Didin Sirojudin: Lestarikan Kaligrafi di Indonesia

Auditorium Utama, BERITA UIN Online– “Seni kaligrafi merupakan bentuk budaya Islam yang pertama ditemukan di Indonesia dan menjadi aset budaya Islam terdepan hingga kini,” demikian disampaikan Guru Besar kaligrafi sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Kaligrafi Sukabumi, Dr Didin Sirojuddin AR, MA, saat menjadi narasumber pada stadium general yang mengangkat tema Olah Kaligrafi dan Humanisi Mushaf Al Quran di Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), di Gedung Utama Harun Nasution, Jumat, (02/09).

Dalam pemaparannya, Didin menjelaskan bahwa kaligrafi tidak hanya dikembangkan sebatas tulisan indah yang berkaidah, tetapi juga mulai dikembangkan dalam konteks kesenirupaan atau visual art.

“Kaligrafi Islam dibedakan menjadi dua yaitu tulisan dan lukisan. Lukisan kaligrafi terbagi menjadi dua yaitu murni dan bebas, yang pertama menggunakan bentuk huruf baku biasanya dibuat oleh lulusan pondok pesantren, sedangkan yang kedua tidak menggunakan huruf baku yang dikerjakan oleh seniman akademik. Aneka bentuk lukisan kaligrafi mengandung dua elemen, fisioplastis dan ideoplastis,” paparnya.

Masih menurut Didin, dalam konteks ini kaligrafi menjadi jalan namun bukan pelarian bagi para seniman lukis yang ragu untuk menggambar makhluk hidup. Dalam aspek kesenirupaan, kaligrafi memiliki keunggulan pada faktor fisioplastisnya, pola geometrisnya, serta lengkungan ritmisnya yang luwes sehingga mudah divariasikan dan menginspirasi secara terus-menerus.

“Perkembangan lain dari kaligrafi di Indonesia sendiri adalah dimasukkan seni ini menjadi salah satu cabang yang dilombakan dalam  even MTQ. Maka dari itu lestarikan terus Kaligrafi di Indonesia melalui even–even,” ungkap Didin saat mengakhiri materi Stadium Genera tersebut. (Laporan Syarifaeni F/lrf)