Guru Besar UCL Belgia: UIN Jakarta Kampus Islam Moderat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
159

Guru Besar Universite Catholique de Louvain (UCL) Belgia, Prof Dr Louis-Leon Christians, pada seminar nasional bertajuk Religion and Radicalism, Kamis (13/04), bertempat di ruang teater Prof Dr Zakiah Daradjat, Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Gedung Psikologi, BERITA UIN OnlineUIN Jakarta sebagai kampus moderat yang senantiasa menjunjung tinggi perdamaian, toleransi dan saling menghargai di tengah pluralism yang ada di Indonesia.

Demikian disampaikan Guru Besar Universite Catholique de Louvain (UCL) Belgia, Prof Dr Louis-Leon Christians, pada seminar nasional bertajuk Religion and Radicalism, Kamis (13/04), bertempat di ruang teater Prof Dr Zakiah Daradjat, Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

“Meskipun saya adalah seorang kristiani, saya merasa senang dengan sambutan yang baik dari masyarakat kampus ini. Kampus UIN Jakarta merupakan kampus Islam yang saya lihat sangat menghargai keragaman,” tambahnya.

Hadir dalam acara yang diformat menjadi ajang diskusi tersebut, segenap jajaran pimpinan Fakultas Psikologi dan para dosen, mahasiswa, serta beberapa tamu undangan.

Hasil pantauan BERITA UIN Online diacara terlihat, para peserta yang hadir sedikitnya berjumlah 150 orang, yang seluruhnya nampak antusias mengikuti jalannya seminar.

Diantara para narasumber yang hadir, Gazi Saloom (Dosen Psikologi) UIN Jakarta, saat menjawab pertanyaan salah satu peserta seminar terkait isu bahwa UIN Jakarta menjadi sarang pengkaderan teroris, dirinya menjawab, bahwa kemungkinan akan tumbuh suburnya terorisme di UIN Jakarta sangat kecil. Pasalnya, UIN Jakarta senantiasa menanamkan jiwa moderat kepada seluruh mahasiswanya.

“Mayoritas sivitas akademika UIN Jakarta masih kuat memegang teguh ajaran Islam yang moderat, sehingga Islam menjadi agama yang rahmatan lil alamien,” jelas pria alumni doktoral Universitas Indonesia itu.

Di tempat sama, Prof Louis-Leon menjawab pertanyaan salah satu mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta terkait kebijakan beragama di Eropa, khususnya penggunaan jilbab.

Louis menjawab, bahwa dalam konteks Eropa, di satu sisi memang menjadi masalah karena Eropa berusaha menegakkan hak-hak asasi dan kebebasan berekspresi. Namun di sisi lain stigma keagamaan tertentu masih menguat. “Barangkali, dari sinilah proporsi keadilan, juga sisi peran psikolog dalam hal kebebasan ekpresi masyarakat bisa menjadi satu sumbangsih peninjauan kebijakan lebih lanjut,” jawab Louis.

Ditambahkannya, sejauh apa yang dirinya lihat di Indonesia, rupanya kebebasan ekpresi ini mendapat ruang yang baik. Sehingga, selanjutnya akan ada penelitin lebih lanjut tentang hal tersebut, bersama para kolega dari UIN Jakarta,” tandasnya. (lrf/iqbal)