Dosen FISIP Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2017

159Jakarta, BERITA UIN Online— Pengajar Ilmu Politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta, Saiful Mujani Ph.D, berhasil meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XV 2017 untuk kategori Pemikiran Sosial. Penghargaan dari Yayasan Achmad Bakrie ini diterimanya dalam malam penganugerahan PAB 2017 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Selasa malam (22/8/2017).

Saiful menerima anugerah PAB bersama tiga tokoh di bidang lainnya. Ketiga lainnya, yaitu Ebiet G. Ade untuk musik, Terawan Agus Putranto untuk kategori kedokteran yang melakukan terobosan dengan tindakan intra-artenial herapin flushing dalam menangani penderita stroke, dan Nadiem Makarim dalam kategori teknologi dan kewirausahawan dengan Go-Jek-nya.

Ketua Panitia PAB XV, Rizal Malarangeng, mengatakan Saiful dipilih lantaran penelitiannya di bidang politik memiliki kontribusi terhadap pemilihan umum di tanah air untuk lebih maju ke depan, seperti lahirnya quick count. “Studi Pak Saiful menjadi penting bukan hanya metodenya. Statistik yang ada itu penting agar tidak spekulatif,” ujarnya.

Rizal menambahkan, studi tentang politik Indonesia yang diteliti Saiful dilakukan dengan pendekatan political behavior yang merupakan metode khas, yakni dengan survei opini publik. Survei tersebut kemudian dikembangkan secara akademik dan memberi kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. “Sebagai ilmuwan, ia menghadirkan hal baru dan berpengaruh besar pada aktifitas riset keilmuan bidang politik,” tambahnya.

Menanggapi penghargaan yang diterimanya, Saiful mengaku kaget atas penghargaan yang diterimanya. Kendati begitu, ia bersyukur sekaligus bangga jika aktifitasnya sebagai ilmuwan mendapat apresiasi.

“Saya tidak tahu kenapa pilihan ini diberikan kepada saya yang berkontribusi di politik. Pertimbangannya menurut mereka (tim penilai, red.), saya secara konsisten menerapkan apa yang dikenal dalam studi politik sebagai satu pendekatan perilaku politik atau political behavior,” katanya.

Saiful menuturkan, ia meneliti realitas politik Indonesia dengan pendekatan political behavior sebagai metode yang khas dimana riset bertumpu pada survei opini publik. Survei tersebut kemudian dikembangkan secara akademik dan memberi kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

“Studi empiriknya persis di situ. Semua studi politik umumnya empirik, tapi yang dimaksud di sini secara lebih khusus lewat pendekatan political behavior itu, di dalam studi politiknya tidak mengalami perkembangan,” katanya.

Pelindung PAB XV, Aburizal Bakrie, berharap agar Saiful beserta penerima PAB bisa menginspirasi dan memberikan sesuatu yang berguna bukan hanya bagi bangsa, tetapi juga bagi peradaban dunia. “Jadi bukan hanya Steve Jobs yang dapat membuat karya, tetapi juga Indonesia nantinya memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia ke depan,”  katanya.

Dalam catatan BERITA UIN Online, PAB XV 2017 yang diraih Saiful menambah daftar penghargaan atas kiprah riset keilmuannya. Sebelumnya, ia dianugerahi Franklin L. Burdette/Pi Sigma Alpha Award dari American Political Science Association (APSA). Dengan itu, ia jadi satu-satunya ilmuwan politik pertama di luar Amerika Serikat penerima penghargaan yang mensejajarkan dirinya dengan para ilmuwan politik ternama seperti Samuel P. Huntington, Mancur Olson, dan Sidney Tarrow.

Lulusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta (kini, UIN Jakarta) yang meneruskan studi Master (1998) dan Doktor Ilmu Politik (2003) dari Ohio State University, AS, ini konsisten dalam meneliti perkembangan politik dan proses demokratisasi di Indonesia sejak 1999. Berbagai riset dan analisis politiknya menjadi rujukan akademisi, politisi, pengambil kebijakan, dan media massa. Terakhir ia mendirikan Saiful Mujani Research Consulting (SMRC).

Menanggapi penghargaan yang didapat Saiful, Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA menyampaikan selamat dan berharap Saiful terus meningkatkan kiprahnya sebagai ilmuwan politik yang mewarnai tradisi riset politik di Indonesia dan dunia. “Semoga komitmen dan konsistensinya di ranah keilmuan yang digeluti menjadi contoh bagi akademisi UIN Jakarta lainnya,” katanya. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)