Critical Thinking

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Semenjak masih berbentuk institut yang fokus pada kajian keislaman, UIN Jakarta sudah banyak melahirkan alumni yang berkarir dan berprofesi di luar bidang keilmuannya. Ada yang menggeluti jurnalistik, baik sebagai wartawan, pemimpin redaksi sebuah koran atau majalah, dan bahkan ada juga yang menjadi pemilik dari sebuah penerbitan harian, kemudian ada juga yag memasuki dunia politik baik sebagai aktivis partai politik dan bermuara di DPR, DPRD, atau DPD, dan ada juga yang memiliki keahlian sebagai konsultan politik untuk membantu seorang calon bupati atau gubernur untuk memenangkan pemilihan. Oleh sebab itu, seorang teman dari salah satu universitas negeri di Jakarta, berkomentar pada saya sekitar sepuluh tahun yang lalu, bahwa UIN sangat berkeahlian untuk melahirkan sarjana-sarjana yang sukses di luar bidangnya, dengan bahasa lain, dia mengatakan, bahwa UIN memilki pengalaman sejarah yang cukup panjang melahirkan sarjana-sarjana dengan kemampuan critical thinking yang hebat.

Pada era tahun 1980-an merupakan dekade yang sangat gemilang bagi UIN Jakarta dengan keragaman profesi para alumninya, yang semuanya berasal dari program studi ilmu-ilmu keagamaan. Mereka sangat diterima untuk menjadi konsultan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, koperasi, home industry, dan bahkan ada yang memasuki dunia profesi sebagai konsultan bank dunia atau Asian Development Bank (ADB) untuk bidang-bidang pembangunan yang tidak relevan dengan latar belakang keilmuan mereka. Anehnya lagi, profesi mereka itu, sampai kini masih tetap sustainable, dan tidak mengalami kesulitan dalam mengadaptasi skill, ketrampilan dan tradisi keilmuan baru yang mereka pelajari dalam perjalanan karir serta profesinya.

Tidak hanya itu, pada 1 April minggu yang lalu, saya didatangi seorang alumni yang sangat jauh generasinya di bawah saya, dan dia bercerita kisah suksesnya sebagai seorang pengusaha tambang batubara, yang sentra-sentra usahanya terletak di Kalimantan Timur, kalimantan selatan dan bahkan juga di provinsi jambi. Bisa kita bayangkan omzet usahanya yang sangat besar, padahal ketika dia kuliah di UIN sama sekali tidak pernah belajar geologi, teknik pertambangan, dan juga tidak pernah belajar pemasaran, manajemen perusahaan apalgi soal akuntansi. Tapi dia sukses menjalankan usahanya, walaupaun ilmu yang dia pelajari semuanya adalah ilmu keagamaan islam, kecualai Pancasila dan Kewiraan. Dengan demikian, dia termasuk salah satu yang terkategori sebagai alumni UIN yang sukses di luar bidangnya, dan memiliki critical thinking yang hebat.

Critical thinking adalah sebuah kosa kata yang sangat populer di dunia pendidikan, dan bahkan di belahan Utara Amerika ada komunitas yang manamakan dirinya sebagai the Critical Thinking Community. Mereka melakukan seminar tahunan dan memiliki jejaring di berbagai universitas ternama di dunia. Dalam salah satu publikasinya di tahun 2008, Richard Paul dan Linda Elder dalam tulisannya berjudul the Miniature Guide to Critical Thinking Concepts and Tools, yang diterbitkan oleh Foundation for Critical Thinking Press, pada tahun 2008, menjelaskan bahwa critical thinking adalah sebuah proses intelektual yang secara aktif melakukan konsepsionalisasi, menerapkan konsep, menganalisis proses dan hasil aplikasi konsep, mensintesis dan terus melakukan evaluasi, observasi dan pengumpulan data, pengalaman, refleksi, serta berkomunikasi dengan orang lain, untuk menyimpulkan sebuah keyakinan baru dalam menyusun sebuah rencana tindakan.

Richard Paul dan Linda Elder lebih lanjut menjelaskan bahwa critical thinking bisa dilihat dalam dua aspek, yakni adanya sejumlah informasi dan keyakinan yang dapat menghasilkan ketrampilan atau keahlian baru dan kemampuan menggunakan keterampilan tersebut untuk menjadi kebiasaan-kebiasaan baru. Dengan demikian, critical thinking berbeda dengan sikap kritis terhadap berbagai informasi, tanpa melahirkan skill baru, dan juga tanpa menjadikan skill tersebut menjadi kebiasaan-kebiasaan baru untuk sebuah perubahan yang dicita-citakan.

Sejalan dengan itu, Dr Joe Lau dari the University of Hongkong (2004) menegaskan bahwa critical thinking itu berbeda dengan sikap kritis terhadap orang lain, karena kendati bisa dipakai untuk melakukan analisis berbagai kesalahan dan kekeliruan berfikir, tapi yang lebih penting dari critical thinking adalah membangun kebersamaan dalam mengkonstruksi sebuah kebijakan atau pekerjaan baru, menemukan pengetahuan baru, teori baru, dan bahkan meningkatkan kualitas dari pelaksanaan sebuah pekerjaan atau pengembangan institusi sosial.

Lebih jauh Dr Joe Lau menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan critical thinking akan memiliki enam kriteria, meliputi:

  1. Memiliki pemahaman yang baik tentang koneksitas antar berbagai ide.
  2. Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengkonstruksi, dan mengevaluasi sebuah argumentasi.
  3. Memiliki kemampuan mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan berfikir.
  4. Memiliki kemampuan menyelesaikan masalah secara sistematis.
  5. Memiliki kemampuan mengidentifikasi ide-ide yang relevan dan ide-ide yang penting.
  6. Memiliki kemampuan justifikasi terhadap nilai dan keyakinan seseorang.

Menjadi insan akademis dengan kemampuan critical thinking yang baik tidak sekedar mampu melontarkan kritik, apalagi yang dikritik adalah kesimpulan yang salah tentang sesuatu di luar diri kita. Menjadi insan akademis yang memiliki critical thinking baik memerlukan sikap yang arif, menguasai informasi, menganalisis informasi secara komprehensif, melakukan konsepsionalisasi terhadap ide-ide baru yang akan membawa kemajuan pada skill, prilaku dan kebiasaan-kebiasaan baru yang akan membawa kemajuan pada pekerjaan dan profesi kita, perubahan bagi hidup kita, hidup masyarakat kita dan pemajuan bangsa yang sangat kita cintai. Wallahu a’lam.

* Artikel pernah dimuat dalam kolom Suara Kampus Harian Tangsel Pos, Senin 6 April 2015