennya. Jadi, tidak hanya pakar yang bisa menulis,” tuturnya.

Mitos lain bahwa menulis membutuhkan banyak waktu, harus punya tema fenomenal dan penulis pintar tata bahasa, hal keliru yang justru banyak menjadikan menulis sebagai pekerjaan sulit.

“Jika yang ditulis jurnal atau artikel ilmiah memang sulit karena butuh riset dan penelitian. Tapi kalau yang ditulis novel, tulisan yang berdasarkan pengalaman pribadi, justru akan menjadi hal menyenangkan,” tambahnya.

Penulis seperti Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer membutuhkan proses yang cukup panjang untuk sampai pada tulisan mereka yang bagus dan dipuji banyak orang. Untuk pemula butuh banyak latihan, ide-ide dikembangkan dari diri sendiri, pergaulan, kuliah, ataupun situs, dengan begitu banyak tulisan yang bisa dibuat.

Selain Ade Armando, turut memberikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik Redaktur Senior Kompas, Maria Hartiningsih. Dia lebih banyak berbicara tentang teknik menulis berita langsung yang berkaitan dengan unsure berita 5W + 1H.

Pelatihan jurnalistik ini merupakan program fakultas untuk memotivasi mahasiswa ushuluddin agar lebih menyukai membaca dan menulis. Diikuti sekitar 30 mahasiswa yang perwakilan setiap program studi. Pelatihan berlangsung selama dua hari, 21 dan 22 Oktober. []