Abudin Nata: Ramadhan Bulan Kebersamaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone



Masjid Al Jamiah,  UIN Online - Ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk merajut tradisi kebersamaan di antara umat Islam. Hal ini tercermin dalam kegiatan sehari-hari seperti buka bersama keluarga dan shalat tarawih berjamaah. Karena itu bulan puasa dianggap sebagai bulan yang paling banyak memberikan pendidikan kebersamaan pada diri manusia.

 

“Buka puasa bersama, misalnya, memberikan pendidikan kebersamaan dalam keluarga. Orang tua makin dekat dengan anak dan istri. Antarkeluarga juga makin dekat dengan tetangga,” kata Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah Prof Dr Abuddin Nata dalam Bincang-bincang Ramadhan sekaligus buka puasa bersama sivitas akademika UIN Jakarta di Masjid Al-Jamiah, Student Center, Jumat (11/9).

 

Di samping mengandung kebersamaan, lanjut dia, bulan yang penuh barakah ini juga mendidik manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di bulan suci ini, pahala amal ibadah akan dilipatgandakan. Baik shalat, sadaqah, infak, maupun ibadah lainnya. Sehingga peluang menjadikan diri bertakwa kepada Allah terbuka lebar.

 

Ramadhan juga disebut sebagai bulan yang mengandung nilai multi-dimensional dan multi-material, karena banyak memberikan keberkahan, kebersamaan dan kesatuan dalam berbagai aspek kehidupan,” katanya.

 

Abudin menjelaskan, indikator keberhasilan orang yang berpuasa dapat dilihat dari kecerdasan spiritualnya. Apakah ada kebersamaan dalam shalat berjamaah, kebersamaan dalam hidup atau sakinah, dan kebersamaan antara ruh, badan, dan jiwa yang melekat dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya kerjasama untuk melakukan sesuatu yang terbaik.

 

“Kebersamaan dan kerjasama akan menghasilkan sesuatu yang sangat berguna dalam kehidupan manusia dalam menata kehidupan yang lebih baik. Seperti Piramida di Mesir, menara Eiffel di Paris, dan Candi Borobudur di Yogyakarta yang merupakan buah dari kebersamaan manusia jaman dahulu,” kata Abudin bertamsil.

 

Untuk membangun kebersamaan dengan orang lain, tambah Abudin, maka perlu adanya take and give atau adanya saling memberi dan menerima, adanya kejujuran, mempunyai rasa kebersamaan terhadap sesama yang tinggi, mempunyai jiwa silaturahmi dan terakhir pada saat bersalaman diharapkan menatap wajah, karena mengandung energi positif yang menyebabkan komunikasi yang sangat intens. [Hamzah Farihin]

Abudin Nata: Ramadhan Bulan Kebersamaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone



Masjid Al Jamiah,  UIN Online - Ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk merajut tradisi kebersamaan di antara umat Islam. Hal ini tercermin dalam kegiatan sehari-hari seperti buka bersama keluarga dan shalat tarawih berjamaah. Karena itu bulan puasa dianggap sebagai bulan yang paling banyak memberikan pendidikan kebersamaan pada diri manusia.

 

“Buka puasa bersama, misalnya, memberikan pendidikan kebersamaan dalam keluarga. Orang tua makin dekat dengan anak dan istri. Antarkeluarga juga makin dekat dengan tetangga,” kata Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah Prof Dr Abuddin Nata dalam Bincang-bincang Ramadhan sekaligus buka puasa bersama sivitas akademika UIN Jakarta di Masjid Al-Jamiah, Student Center, Jumat (11/9).

 

Di samping mengandung kebersamaan, lanjut dia, bulan yang penuh barakah ini juga mendidik manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di bulan suci ini, pahala amal ibadah akan dilipatgandakan. Baik shalat, sadaqah, infak, maupun ibadah lainnya. Sehingga peluang menjadikan diri bertakwa kepada Allah terbuka lebar.

 

Ramadhan juga disebut sebagai bulan yang mengandung nilai multi-dimensional dan multi-material, karena banyak memberikan keberkahan, kebersamaan dan kesatuan dalam berbagai aspek kehidupan,” katanya.

 

Abudin menjelaskan, indikator keberhasilan orang yang berpuasa dapat dilihat dari kecerdasan spiritualnya. Apakah ada kebersamaan dalam shalat berjamaah, kebersamaan dalam hidup atau sakinah, dan kebersamaan antara ruh, badan, dan jiwa yang melekat dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya kerjasama untuk melakukan sesuatu yang terbaik.

 

“Kebersamaan dan kerjasama akan menghasilkan sesuatu yang sangat berguna dalam kehidupan manusia dalam menata kehidupan yang lebih baik. Seperti Piramida di Mesir, menara Eiffel di Paris, dan Candi Borobudur di Yogyakarta yang merupakan buah dari kebersamaan manusia jaman dahulu,” kata Abudin bertamsil.

 

Untuk membangun kebersamaan dengan orang lain, tambah Abudin, maka perlu adanya take and give atau adanya saling memberi dan menerima, adanya kejujuran, mempunyai rasa kebersamaan terhadap sesama yang tinggi, mempunyai jiwa silaturahmi dan terakhir pada saat bersalaman diharapkan menatap wajah, karena mengandung energi positif yang menyebabkan komunikasi yang sangat intens. [Hamzah Farihin]