14 PTAIN Ikuti Workshop Pengendalian Internal

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sebanyak  14  Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) mengikuti workshop pengendalian internal di UIN Jakarta selama tiga hari, sejak Rabu sampai dengan Jum’at, 27-29 Juni 2012. 15 PTAIN yang ikut dalam kegiatan tersebut adalah UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Sultan Syarif Riau.

Selanjutnya adalah IAIN Ar-Raniry Aceh, IAIN Sumatera Utara, IAIN Wali Songo Semarang, IAIN Raden Intan Lampung, IAIN Maulana Sultan Hasanuddin Banten,  IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan IAIN Raden Fatah Palembang.

Sedangkan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) hanya STAIN Palangkaraya yang ikut serta dalam acara yang digelar di dua tempat ini, yaitu di UIN Jakarta dan Uiniversitas Terbuka (UT) Pondok Cabe, Tengerang Selatan.

Selain diikuti oleh kalangan PTAIN, Universitas Tirtayasa Serang dan sejumlah kalangan swasta juga turut serta menjadi peserta workshop bertajuk “Develop Good System for More Spectacular Governance” ini.

Mereka yang menjadi peserta workshop ini adalah para sejumlah pembantu rektor/wakil ketua bidang administrasi umu, pembantu dekan bidang administrasi umum, kepala subbag keuangan, Pemegang Uang Muka Kegiatan (PUMK), dan Satuan Pengendali Internal (SPI).

Sebagai pembicara pada acara tersebut, antara lain, Rektor Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Sekretaris Itjen Kementerian Agama Maman Taufikuurhaman,  Kasubbid Pembinaan Kinerja Badan Layanan Umum (BLU) Kementerian Keuangan Catur Ariyanto Widodo, SE, MDEC.

Narasumber lainnya adalah Ketua Itjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Haryono Umar, Pembantu Rektor UIN Jakarta Bidang Pengembangan Lembaga dan Kerjasam Dr. Jamhari Makruf, Kepala SPI UIN Jakarta Drs. Abdul Hamid Cebba, MBA, CPA, dan lain-lainnya.

Rektor Prof. Komaruddin Hidayat  dalam sambutannya menyatakan, banyak hal yang harus dibenahi untuk memperbaki pengawasan internal perguruan tinggi. “Sikap mau mengubah diri untuk menjadi manusia yang lebih baik harus dilakukan setiap orang,”katanya.

Ditambahkannya, usaha mengembangkan diri dan melakukan hal-hal yang spektakuler untuk orang banyak perlu dijadikan terobosan. Dengan demikian, kehadiran sesorang di mana ia berada menjadi bermanfaat bagi orang lain.”Temukan makna hidup yang sesungguhnya. Kita hidup ini untuk apa? Apa arti kehidupan yang diberikan Allah kepada kita? Dari situ seseorang bisa memaknai hidupnya,”tandasnya.(D. Antariksa/saifudin)