51 Pembimbing Siap Dampingi Peserta KKN

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

RSU, UINJKT Online — Sedikitnya 51 pembimbing saat ini tengah disiapkan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat atau LPM untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa UIN Jakarta yang akan digelar mulai pertengahan Juli ini. Kelimapuluh satu pembimbing itu adalah dosen dari berbagai keahlian dan berasal dari sejumlah fakultas. Mereka di antaranya akan bertugas untuk mengadakan bimbingan terhadap para peserta KKN, terutama selama berada di lokasi.

Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari saat memberikan pengarahan kepada para pembimbing KKN di Ruang Sidang Utama (RSU), Senin (14/7), mengatakan, tugas para pembimbing harus mengajarkan tanggung jawab kepada para peserta KKN, terutama dalam memilih lokasi dan membuat program kerja. “Citra UIN juga harus dijaga, pembimbing harus memantau perilaku mahasiswa. Pembimbing harus memberikan kinerja yang terbaik bagi mahasiswa,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengusulkan kepada LPM agar dalam melaksanakan KKN tidak lagi berbasis desa, tetapi berbasis tematik seperti menangani masalah anak jalanan, menyantunai kaum dhu’afa, dan sebagainya. KKN model ini, kata Jamhari, sering dilakukan di antaranya oleh UI dan UGM.

”Saya ingin dalam pelaksanaan KKN ke depan UIN Jakarta dapat mewujudkan model tematik tadi. Jadi, mahasiswa sudah tahu apa yang harus diperbuat saat berada di lapangan,” katanyanya.

Sementara itu, Ketua LPM Dr Daud Effendy menjabarkan, ada tiga program yang harus dilaksanakan oleh para peserta KKN. Pertama, program khusus, yakni berdasarkan kompetensi masing-masing mahasiswa. Dalam hal ini, tidak semua peserta KKN harus berorientasi kepada mengajar di sekolah, karena mahasiswa UIN Jakarta kini sudah beragam disiplin ilmu. Kedua, program umum, yang diangkat oleh kelompok KKN. Ketiga, program tambahan seperti talenta yang dimiliki mahasiswa yang bisa diajarkan kepada masyarakat.

”Sebagai contoh, jika ada di antara mahasiswa itu memiliki keahlian pencak silat, ia bisa mengajarkannya kepada masyarakat. Nah, itu kan bagus,” katanya.

 

 

51 Pembimbing Siap Dampingi Peserta KKN

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

RSU, UINJKT Online — Sedikitnya 51 pembimbing saat ini tengah disiapkan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat atau LPM untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa UIN Jakarta yang akan digelar mulai pertengahan Juli ini. Kelimapuluh satu pembimbing itu adalah dosen dari berbagai keahlian dan berasal dari sejumlah fakultas. Mereka di antaranya akan bertugas untuk mengadakan bimbingan terhadap para peserta KKN, terutama selama berada di lokasi.

Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari saat memberikan pengarahan kepada para pembimbing KKN di Ruang Sidang Utama (RSU), Senin (14/7), mengatakan, tugas para pembimbing harus mengajarkan tanggung jawab kepada para peserta KKN, terutama dalam memilih lokasi dan membuat program kerja. “Citra UIN juga harus dijaga, pembimbing harus memantau perilaku mahasiswa. Pembimbing harus memberikan kinerja yang terbaik bagi mahasiswa,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengusulkan kepada LPM agar dalam melaksanakan KKN tidak lagi berbasis desa, tetapi berbasis tematik seperti menangani masalah anak jalanan, menyantunai kaum dhu’afa, dan sebagainya. KKN model ini, kata Jamhari, sering dilakukan di antaranya oleh UI dan UGM.

”Saya ingin dalam pelaksanaan KKN ke depan UIN Jakarta dapat mewujudkan model tematik tadi. Jadi, mahasiswa sudah tahu apa yang harus diperbuat saat berada di lapangan,” katanyanya.

Sementara itu, Ketua LPM Dr Daud Effendy menjabarkan, ada tiga program yang harus dilaksanakan oleh para peserta KKN. Pertama, program khusus, yakni berdasarkan kompetensi masing-masing mahasiswa. Dalam hal ini, tidak semua peserta KKN harus berorientasi kepada mengajar di sekolah, karena mahasiswa UIN Jakarta kini sudah beragam disiplin ilmu. Kedua, program umum, yang diangkat oleh kelompok KKN. Ketiga, program tambahan seperti talenta yang dimiliki mahasiswa yang bisa diajarkan kepada masyarakat.

”Sebagai contoh, jika ada di antara mahasiswa itu memiliki keahlian pencak silat, ia bisa mengajarkannya kepada masyarakat. Nah, itu kan bagus,” katanya.