Pesan Moral Ibadah Puasa

Dr Ayang Utriza Yakin

Setiap ibadah di dalam Islam memiliki maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Ada pesan moral yang ingin diraih dari setiap kebajikan yang dilakukan. Shalat bertujuan menjauhkan pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Zakat bermaksud mengentaskan kemiskinan dan berpesan, “Jangan Anda tumpuk kekayaan!” Haji mengandung pesan agar umat Islam menguasai ilmu pengetahuan (al-hajju arafah). Demikian juga dengan ibadah puasa. Ia memiliki pesan moral: perhatikan orang-orang miskin! Puasa mengajak Anda untuk merasakan lapar yang biasa dirasakan orang-orang papah dan miskin.

Pesan moral sesuai dengan misi kenabian, yaitu menyempurnakan akhlak. Rasulullah bersabda, “Tidaklah aku diutus, kecuali untuk menyempurnakan kemulian akhlak.” Karena itu, tujuan ibadah dalam Islam adalah memperbaiki moralitas umatnya. Jika tujuan meningkatkan akhlak dari setiap ibadah tidak tercapai maka sia-sialah ibadah tersebut.

Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi masih sering menipu dan merampas hak orang lain. Tidak sedikit mereka yang berpuasa, tetapi masih korupsi dan menyusahkan orang lain. “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak bernilai apa-apa kecuali lapar dan haus,” demikian sabda Rasulullah.

“Hawa nafsumu adalah segala induk berhala,” kata Jalaluddin Rumi. Puasa mengajak Anda menghancurkan berhala hawa nafsu ini. Puasa menyuruh Anda memperhatikan apa yang Anda makan. Jangan Anda makan sembarang makanan. Jangan makan dari uang yang berasal harta haram hasil dari tipu-tipu dan korupsi.

Jangan jadikan perut Anda kuburan orang-orang miskin. Jangan biarkan dahaga Anda meraup keuntungan dengan cara menyengsarakan rakyat. Kekang keinginan Anda menindas orang lain. Puasa mengingatkan Anda untuk berhati-hati dengan apa yang Anda makan dan dari mana asal uang yang Anda belanjakan itu.

Puasa mengundang Anda agar dapat mengendalikan diri. Suatu ketika ada yang melapor kepada Rasulullah bahwa ada seorang perempuan yang selalu puasa di siang hari dan shalat Tahajud ketika malam, tapi ia sering menyakiti hati tetangganya. Rasul mengatakan tempat perempuan itu di neraka. Puasa tidak mempunyai arti apa pun bagi perempuan itu karena ia tidak menangkap pesan moral ibadah puasa: kendalikan dirimu!

Puasa harus dapat mengendalikan apa yang keluar dari mulut Anda. Membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, memberikan sumpah palsu dan berbohong adalah perilaku yang membatalkan puasa. Kata-kata yang keluar dari mereka yang berpuasa adalah kata-kata bijak dan bermanfaat.

Secara sosial, puasa mendorong Anda berpikir bahwa manusia di hadapan Allah adalah sama. Lihatlah waktu sahur dan berbuka. Tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkan waktu sahur dan memajukan saat berbuka. Semua orang bersahur dan berbuka pada saat yang bersamaan. Tidak ada potongan waktu untuk presiden misalnya, atau penambahan waktu puasa bagi rakyat jelata. Puasa mengembalikan citra diri sejati manusia bahwa mereka adalah sama di muka Tuhan. Ini adalah salah satu pesan moral puasa: persamaan.

Puasa menyuruh kita mengasihi orang miskin. Suatu ketika Nabi Musa AS meminta agar dapat bertemu dengan Allah. Allah menjawab, “Jika kau ingin menjumpaiku, Aku berada di tengah orang-orang yang hancur hatinya, orang yang lemah, dan orang-orang miskin.”

Puasa mengharuskan kita memperhatikan orang-orang tersebut. Anda akan menjumpai Allah di tengah korban semburan lumpur panas Lapindo, korban bencana alam banjir, longsor, gempa dan tsunami. Jika puasa tidak mengetuk hati Anda terhadap para korban itu maka puasa Anda tidak memiliki nilai apa pun; apalagi mereka yang mengakibatkan terjadinya bencana.

Puasa juga berarti menghadirkan Tuhan dalam diri kita. Kita tidak akan makan dan minum, walaupun haus dan lapar dan di tempat yang tak seorang pun melihat. Karena, kita tahu bahwa Allah mengawasi semua perilaku kita. Dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita maka tujuan yang ingin dicapai dari puasa yaitu ketakwaan akan tercapai.

Hasan al-Bashri menggambarkan seorang yang memiliki ketakwaan yang sebenar-benarnya, antara lain, semakin berkuasa, semakin bijak, dan tidak mengambil yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Mereka yang berkuasa, tapi tidak memperhatikan rakyat miskin, puasa mereka tidak mempunyai arti apa-apa.

Puasa, kata Nabi, adalah benteng, seperti benteng peperangan. Dengan puasa, kita harus dapat membentengi diri kita dari nafsu pribadi yang menyengsarakan banyak orang. Puasa mengajak Anda mengekang nafsu politik Anda. Kendalikan syahwat politik Anda. Tahan gejolak dalam diri Anda untuk berkuasa.

Perbuatlah dan kerjakan sebaik mungkin di saat Anda sedang diberi amanah memimpin. Perhatikan orang miskin. Berikan kesejahteraan kepada rakyat. Berantas pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja. Ketakwaan harus mewujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. Inilah pesan moral puasa.

Penulis adalah Dosen FSH-SPS UIN Jakarta dan Peneliti PPIM UIN Jakarta.

Tulisan pernah dimuat dalam Dialog Jumat Harian Republika, Jumat 19 Juni 2015