Abdul Hadi: Bangkitkan Kembali Sastra Melayu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Marisha Arianti Agustin

Gedung FAH, BERITA UIN Online - Sastra Melayu perlu dibangkitkan kembali untuk menghadirkan dan memperbarui sastra yang ada sekarang ini, yakni bersifat dangkal dan sementara.

Hal tersebut diungkapkan Prof Dr Abdul Hadi WM, akademisi sastrawan yang menjadi salah satu pembicara pada seminar nasional bertema “Sastra, Islam, dan Kemanusiaan” yang diselenggarakan  Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di teater lantai empat Fakultas Adab dan Humaniora, Rabu (9/11).

Menurut Abdul Hadi, pada masa sastra Melayu klasik terdapat dua metafora yang digunakan para penyair, yaitu metafora dagang dan metafora fakir. Metafora dagang berarti penyair mengisahkan tentang perantauan, sedangkan metafora fakir berarti penyair mengisahkan tentang kemiskinan dan penderitaan.

Pada masa itu, dagang bukan untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. “Dagang adalah sebuah jalan yang bersifat sementara menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat,” ujarnya. Sedangkan fakir lebih menunjukkan kehidupan yang sulit pada masa itu.

Banyak penyair Sufi menggunakan metafora dagang sebagai ide karena dagang bersifat independen atau tidak terikat. “Sedangkan para ulama pada umumnya terikat dengan pemerintah pada masa itu,” ungkapnya.

Prof Dr Sapardi Djoko Damono, akademisi sastrawan yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini mengungkapkan pada jaman penjajahan Belanda, sastra seperti puisi, syair, dan sebagainya dianggap sebagai barang liar. “Sastra dianggap sebagai propaganda untuk menjatuhkan pemerintahan Hindia Belanda,” tuturnya.

Saat itu, para penyair kebanyakan adalah sastrawan Belanda dan buku-buku sastra yang diterbitkan juga berasal dari Belanda. “Pribumi tidak diperbolehkan berkarya, sehingga pada masa itu sastra karya pribumi sedikit,” lanjutnya.

Mereka berharap, generasi sastrawan sekarang membangkitkan kembali sastra Melayu yang mulai terlupakan. “Tidak hanya mahasiswa jurusan sastra saja, tetapi siapa pun bisa menciptakan karya sastra Melayu, sehingga generasi yang akan datang masih mengenali sastra Melayu sebagai bagian dari budaya kita,” katanya.