Filosofi Keraton Yogyakarta yang Terlewatkan

Wedono Citro Mardowo  (salah satu Abdi Dalem Keraton)

Wedono Citro Mardowo (salah satu Abdi Dalem Keraton)

Oleh Sri Mulyawati
Malioboro, Bakpia, dan Candi Prambanan, merupakan beberapa ikon yang dimiliki oleh kota dengan julukan kota pelajar. Memiliki banyak tempat wisata, menjadikan kota ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Hampir di setiap sudut kota dapat ditemui pedagang yang menjajakan aneka buah tangan khas Yogyakarta.

Bagai sayur tanpa garam. Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Yogyakarta tanpa singgah di beberapa tempat seperti Jl. Malioboro, pantai Parang Tritis, Tamansari, dan Keraton Kesultanan Yogyakarta. Mencicipi makanan khas Yogya atau berfoto mengabadikan momen di Tugu Yogyakarta.

Yogya yang kental dengan adat budaya keraton, masih menjaga utuh peninggalan-peninggalan keraton secara turun temurun. Keraton kesultanan Yogyakarta tak pernah sepi dikunjungi. Biasanya, wisatawan yang berkunjung hanya sekadar melihat-lihat, mengetahui sejarah tempat dan benda-benda keraton juga berfoto di berbagai tempat yang ada di lingkungan keraton.

Beberapa Abdi Dalem tak memakai alas kaki

Beberapa Abdi Dalem tak memakai alas kaki

Tanpa disadari, ada beberapa hal unik dan menarik yang jarang orang tahu. Ketika memasuki lingkungan keraton, kita akan menjumpai Abdi Dalem dengan pakaian khas keraton lengkap dengan blangkonnya. Akan tetapi, pernahkah anda bertanya, kenapa Abdi Dalem tidak memakai alas kaki apapun ? dan pernahkan anda perhatikan, pohon-pohon yang ditanam dilingkungan keraton adalah pohon sawo?

Salah seorang Abdi Dalem, Wedono Citro Mardowo mengatakan, bahwa Sultan adalah wakil Allah katon (wakil Allah yang nampak/terlihat), semua Abdi Dalem itu menggambarkan bahwa ini Abdinya Allah.

“Ini yang penting. Ngga pake alas karena semua orang yang tinggi-tinggi tidak memakai sandal. Itu sudah peraturan sejak Sri Sultan Hamengkubuwono ke-1 dan berlaku hingga sekarang. Abdinya Allah harus Merendahkan diri,” tutur kakek yang sudah berusia 88 tahun.

Di setiap pekarang di lingkungan keraton, tumbuh pohon sawo kecik. Citro, kakek kelahiran 31 Agustus 1928, dengan suara paraunya mencoba menjelaskan bahwa pohon sawo kecik tidak asal menanam pohon saja, tapi memiliki arti baik.

Wong kui kudu duwe ati sing becik (setiap orang harus memiliki hati yang baik), Sarwo becik (tingkah laku serba baik),” ungkapnya.

Tak hanya itu, pakaian yang dikenakan pun memiliki filosofi masing-masing. Seperti kemeja dengan garis vertikal dihiasi beberapa kancing yang melambangkan bayi yang baru lahir. Kemudian kancing di lengan baju dengan jumlah lima kancing yang melambangkan lima waktu sholat.

Warisan adat kebudayaan itu akan terus turun menurun dilaksanakan demi menjaga tradisi yang sudah diwariskan sejak dulu. Sekali lagi, Indonesia memiliki warisan budaya yang begitu kaya. Keberlangsungan warisan-warisan itu berada pada generasi muda yang melanjutkan tongkat estafet untuk terus melestarikan budaya bangsa.

Sri Mulyawati, mahasiswa jurnalistik 2013 Fakultas Dakwah dan Ilmu komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta