Garin Nugroho: Komunikasi Agama di Ruang Publik Serba Simbolis

Garin1
BERITA UIN, Online – Dilema agama abad ini bertumbuh lebih menjadi agama simbolis yang mudah dikonsumsi di tengah abad serba pasar dan dipasarkan.

Pernyataan sutradara Garin Nugroho mengemuka ketika dia berkunjung ke UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, beberapa hari silam. Pernyataan Garin merujuk pada fenomena kekinian yang tumbuh dan berkembang dalam lajur kehidupan masyarakat.

Lebih jauh Garin memandang, bahwa ironisnya, di tengah era teknokapitalis serba pameran perhatian tiap detik untuk meraih massa, menjadikan komunikasi ruang publik agama serba simbolis, tidak lagi mempunyai keberanian mencari jalan lain, selain berlomba mengelola pameran perhatian dengan cara vulgar, serba kemasan berlebihan serta eksploitasi dangkal, yang memang mudah dikonsumsi.

“Pada gilirannya komunikasi publik agama simbolis segalanya serba jargon mutlak ataupun serba hitam-putih, sebuah perjalanan komunikasi publik religiusitas yang kehilangan ijtihad, yang menjadi daya hidup terbesar dan terindah Islam,” tutur sutradara yang menempuh pendidikan film di Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) juga menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Soal komunikasi ke area publik inilah yang dijadikan sorotan Garin. Garin menilai budaya komunikasi di Indonesia masih miskin etika, gagasan, dan praktik nyata. Situasi itu akhirnya melahirkan masyarakat serta kehidupan politik yang dangkal.

“Masih ada kesenjangan antara ide dan praktik nyata dalam menghadapi setiap persoalan bangsa. Semua hanya berhenti pada perbincangan, tetapi minim tindakan pemecahan masalah,” ungkap Garin menutup perbincangan dengan BERITA UIN, Online.