Fuad Jabali: Yang Dibutuhkan Kemauan Menulis Para Dosen

159

FAH, BERITA UIN Online – Menulis di jurnal bagi para dosen, memang perlu karena untuk melacak jejak pemikiran sang dosen. Tapi sebelum masuk ke area penulisan di jurnal, perlu ditumbuhkan kemauan menulis para dosen. Ini hal yang sangat urgen.

Pikiran di atas digulirkan Fuad Jabali dalam rapat dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, (28/02/2017), kemarin. Pikiran Fuad Jabali mengurai ajakan Dekan FAH, Prof Dr Syukron Kamil, yang meminta para dosen menulis di jurnal-jurnal yang terakreditasi A, baik di jurnal nasional maupun jurnal internasional.

Bagi Fuad, sebelum melangkah untuk menulis di jurnal, sebaiknya ditumbuhkan terlebih dahulu, kemauan para dosen untuk menulis. Kemauan untuk menulis di kalangan dosen inilah, yang terlihat amat rendah.

“Kemauan untuk menulis inilah, yang perlu ditumbuhkan. Kemauan dan gairah menulis ini menjadi pijakan untuk para dosen menulis di jurnal-jurnal ilmiah. Jadi mendorong dosen menulis di jurnal-jurnal ilmiah, juga harus didorong elemen dasar dalam seorang dosen, elemen kemauan untuk menulis,” papar Fuad, yang meraih gelar PhD di McGill University, Montreal, Canada.

Apa yang diingatkan Fuad, memberi ingatan pada keprihatinan Menristekdikti terkait mandulnya para guru besar dalam proses penyebaran gagasan di ranah jurnal internasional. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, mengatakan sekitar 1.200 orang guru besar di Indonesia tidak melakukan publikasi ilmiah khususnya di jurnal internasional.

“Kita memiliki 5.216 Guru Besar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi namun baru tiga ribuan yang rutin melakukan publikasi jurnal, ini menjadi perhatian ke depan,” kata Menristekdikti, di Padang, Rabu, pekan silam.

Menulis adalah peranti hidup. Jejak menulis akan jadi jejak pemikiran seseorang dalam menapaki jalur hidupnya. Apa yang dikatakan sastrawan terkemuka Indonesia, menjadi benar. Pram menguar orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Edi E)