10 mahasiswa Australia Belajar Islam, Budaya, dan Bahasa Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

New Colombo PlanSyahida Inn, BERITA UIN Online— 10 Mahasiswa University of Western Sidney (UWS) Australia mengadakan kunjungan ke UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta guna mempelajari Islam, Budaya, dan Bahasa Indonesia. Selain kunjungan akademik para mahasiswa melakukan perjalanan wisata ke beberapa tempat bersejarah seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Candi Borobudur. Acara ini dirangkai dalam “Asia bound 2015”.

Salah satu agenda dalam kunjungan akademik adalah workshop “Introduction to Indonesia Islam” bertempat, Syahida Inn UIN Jakarta, Senin(09/11). Hadir sebagai pembicara Prof Bahtiar Effendy dengan pemaparannya “Introduction to Indonesia Islam and Politics and Society”. Dr Nadratuzzaman M.Si dengan materi “Financial and Social Institution”, dan Arskal Salim Ph.D dengan materi “Introduction to Islamic Law and Society”.

Bahtiar dalam pemaparannya menjelaskan tentang relasi Agama dan Negara di Indonesia, Ia menceritakan bagaimana Negara Indonesia dibentuk, pertentangan antara kaum Islam yang di komandoi Oleh KH Isa Anshori, Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, dan Muhammad Natsir dengan kaum Nasionalis seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Soepomo seorang muslim yang berideologi Pancasila.

Dalam perjalanan perpolitikan di Indonesia Partai-partai Islam bermunculan. Seperti partai NU, Partai Sarekat Islam Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan. Namun di zaman Soeharto, sistem partai diatur sedemikian rupa hingga muncul tiga Partai, Golongan Karya perwakilan dari sekumpulan orang-orang pemerintahan, Partai Persatuan Pembangunan representasi dari partai-partai Islam, dan Partai Demokrasi Indonesia sebagai representasi partai-partai Nasionalis.

“Seiring putaran waktu, simpatisan partai Islam cenderung menurun, hal ini disebabkan minimnya figur-figur kharismatik yang muncul sebagai calon pemimpin,” paparnya.

Pembicara lainnya Arskal Salim, menjelaskan tidak ada catatan komprehensiv tentang cara penerapan syariah Islam di Indonesia dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Karena dari awal berdirinya Indonesia sistem yang digunakan adalah berbasis Pancasila.

Arskal menambahkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tidak hanya setuju untuk menghapus tujuh kata yang di dalamnya ada syariat Islam. Namun, juga mengeliminasi hak-hak istimewa bagi umat muslim. Seperti presiden harus beragama Islam, Islam bukan satu-satunya agama yang diakui oleh pemerintah. (Tutur A Mustofa)