30 Santri Jogja Ikrarkan Perdamaian

Yogyakarta, BERITA UIN Online— Puluhan santri melakukan deklarasi perdamaian sebagai bagian perayaan hari santri yang jatuh pada 22 Oktober lalu. Deklarasi dilakukan setelah para santri memperoleh training HAM dan Perdamaian dalam Perspektif Islam dari Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta di Yogyakarta, Rabu-Minggu (21-25/10).

“Tepat tanggal 22 Oktober seluruh peserta training melakukan deklarasi damai sebagai wujud keikutsertaan dalam peringatan hari santri. Ini komitmen kita untuk menyebarkan virus demokrasi dan toleransi yang harus dijunjung tinggi oleh semua pihak,” ungkap Idris Hemay, Sekretaris Program Pesantren for Peace (PFP) CSRC UIN Jakarta kepada BERITA UIN Online, Rabu (28/10).

Deklarasi yang dibacakan berisi pernyataan untuk berpegang teguh dan senantiasa siap mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika; bertanggungjawab untuk senantiasa mengkaji, menghayati, mengamalkan, dan mengembangkan ilmu-­ilmu warisan para ulama; turut serta mewujudkan negara yang berdaulat, pembangunan yang berkeadilan, kebudayaan yang dinamis, saling menghormati, dan turut serta menjaga perdamaian Indonesia dan dunia dengan semangat Islam yang rahmatan lil alamin.

Idris menambahkan, melalui ikrar yang disampaikan diharapkan santri kini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Terlebih pengalaman sejarah mencatat, santri menjadi elemen paling loyal dalam mendirikan dan membela keutuhan NKRI. “Resolusi jihad yang digelorakan oleh KH Hasyim Asyari kepada para santri untuk melawan penjajahan menjadi bukti bahwa santri berperan besar dalam mewarnai perjalanan bangsa ini,” tambahnya.

Sementara itu, bekerjasama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan masyakarat Uni Eropa, CSRC UIN Jakarta menyelenggarakan training bertajuk Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam di Hotel Jambuluwuk, Yogyakarta(21-25/10). Total 30 santri dari 30 Pesantren di DI Yogyakarta menjadi peserta kegiatan.

“Training ini diharapkan membentuk mental dan kepribadian santri agar mampu menyelesaikan konflik dengan damai, selain itu santri diharapkan mampu memahami HAM dan melaksanakannya,” tambah Idris.

Selain training, para santri juga diajak melakukan kunjungan ke Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Kunjungan ini diharapkan mampu Memberikan pengalaman ke-30 santri untuk belajar bagaimana menciptakan perdamaian. Selain itu, para santri diminta menuliskan laporan kunjungan dengan melakukan wawancara. (TAM)