Hermanuddin, Belajar Memotret Sejak Kecil

159

Hermanuddin

BILA Anda melihat pria berkacamata, berperawakan sedang, dan kepala sedikit plontos sambil menenteng kamera digital single-lens reflects  (DSLR) di setiap kegiatan kampus UIN Jakarta, dia tak lain Hermanuddin (46). Fotografer humas UIN Jakarta ini memang ditugasi untuk mengabadikan setiap momen penting di kampus, baik yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan maupun rektorat/fakultas.

Herman, demikian sapaan akrabnya, sejak kecil memang sudah menyukai dunia fotografi. Ia tertarik karena dengan foto setiap momen dapat diabadikan dengan sempurna. Karena itu pula, dari bidikannya, Herman sudah merekam ratusan dan bahkan ribuan peristiwa penting di UIN Jakarta. Semua momen itu hampir tanpa satu pun yang terlewatkan.

“Di mana ada peristiwa, di situ saya sudah siap membidik,” seloroh pria kelahiran Tangerang, Banten, ini kepada BERITA UIN Online di ruang kerjanya, Selasa (11/4/2017).

Selama 11 tahun bertugas di kampus, Herman tak hanya sibuk memotret setiap sudut peristiwa. Ia juga ibarat album yang kapan pun orang dapat melihat foto-foto hasil jepretannya. Foto-foto itu kini tersimpan rapih di komputer pribadinya, mulai dari pejabat penting sampai para pedagang kecil.

“Mau minta hasil foto untuk pribadi atau kepentingan publikasi juga saya siap layani dengan senang hati,” ungkapnya.

Namun, konon, Herman mengaku kecewa jika ada orang atau lembaga yang meminta foto hasil jepretannya untuk kepentingan publikasi tidak mencantumkan credit title dirinya. Padahal, meski bukan untuk kepentingan komersial, foto adalah sebuah karya seni yang harus dihargai.

Herman resmi bertugas sebagai fotografer humas kampus sejak 11 tahun silam. Sebelumnya ia bertugas di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta sebagai petugas administrasi. Meskipun demikian, bakatnya sebagai fotografer saat itu tak surut. Ia juga kerap membantu mengabadikan setiap ada kegiatan anak-anak sekolah maupun pimpinannya.

“Saya belajar memotret otodidak saja, mulai dari kamera saku menggunakan negatif film hingga digital,” ujarnya saat ditanya dari mana ia belajar memotret..

Bagi Herman memotret tampaknya bukan perkara seni dan imajinasi semata. Lebih dari itu memotret adalah sebuah kepuasan jiwa. “Memotret itu seni hidup,” tutur ayah satu anak hasil perkawinannya dengan Setianingsih ini sedikit berfilsafat. (ns)