Abdul Hadi WM: Perdebatan Musik Belum Sentuh Taraf Intrinsik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Aula SC, UINJKT Online -
 Sastrawan Prof Abdul Hadi WM menilai, perdebatan halal haramnya musik dalam agama Islam belum menyentuh taraf intrinsik musik itu sendiri. Selama ini, perdebatan baru sampai tingkat definisi musik, yakni sebagai ungkapan seni, atau sekadar ungkapan kesedihan dan huru-hara. 


Hal itu disampaikan Abdul Hadi dalam seminar bertajuk ”Musik, Religiusitas dan Spiritualitas” yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Musik Mahasiswa (KMM) RIAK di Aula Student Center, Rabu (19/11).

Dalam sejarah peradaban Islam, lanjut dia, terdapat perdebatan sengit dalam memahami musik, terutama di kalangan ahli fiqh. Mereka yang mengharamkan mengacu pada sejumlah hadits yang jumlahnya kurang lebih sama dengan hadits yang membolehkannya. Namun, para cendekiawan umumnya memperbolehkan musik dengan landasan anjuran Allah Swt untuk memperindah suara dan lagu dalam membacakan kitab suci al-Qur’an.

Sementara itu, para filosof dan kaum sufi justru menaruh perhatian dan apresiasi yang cukup tinggi terhadap seni musik. Sebab, mereka menganggap musik dan seni suara merupakan ekpresi jiwa yang penting dalam membangun kebudayaan dan peradaban Islam. Bagi para filosof dan kaum sufi, seni musik dan suara merupakan uangkapan keselarasan nada dan yang diperuntukkan bagi pendengaran, sebagaimana kaligrafi yang diperuntukkan untuk mata.

Bahkan menurut Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya al-Muqadimah, seni musik menandai maju mundurnya sebuah peradaban. Bersamaan dengan bangkitnya peradaban Islam, seni musik pun turut maju. Sebaliknya, ketika peradaban Islam mundur, seni musik pun mundur.

Karena itu Abdul Hadi menganjurkan agar jangan terjebak pada perdebatan halal atau haramnya musik dalam Islam. ”Musik jangan dijadikan sebagai doktrin haram, karena pernyataan itu tidak selamanya terbukti dan tidak mendasar pasti benar. Keberadaan semua entitas tidak boleh luput dari pembuktian empiris.” tegas pengamat musik yang juga dosen di Universitas Paramadina ini. [Nif/Ed]

Abdul Hadi WM: Perdebatan Musik Belum Sentuh Taraf Intrinsik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Aula SC, UINJKT Online -
 Sastrawan Prof Abdul Hadi WM menilai, perdebatan halal haramnya musik dalam agama Islam belum menyentuh taraf intrinsik musik itu sendiri. Selama ini, perdebatan baru sampai tingkat definisi musik, yakni sebagai ungkapan seni, atau sekadar ungkapan kesedihan dan huru-hara. 


Hal itu disampaikan Abdul Hadi dalam seminar bertajuk ”Musik, Religiusitas dan Spiritualitas” yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Musik Mahasiswa (KMM) RIAK di Aula Student Center, Rabu (19/11).

Dalam sejarah peradaban Islam, lanjut dia, terdapat perdebatan sengit dalam memahami musik, terutama di kalangan ahli fiqh. Mereka yang mengharamkan mengacu pada sejumlah hadits yang jumlahnya kurang lebih sama dengan hadits yang membolehkannya. Namun, para cendekiawan umumnya memperbolehkan musik dengan landasan anjuran Allah Swt untuk memperindah suara dan lagu dalam membacakan kitab suci al-Qur’an.

Sementara itu, para filosof dan kaum sufi justru menaruh perhatian dan apresiasi yang cukup tinggi terhadap seni musik. Sebab, mereka menganggap musik dan seni suara merupakan ekpresi jiwa yang penting dalam membangun kebudayaan dan peradaban Islam. Bagi para filosof dan kaum sufi, seni musik dan suara merupakan uangkapan keselarasan nada dan yang diperuntukkan bagi pendengaran, sebagaimana kaligrafi yang diperuntukkan untuk mata.

Bahkan menurut Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya al-Muqadimah, seni musik menandai maju mundurnya sebuah peradaban. Bersamaan dengan bangkitnya peradaban Islam, seni musik pun turut maju. Sebaliknya, ketika peradaban Islam mundur, seni musik pun mundur.

Karena itu Abdul Hadi menganjurkan agar jangan terjebak pada perdebatan halal atau haramnya musik dalam Islam. ”Musik jangan dijadikan sebagai doktrin haram, karena pernyataan itu tidak selamanya terbukti dan tidak mendasar pasti benar. Keberadaan semua entitas tidak boleh luput dari pembuktian empiris.” tegas pengamat musik yang juga dosen di Universitas Paramadina ini. [Nif/Ed]