2011, Lemlit Akan Lakukan Berbagai Perubahan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

 

Lembaga penelitian (Lemlit) merupakan tulang punggung UIN Jakarta menuju world class research university. Karena itu berbagai upaya terus dilakukan Lemlit untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian sivitas akademika UIN Jakarta. Tahun 2011 Lemlit akan melakukan sejumlah perubahan, di antaranya meningkatkan jumlah judul penelitian dari  63 menjadi 88 judul, memperketat pengarahan dan pengawasan penelitian, dan mempublikasikan hasil penelitian dalam bentuk jurnal, buku, hingga website Lemlit. Apakah perubahan itu berpengaruh terhadap anggaran dana yang disediakan? Untuk mengatahui lebihlanjut, Hamzah Farihin dari BERITA UIN Online mewawancarai Ketua Lemlit Abbas Ghazali Ph.D, di ruangan kerjanya, Gedung Rektorat lantai tiga, Kamis, 13 Januari 2011. Berikut petikannnya.

Apa fokus penelitian yang akan dilakukan Lemlit setahun ke depan?

Pada dasarnya penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian (Lemlit) UIN Jakarta merupakan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni dilakukan oleh para dosen. Penelitian ini berfungsi sebagai upaya menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia imu pengetahuan, masyarakat, dan bangsa. Bagi dosen yang bersangkutan, penelitian diharapkan dapat memperdalam, memperkaya, memperluas, dan mengupdate pengetahuan yang diminatinya, yang pada gilirannya akan menjadi bahan pengajaran di kelas untuk mahasiswa.

Lemlit tidak menfokuskan penelitian pada bidang tertentu saja, sebab UIN Jakarta kini telah memiliki berbagai bidang keilmuan. Karena itu penelitian tidak bisa difokuskan ke salah satu bidang ilmu, karena ini merupakan universitas. Setiap tahun penelitiannya difokuskan untuk semua bidang ilmu, yang mana bidang ilmu menyebar dan harus mendapatkan kesempatan yang sama. Dengan anggaran yang ada dan sangat terbatas ini kami alokasikan dan distribusikan seadil-adilnya bagi semua fakultas dengan pertimbangan proporsional, tergantung jumlah dosen masing-masing fakultas.

Bagaimana membagi porsi penelitian untuk para dosen? Apakah lemlit punya peneliti sendiri?

Penelitian bagi dosen-dosen di lingkungan UIN Jakarta dengan dana yang terbatas, tentu percepatan penelitian itu terbatas. Sekarang saja dari sekitar 850-an dosen yang ada di UIN Jakarta, setiap tahunnya yang berkesempatan melakukan penelitian sekitar 230 orang, jumlah penelitiannya sekitar 63 judul. Ada penelitian yang berkelompok, anggotanya ada yang dua orang, tiga orang,  dari total jumlah penelitian yang diberi kesempatan. Kami sengaja tidak memprioritaskan ke beberapa peneliti saja. Artinya bisa dikatakan kami tidak menganakemaskan salah satu dan menganaktirikan yang lain. Semuanya mempunyai hak yang sama untuk pengembangan semua bidang ilmu.

Kemudian selain itu ada jenis penelitian lain, yang sengaja dialokasikan bagi dosen-dosen tertentu. Penelitian ini didanai oleh lembaga lain yang mengajak kerjasama Lemlit. Kalau semacam itu, lembaga mana yang membutuhkan, secara aturan tidak menyalahi untuk bekerjasama, dan selama ini meskipun masih terbatas, yaitu dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional. Itu kerjasama tapi masih terbatas dan nilainya kecil. Ini ada aturannya, yaitu Kepres No 83, yang berbunyi tidak boleh mendirikan barang dan jasa penelitian, yang dananya dari APBN, yang dilakukan oleh lembaga negeri termasuk universitas, itu aturannya tidak boleh.  Semenjak ada peraturan itu pada 2003 dan mulai efektif 2005, maka tidak bisa lagi, semacam kerjasama dengan Kementerian atau pemerintah daerah, kalau mereka membutuhkan jasa penelitian konsultasi dan sejenisnya.

Saya sendiri tidak memahami hal itu. Kami hanya diajak Direktorat Pendidikan Masyarakat dalam rangka yang mereka sebut program peningkatan mutu masyarakat yang bekerjasama dengan 15 perguruan tinggi. Ke-15 perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi yang memiliki program pendidikan luar sekolah. Kami sebenarnya belum punya program pendidikan luar sekolah, kami punya Fakultas Tarbiyah. Tapi belum punya pendidikan luar sekolah, namun kebetulan, membutuhkan suatu kompetensi kajian dalam melakukan tentang biaya pendidikan masyarakat. Kebetulan direkturnya mengenal saya, yang dianggap mempunyai keahlian dalam bidang pembiayaan dan pendanaan pendidikan, kemudian saya diajak dan diminta tolong membantu dalam kapasitas saya sebagai ketua lembaga penelitian. Penelitian ini kami lakukan pada 2010.

Lantas, apakah di 2011 ini sudah ada lembaga yang mengajak kerjasama?

Untuk tahun 2011 belum ada tawaran  kerjasama riset dari lembaga manapun. Karena setiap awal tahun, lembaga-lembaga baru bisa merencanakan. Jadi sampai sekarang belum ada tawaran semacam itu. Karena setiap tahun anggaran yang berakhir sampai bulan Desember. Adapun tahun berikutnya berbeda lagi.

Lembaga apa saja yang selama ini bekerjasama dengan Lemlit?

Sebenarnya kami pernah mendapatkan kerjasama dalam bentuk lelang dari Kementerian Dalam Negeri, namanya sinkronisasi dan harmonisasi aturan perundang-undangan otonomi daerah dengan peraturan perundang-undangan sektoral dari masing-masing kementerian. Peraturan tersebut sering terjadi tumpang tindih dan kami pernah diundang untuk ikut tender. Dana yang digunakan adalah dana APBN, tapi itu memang ada kekhususan, karena pada dasarnya tidak boleh kecuali ada kekhususan. Pertama, keahliannya di bidang itu langka, yang tidak bisa ditenderkan secara umum, seperti kasus yang pertama tadi. Jadi karena keahliannya langka dan mencarinya susah, lalu dengan alasan yang kuat bisa pengecualian, kami juga dapat kesempatan itu tadi, dari Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan penelitian dan diundang bukan hanya kami sendiri, tapi ada lima perguruan tinggi yang di undang, itu awalnya undangan secara terbuka lewat media massa dan kami mengajukan proposal. Dari semua yang mendaftar dipilih lima, dari lima itu kami masuk. Yang lainnya adalah UI, ITB, UNISBA, dan Asosiasi Penelitian Pemerintah. Karena kelangkaan keahlian, maka dibolehkan. Kelima yang terpilih ini yang lebih lengkap. Tapi kemudian setelah dipilih lagi kami dapat pilihan yang kedua, dan yang pertama UI. Kekurangannya kami belum memadai dan mencukupi para peneliti tenaga di lingkungan di UIN Jakarta. Kami bersaing dengan perguruan tinggi  seperti UI dan sejenisnya.

Sebenarnya selain itu kami pernah ikut beberapa kali tender, tapi selalu tak pernah dapat. Pernah ada juga dari donor international yang di setiap tahunnya ada kesempatan terus, hanya saja setiap kami ikut tender sering kalah bersaing. Jadi kebetulan ketersediaan tenaga dosen belum bisa bersaing dengan para dosen atau para peneliti perguruan tinggi yang kebetulan lebih memadai, itu masalah utama di kami. Secara pribadi saya mampu masuk dan ikut tender, yang awalnya semacam diusulkan oleh stakeholder pemegang kebijakan di kementerian, untuk dijadikan sebagai ketua tim, dalam suatu kegiatan. Berdasarkan stakeholder tadi, dia bilang wakil menteri pendidikan, untuk beberapa nama diusulkan, salah satunya saya, dan saya dapat prioritas yang sama, dan bisa dikatakan lebih fasih untuk dijadikan sebagai ketua tim, dan itu sponsornya Bank Dunia.

Namun hal ini dilakukan kerja tim, lalu saya buat tim dari UIN Jakarta, karena saya sebagai ketua lembaga lemlit, lalu saya membentuk tim dari UIN Jakarta. Kmudian ketika disampaikan proposal itu, mereka me-riview dan melihat setiap anggota tim peneliti, ketika dilihat sampai anggota secara keseluruhan, tidak jadi dipilih, karena dilihatnya secara keseluruhan, karena oleh Bank Dunia dan Kementerian Pendidikan akan dilihat dari sisi semua angota tim tentu di sana agar hasilnya seperti yang mereka inginkan. Mereka mensyaratkan kualifikasi yang memadai dari semua anggota tim, secara perorangan saya sendiri bisa masuk dan diterima, tapi ketika membawa tim tidak diterima, karena yang dilihat tim secara keseluruhan, dan ini kesulitan lembaga penelitian kami.

Bagaimana dengan dana, judul, dan peserta/peneliti penelitian Lemlit tahun ini  jika dibandingkan tahun lalu?

Dari segi pendanaan pada tahun 2010 dengan tahun 2011 hampir sama. Pada 2010 Lemlit mendapatkan dana dari UIN Jakarta, APBN atau DIPA. Dari Kementerian Pendidikan dan bantuan pengembangan jurnal. Tahun 2011 angkanya hampir sama, judulnya ada 88 paket dengan dana Rp 1 milyar lebih. Sedangkan tahun lalu ada 63 judul, dari sisi judul meningkat. Hanya besaran anggarannya ada yang diturunkan misalnya untuk kolektif, kompetitif yang dulu kompetisi ini Rp 100 juta, nah sekarang diturunkan jadi Rp 50 juta, kemudian yang institusional dari Rp 50 juta dikurangi menjadi Rp 20 juta, sedangkan yang individual tetap, jadi judulnya bisa dibantu lebih banyak, untuk bisa mengakomodasi dosen lebih besar, menurunkan nilai peneliti institusional ini, tapi saya dengan dana yang terbatas, kami ingin mengarahkan pada dosen dan para peneliti agar dihasilkan peneliti yang lebih baik.

Perubahan apa saja yang dilakukan Lemlit untuk menghasilkan peneliti yang lebih baik?

Rencana pada tahun 2011 ini akan ada perubahan pengarahan dan pengawasan pada saat sedang melakukan penelitian itu, antara lain yang pertama, dari proposal yang masuk untuk didanai, kami lakukan penelitian para dosen, yang mengajukan penelitian itu harus mempresentasikan proposalnya, bukan hanya di hadapan tim penilai, tapi secara terbuka di hadapan sivitas akademika, jadi kami undang secara terbuka, lewat surat, spanduk, baliho, bahwa kami akan ada acara Research Day untuk presentasi proposal penelitian, dengan demikian para dosen yang membuat proposal akan lebih serius.

Pada tahun sebelumnya tidak demikian, namun saat periode saya lakukan hal tersebut. Setiap proposal dilakukan evaluasi dan presentasi penyajian oleh orang atau tim yang akan meneliti, dengan harapan mereka akan membuat proposal lebih baik, dan lebih serius. Kemudian kami nilai. Jadi lebi fair, lebih adil, dan transparan. Dan kami umumkan sehingga bisa diketahui orang banyak, sehingga orang menilai pantas tidak, orang tersebut dapat melakukan penelitian. Kemudian setelah melakukan penelitian kami lakukan sediakan konsultan selama perjalanan penelitian untuk tempat bertanya tentang penelitian ini agar lebih baik, kemudian kami juga akan lakukan, monitoring selama penelitian, lalu ketika hasil penelitiannya sudah ada, kami lakukan presentasi dan menyajikan hasil penelitian tersebut di depan tim evaluasi dan di depan sivitas akademika, sehingga bisa dilihat, disaksikan dan dievaluasi kembali.

Lemlit memiliki banyak sekali hasil penelitian dari dulu hingga sekarang, adakah lembaga atau pribadi yang pernah meminta atau memanfaatkan hasil penelitian tersebut?

Sebenarnya begini, kami mengharapkan hasil penelitian ini berguna bagi peneliti atau dosen sendiri sebagai bahan pengajaran mata kuliah yang diasuh. Penelitian itu akan memperdalam, memperluas, dan mengupdate pengetahuan, yang selanjutnya diajarkan kepada mahasiswa. Memang seharusnya hasil penelitian itu diajarkan kepada mahasiswa sehingga bermanfaat untuk kegiatan pembelajaran. Kalau yang itu sudah terjadi dan memang demikian.

Kemudian bagi masyarakat luas, kami baru bisa mengupayakan bagaimana hasil penelitian ini terpublikasi tersosialisasi secara luas. Sekarang yang paling efektif salah satu caranya dengan memposting hasil penelitian di website. Sekarang sedang proses menuju ke arah itu, meskipun kami ada kendala, dari sarana prasarana misalnya hardware, software, juga tenaganya, dan lagi-lagi kami terbentur dengan masalah anggaran yang sangat terbatas. Jadi arahnya ke sana dan sekarang sedang dalam proses, kami mengharap itu proses yang efektif. Kemudian cara lainnya mempublikasikan hasil penelitian lewat jurnal,  sebab jurnal media informasi, komunikasi yang ilmiah, hasil-hasil penelitian, dan secara substansi kami punya hal itu, kami arahkan dengan proses tadi, dan publikasikan lewat jurnal, dan bahkan kami juga bisa lakukan pelatihan dalam menulis jurnal pada dosen-dosen yang melakukan penelitian itu. Jadi bahan itu sudah ada, sebenarnya kami sudah minta pada rektorat, untuk lembaga penelitian ini diperbolehkan pengelompokkan bidang ilmu, sementara yang sekarang ada, hanya jurnal lintas budaya dan agama, yang sudah ada sejak dulu, tapi itu sesuai dengan namanya cenderung fokus ke agama, sedangkan bidang kami kan banyak, agama umum dan seterusnya, dan memberikan hasil penelitian ini di semua bidang ilmu.

Jadi penelitian itu di semua bidang ilmu, untuk mengakomodasi hasil penelitian ini sebagai jurnal. Paling tidak kami punya tiga macam jurnal, kalau boleh kami mengelompokkan pertama ilmu agama, kedua sains dan teknologi yang di dalamnya termasuk teknologi kedokteran, dan ketiga kami buat sosial humaniora, ekonomi dan sosial politik. Dan pihak rektorat masih melihat-lihat, tapi kami sendiri bersemangat seperti itu, kami melihat bisa apa tidak, karena kami masih ada semcam kegamangan. Memang dari izin rektorat ada, tapi implikasi ke  perangkatnya yang belum siap, akan tetapi untuk jurnal rektorat ingin melihat-lihat dulu.

Bagaimana dengan permintaan lembaga lain dari UIN Jakarta terkait hasil penelitian Lemlit?

Nah, terkait permintan hasil-hasil penelitian dari UIN Jakarta, sebenarnya kami publikasikan dilingkungan UIN Jakarta, misalnya di perupustakaan utama, di perpustkaan fakultas dan di ruangan Lemlit sendiri. Ada memang, mereka yang datang perorangan atau lembaga meminta hasil penelitian tersebut, dan kami berikan hasil penelitian tersebut secara langsung, kalau memang ada copy-annya hasil penelitian itu. Kami sediakan dan berikan bagi yang meminta, kami tidak melakukan transaksi untuk menjual  hasil penelitian ini, karena ini merupakan dana pemerintah, kami hanya sebatas memberi kalau copy-annya masih ada sebatas jumlah yang tersedia, mereka yang datang ada yang perorangan dan lembaga.

Tapi belum kami rasakan menyebar secara luas dan untuk menyebar luas yaitu cara tadi posting di website, jurnal, dan cetak. Bahkan kami berpikir lebih jauh hasil penelitian ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris  dan bahasa Arab, kalau memang ingin dikenal secara luas kami sudah punya rencana dari 2010-2013, dari keadaan yang sekarang, yang juga dalam upaya UIN Jakarta ingin menjadi world class university. Maka peranan  penelitian ini sangat penting dan sangat strategis. Kami lakukan penelitian dengan dosen-dosen tadi dan lakukan bimbingan, seperti yang saya katakan tadi, penyajian proposal, mempresentasikan proposal, melakukan bimbingan saat berlangsungnya penelitian, presentasi hasil penelitian yang mengundang sivitas akademika, kemudian melakukan evaluasi, dan memberikan pelatihan untuk membuat jurnal, dan posting di website, jurnal dan menyebarkan di semua perpustakaan baik perpustakaan umum maupun fakultas. Kami juga ingin membuat perpustkaan khusus riset, misalnya hardcopy maupun digital, kemudian kami adakan jasa konsultasinya, untuk bisa mendukung hal ini semua, kemudian untuk memperluasnya kami lakukan membantu untuk mempublikasikannya, dan melakukan kerjasama baik nasional maupun international. Sebenarnya saya sudah punya networking ini, di kalangan pemerintan saya sudah dikenal dan saya sering diundang sebagai konsultan, dan saya sering melakukan penelitian secara perorangan, tapi ketika saya bawa tim, lalu nilai secara keseluruhan hal itu yang dipertaruhkan.

Bagaimana agar para peneliti dari UIN Jakarta bisa bersaing dengan peneliti dari lembaga lain?

Ya kami harus meningkatkan kapasitas dari dosen itu dan ada beberapa aspek yang harus mereka lakukan. Yang dilihat adalah aspek pendidikan, misalnya bidang ilmunya apa, kemudian mereka dapat pendidikan dari mana, kemudian pengalaman mengajar maupun meneliti apa saja dan berapa banyak. Dan itu akan dilihat semua, serta hasil penelitiannya bagaimana, itu merupakan aset dari seorang peneliti atau dosen yang dibutuhkan di berbagai pihak yang membutuhkan para peneliti itu. Dan untuk membangun hal itu semua, pasti mereka ditanya, misalnya pendidikannya apa S1 atau S2, di mana kuliahanya di dalam atau di luar negeri, mengajar di bidang apa, mata kuliahnya apa, kemudian pernah meneliti apa saja yang ditelitinya dan berapa banyak dan dia pernah bekerjasama sebagai peneliti atau sebagai konsultan. Dan semua tergantung di CV (curriculum vitae red.), dan kami akan di-cross check.

Kemudian bagaimana agar kemampuan mereka meningkat, ya berbagai aspek tadi semuanya ditingkatkan, pendidikannya maupun pengalamannya. Saya sendiri juga berupaya juga membantu meningkatkan kapasitas itu, dengan menfasilitasi kegiatan penelitian, kemudian tahun ini dengan adanya banyak judul, yaitu 88 paket, sekitar 200 dosen, sehingga mereka dapat memberikan pengalaman penelitian, termasuk pembinaan, evaluasi, monitoring, meningkatkan kuantitas dan kualitas serta tergantung dari akses para dosen dalam penelitian. Kemudian melalui pelatihan ini, juga berupaya meningkatkan kemampuan mereka, dan ini semua membantu meningkatkan kapasitas itu. Tapi seberapa besar kami lakukan, ya itu tergantung anggarannya, jika kecil ya daya dorongnya kecil. Untuk memfasilitasi ini semua, dan berbagai daya kebutuhan tadi, berimplikasi pada dana dan anggaran, memang cukup sulit kami lakukan, dan ini memang untuk jangka waktu empat sampai lima tahun baru bisa berjalan efektif dan terlaksana dengan baik.

Ada anggapan bahwa para dosen hanya mau melakukan penelitian jika ada anggarannya, tapi jika tidak ada anggarannya mereka tidak mau melalukan penelitian. Bagimana Anda menyikapi hal itu?

Sebenarnya pemerintah telah berupaya meningkatkan kesejahteraan dosen melalui tunjangan professional. Mereka yang menerima tunjangan itu mendapatkan tunjangan dan satu kali gaji pokok. Bahkan guru besar, selain tunjangan profesi dan gaji pokok, juga dua kali tunjangan gaji pokok. Berkaitan dengan hal itu, ada klausul agar, dosen dan juga guru besar tadi meningkatkan pengetahuannya. Mungkin secara implisit terbesit adanya tambahan kesejahteraan atau pendapaan tadi digunakan untuk melakukan penelitian. Ada semacam itu, meskipun itu tidak secara ekplisit. Hanya saja kalau dilihat dari aspek yang lain, untuk penelitian ini butuh kegiatan tersendiri, butuh waktu dan bahkan butuh dana, sehingga untuk kebutuhan dana ini berapa, lalu kalau ditutup dengan adanya tunjangan gaji pokok berapa, bisa menutupi tidak? Dan terutama jenis penelitiannya, apa itu penelitiannya dapat ditutup atau tidak, ada yang butuh dana besar dan ada juga butuh dana kecil, tapi seberapa jauh dana penelitian bisa ditutup.

Tapi semua itu tergantung dari kesadaran dari dosen itu sendiri. Ada tidak keinginan kuat untuk melakukan penelitian. Jika ada maka dia akan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mendanai penelitiannya sendiri. Tapi memang secara umum kebutuhan dana untuk melakukan penelitian itu besar. Karena itu jika dilihat dari pendapatan dosen, jelas sangat kecil untuk melakukan penelitian. Tapi mungkin saja dengan semangat dosen mau meneliti dengan dana sendiri. Tapi saya yakin, kebutuhan dana untuk melakukan penelitian lebih besar daripada pendapatan yang diterimanya.

Terakhir, bagaimaha Anda melihat lembaga penelitian UIN Jakarta Jakarta?

Ya, Alhamdulillah UIN Jakarta sudah memiliki lembaga penelitian, ada ruang kantor seperti ini dan juga ada anggarannya, sehingga kami bisa melakukan penelitian terutama untuk dosen.  Tahun kemarin kami bisa melakukan penelitian 63 judul dan sekarang 83 judul. Hanya saja kalau dilihat proporsinya belum sesuai yang diharapkan. Karena penelitian, selain sebagai salah satu tri dharma perguruan tinggi, juga merupakan keharuasan bagi dosen. Apalagi UIN Jakarta bertekad menajdi word class university. Seharusnya proporsi terbesarnya di penelitian sehingga hasil riset kami akan menjadi rujukan kalangan akademik dari berbagai negara. Mengingat perananan penelitian yang demikai besar, maka mau tidak mau ketersediaan anggarannya-pun harus memadai. []