Darurat Narkoba Butuh Peran Penyuluh

Auditorim Utama, BERITA UIN Online— Peran mahasiswa dan sarjana spesialisasi penyuluhan dibutuhkan dalam menanggulangi darurat narkoba di tanah air. Selain meminimalkan, mereka diharap mampu memberikan penyuluhan pada pengguna aktif untuk bisa melepaskan diri dari jeratan narkoba.

Demikian simpulan Seminar Nasional Memperkuat Peran (Calon) Penyuluh Agama untuk Indonesia Sejahtera Tanpa Narkoba di Auditorium Utama, Kamis (21/10). Seminar diselenggarakan Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Sosial.

Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Pengguna NAPZA Kementerian Sosial RI, Drs. Waskito Budi Kusumo M.Si mengungkapkan, jumlah konsumen narkoba di tanah air tak kurang dari 2.2 juta jiwa. “Tidak hanya pria muda-dewasa, narkoba bahkan sudah masuk di lingkungan ibuu-ibu rumah tangga dan sekolah,” ungkapnya.

Kondisi demikian, membuat Indonesia masuk dalam ancaman bahaya narkoba yang sangat tinggi. Selain kesadaran publik, jelasnya, kondisi ini membutuhkan peran para penyuluh dalam mensosialisasikan bahaya penggunaan narkoba untuk mencegah meluasnya penggunaan.

“Penyuluh, terutama yang berlatarbelakang agama, juga dibutuhkan untuk membantu para korban yang sudah terlanjur mengkonsumsinya.” Paparnya.

Rektor Prof Dr Dede Rosyada MA yang membuka seminar juga sebelumnya mengingatkan pentingnya peran mahasiswa dan sarjana bidang penyuluhan dalam mencegah penggunaan narkoba sekaligus membantu korban melepaskan diri dari jeratannya. Untuk itu, rektor sangat berharap para mahasiswa yang mengambil jurusan BPI bisa menempa diri sebagai fasilitator dalam pencegahan penggunaan maupun pembebasan konsumen.

“Selain memperhatikan aspek psikis nya, seorang penyuluh harus memperhatikan aspek kerohaniannya,” jelasnya.

Terkait pemulihan pengguna narkoba, Pendiri Saung Angklung Indonesia, Aang Syarifuddin yang pernah memiliki pengalaman sebagai pengguna melihat pentingnya keluarga dan lingkungan sekitar dalam memulihkan pengguna. Kepedulian mereka menjadi faktor penting berhasil tidaknya seorang pengguna membebaskan diri dari jeratan narkoba.

“Obat dari narkoba adalah lingkungan yang sehat dan perhatian keluarga. Karena otak dikondisikan hati, hati dikondisikan lingkungan,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi Dr Arief Subhan MA mengapresiasi pemerintah kini yang lebih tegas dalam memerangi narkoba. Ia berharap sanksi keras seperti eksekusi mati bagi pengedar konsisten dijalankan Pemerintahan Jokowi-JK.

Namun, sambungnya, perang terhadap narkoba juga harus lebih banyak melibatkan masyarakat dan institusi sosial seperti Pesantren. Menurutnya, peran pesantren dalam menyembuhkan korban narkoba seperti diwakili Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, menjadi bukti pentingnya peran pesantren yang layak diapresiasi pemerintah.

“(Kemudian, red.) yang perlu diperhatikan juga adalah mengundang keterlibatan penyuluh agama fungsional dalam menghadapi narkoba,” paparnya.

Laporan Syarifaini Fahda