4 Organisasi Kemahasiswaan Islam Indonesia Tandatangani Piagam I’tikad

New PictureAuditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online Empat organisasi kemahasiswaan Islam Indonesia menandatangani Piagam “I’tikad Baik Mahasiswa Islam dalam Membangun Bangsa” di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Senin (15/6/2015).

Penandatanganan yang didasarkan itikad para mahasiswa Islam Indonesia untuk turut berkontribusi pada pembangunan umat-bangsa Indonesia itu dilakukan empat pimpinan organisasi mahasiswa.

Keempatnya, M Arief Rosyid (PB Himpunan Mahasiswa Islam), Aminuddin Ma’ruf (PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Andriyana (PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), dan Beni Pramula (DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Penandatanganan piagam sendiri dilakukan atas inisiatif Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN (DEMA FISIP) Jakarta diawali kegiatan Konsorsium Islam dan Kebangsaan bertajuk “Cetak Biru Organisasi Kemahasiswaan Islam demi Menyongsong Indonesia yang Adil dan Berkeadaban”.

Kegiatan dibuka Guru Besar Fakultas Ushuluddin Prof Dr Nasaruddin Umar MA disaksikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan (Warek III) Prof Dr Yusron Razak MA.

Dalam sambutannya, Nasaruddin mengungkapkan, agama dan negara-kebangsaan selalu memiliki hubungan erat dalam konteks Islam. Salah satu manifestasi relasi keduanya adalah munculnya gagasan ‘syura’-krasi‘ bahwa demokrasi dan agama (Islam, red.) bisa berjalan seiring.

“Pemikiran ini-lah yang membuat Islam Indonesia menarik untuk dilirik masyarakat luar, sebagai objek pembelajaran, serta sebagai subjek yang mencetuskan banyak pemahaman-pemahaman baru yang selaras dengan perkembangan zaman,” paparnya.

Senada dengan Nasaruddin, keempat pimpinan organisasi kemahasiswaan Islam berpendapat bahwa Islam dan negara memiliki relasi yang cukup erat baik secara terlembagakan dan tidak. Salah satunya Pancasila dimana Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan adanya hubungan keagamaan dan negara.

Lebih jauh, keempat pimpinan organisasi kemahasiswaan Islam juga sepakat adanya pekerjaan rumah yang harus dikerjakan masyarakat Muslim dalam konteks kebangsaan di Indonesia. Andriyana, misalnya, mengatakan pemuda dan mahasiswa Islam harus jadi garda terdepan dalam pembangunan sosial politik dan ekonomi ummat-bangsa.

“Kita adalah pewaris umat Islam Indonesia dan kita berkewajiban untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia, membangun kejayaan,” imbuh Beni Pramula. (Risa R/Lutfi R Fikri)